Motif Batik Malangan

Masyarakat Indonesia tentu sudah tidak asing lagi mendengar batik. Bahkan sejak tanggal 2 Oktober yang lalu, masyarakat dunia melalui United Nations Educational, Scientific and Cultural Organisation (UNESCO) memberikan pengakuan terhadap batik sebagai salah satu warisan budaya Indonesia di mata dunia.

Batik sebenarnya sudah menjadi tradisi bangsa Indonesia sejak jaman dahulu dan masih bertahan hingga kini. Dalam perjalanannya, batik di Indonesia memiliki ragam motif yang dipengaruhi budaya di setiap daerahnya. Hampir setiap daerah di Indonesia memiliki ciri khas batiknya masing-masing, diantaranya Solo, Yogyakarta, Pekalongan, Madura, dan kalimantan.

Untuk itulah, Kota Malang turut berupaya untuk menemukan ciri khas batik Malangan. Batik khas Malangan tersebut pertama kali diperkenalkan kepada masyarakat dalam HUT Kota Malang pada 1 April 2008 lalu oleh Tim Penggerak PKK Kota Malang. Untuk memperoleh ciri khas batik Malangan tersebut, satu tahun sebelumnya, PKK Kota Malang terlebih dahulu menggelar sayembara motif batik Malang. Melalui sayembara tersebut diharapkan dapat ditemukan motif batik yang mampu menjadi ciri khas batik Malangan. Terdapat tiga acuan dalam penilaian sayembara tersebut, antara lain adanya keterkaitan budaya dan tradisi, keserasian elemen desain, dan kreatifitas.

Nurhajati yang menjadi salah satu juri dalam sayembara tersebut menyebutkan terdapat lima karya yang terpilih menjadi pemenang, antara lain batik Singaparna, batik Tugu Teratai, Batik Malang Ijo Royo-Royo, dan batik Parang Tugu dan Teratai.

”Sebenarnya Malang sejak masa Kerajaan Kanjuruhan maupun Kerajaan Singosari telah memiliki ciri khas batiknya, namun karena pada masa itu Malang sebagai pusat kekuasaan yang mengedepankan ilmu kanuragan dan kadigdayaan untuk mendukung stabilitas kekuasaan sehingga perkembangan batik justru terabaikan,” papar Hj. Dr. Nurhajati, SE.,MS., pendiri AntiQue House of Batik & Kebaya yang berlokasi di jalan Pekalongan Malang.

Motif batik yang menjadi ciri khas Malangan tersebut dapat diperoleh dari candi-candi yang merupakan peninggalan Kerajaan Kanjuruhan dari abad ketujuh. ”Salah satu motif yang menjadi ciri khas Malangan tersebut adalah motif bunga teratai, kalau kita mau memperhatikan, kita akan menemukan gambar teratai di candi manapun di Kota Malang.” Ungkap wanita yang tergabung dalam komunitas Pecinta Batik Indonesia Sekar Jagat Yogyakarta tersebut.

Menurut Dwi Cahyono, Ketua Dewan Kesenian Kota Malang (DKM) yang juga menjadi tim penggali batik Malangan, terdapat tiga komponen yang menjadi ciri khas batik Malangan. Ketiga komponen itu yakni; komponen dasar, motif pokok, dan motif hias. Unsur yang diambil untuk komponen dasar berasal dari motif yang terdapat di candi Badut, salah satu peninggalan kerajaan Kanjuruhan. Komponen kedua sebagai motif pokok berupa gambar tugu yang diapit rambut singa pada sisi kiri dan kanannya. Gambar tersebut berasal dari singa yang menjadi lambang Kota Malang serta tugu di depan balai kota Malang, yang juga merupakan salah satu ikon kota Malang. Sedangkan motif hias berupa sulur-sulur bunga yang dimaksudkan untuk menggambarkan Malang sebagai kota bunga.

Batik Malangan dengan motif pokok bergambar tugu dan singa itu saat ini telah diajukan hak patennya oleh Pemerintah Kota Malang. Motif tersebut diperoleh dari re-desain hasil karya lima besar pemenang sayembara batik khas Malang yang dipamerkan dalam acara Malang tempo Doeloe tahun 2007. ”Motif batik Malangan yang sedang diajukan hak patennya tersebut merupakan kombinasi dari hasil lima karya terbaik dalam lomba batik khas Malang yang diselenggarakan beberapa waktu yang lalu.” Tutur yayuk, salah satu pengurus Tim penggerak PKK Kota Malang saat ditemui New Indonesia di sekretariatnya.

Meskipun saat ini telah ada pengajuan hak paten, masyarakat Kota Malang tidak boleh berhenti sampai disini untuk mengembangkan batik Malangan. Menurut Romdhoni, salah satu pengajar kompetensi membatik di SMKN 5 Malang, motif batik Malangan masih harus terus dikembangkan. ”Kami terus berusaha mengembangkan motif batik Malangan, mulai dari motif sukun, teratai, sampai dengan tugu,” ungkap Wakasek Kesiswaan itu.

Sebenarnya, sebelum Pemerintah Kota Malang mengajukan hak paten untuk motif batik Malangan bergambar singa dan tugu itu, terdapat motif batik Malangan yang sebelumnya juga memperoleh hak paten dari Departemen Hukum dan HAM, yakni motif Bukit Sinar karya Nurhajati. Motif tersebut diambil dan dikembangkan dari gambar yang terdapat pada candi-candi peninggalan Kerajaan Singhasari. ”Saya memperoleh motif Bukit Sinar dari penelitian yang sebelumnya saya lakukan di relief candi-candi yang berada di Kota Malang, khususnya relief candi peninggalan Kerajaan Singhasari.” Jelas guru besar Unisma itu.

(Artikel ini sebelumnya telah dimuat dalam Majalah New Indonesia, November 2009)