TEORI BELAJAR

Pengertian Belajar

Manusia tidak pernah terlepas dari kegiatan belajar dalam setiap aktifitas kehidupannya. Belajar dapat diartikan sebagai proses dari tidak tahu menjadi tahu yang dapat menyebabkan adanya perubahan  perilaku. Perubahan perilaku itulah yang menjadi inti dari belajar itu sendiri, atau bisa disebut juga sebagai hasil belajar. Perubahan perilaku tersebut relatif menetap, namun dapat berubah apabila ada proses belajar yang lain.

Perubahan perilaku melalui hasil latihan dan pengalaman yang merupakan pengaruh dari proses belajar dapat muncul pada saat itu juga, atau bisa menjadi potensi yang muncul tidak pada saat itu juga.

Pengertian Teori Belajar

Teori belajar merupakan upaya untuk mendeskripsikan bagaimana manusia belajar, sehingga membantu kita semua memahami proses inhern yang kompleks dari belajar. Ada tiga perspektif utama dalam teori belajar, yaitu Behaviorisme, Kognitivisme, dan Konstruktivisme. Pada dasarnya teori pertama dilengkapi oleh teori kedua dan seterusnya, sehingga ada varian, gagasan utama, ataupun tokoh yang tidak dapat dimasukkan dengan jelas termasuk yang mana, atau bahkan menjadi teori tersendiri. Pemahaman yang penting untuk meningkatkan kualitas pembelajaran adalah teori mana yang baik untuk diterapkan pada situasi dan kondisi tertentu, serta teori mana yang sesuai untuk situasi dan kondisi yang lain.

A. Behaviorisme

Behaviorisme berasal dari kata behave yang berarti perilaku dan isme yang berarti aliran. Secara etimologi, behaviorisme dapat kita artikan sebagai aliran yang mempelajari perilaku. Behaviorisme dapat didefinisikan sebagai pendekatan dalam psikologi yang didasarkan atas proposisi atau gagasan awal bahwa perilaku dapat dipelajari dan dijelaskan secara ilmiah.

Karakteristik esensial dari pendekatan behaviorisme terhadap belajar adalah pemahaman terhadap kejadian di lingkungan untuk memprediksi perilaku seseorang.  Fokus behaviorisme adalah respon terhadap berbagai tipe stimulus. Dalam pendekatan ini manusia bersifat statis, jadi dia dibentuk oleh lingkungan.

Beberapa tokoh yang memiliki pengaruh kuat dalam aliran ini adalah Ivan Pavlov dengan teorinya yang disebut Classical Conditioning, BF Skinner dengan teorinya Operant Conditioning, John B Watson dengan teorinya behavioris S-R (Stimulus Respons), dan Edward Thorndike dengan teorinya Law of Effect.

  1. Teori Pengkondisian Klasik (Classical Conditioning) oleh Ivan Pavlov

Teori ini disebut juga learned reflexes atau refleks karena latihan, sebagian ahli juga menyebutnya sebagai teori belajar asosiatif. Teori ini ditemukan di dekade 1890-an, namun baru diterbitkan pada tahun 1927 dalam Conditioned reflexes: An Investigation of the physiological Activity of the Cerebral Cortex.

a.       Percobaan Pavlov

Percobaan tersebut dilakukan pada seekor anjing, kegiatannya adalah memberi makan anjing eksperimen dan mengukur volume air liur anjing tersebut di waktu makan. Setelah prosedur yang sama dilakukan beberapa kali, ternyata anjing tersebut mengeluarkan air liur sebelum menerima makanan. Pavlov menyimpulkan bahwa beberapa stimulus baru seperti pakaian peneliti yang serba putih, telah diasosiasikan oleh anjing tersebut dengan makanan sehingga menimbulkan respons keluarnya air liur.

Proses conditioning biasanya mengikuti prosedur umum yang sama. Misalkan seorang pakar psikologi ingin mengkondisikan seekor anjing untuk mengeluarkan air liur ketika mendengar bunyi lonceng. Sebelum conditioning, stimulus tanpa pengkondisian (makanan dalam mulut) secara otomatis menghasilkan respons tanpa pengkondisian (mengeluarkan air liur) dari anjing tersebut. Selama pengkondisian, peneliti membunyikan lonceng dan kemudian memberikan makanan pada anjing tersebut.

Bunyi lonceng tersebut disebut stimulus netral karena pada awalnya tidak menyebabkan anjing tersebut mengeluarkan air liur. Namun, setelah peneliti mengulang-ulang asosiasi bunyi lonceng-makanan, bunyi lonceng tanpa disertai makanan akhirnya menyebabkan anjing tersebut mengeluarkan air liur. Anjing tersebut telah belajar mengasosiasikan bunyi lonceng dengan makanan. Bunyi lonceng menjadi stimulus dengan pengkondisian (conditioning Stimulus/CS), dan keluarnya air liur anjing disebut respons dengan pengkondisian (Unconditioning Stimulus/UCS).

b.      Prinsip Pengkondisian Klasik Pavlov

Terdapat empat proses dalam teori ini, antara lain:

1)      Fase Akuisisi (fase dengan pengkondisian)

2)      Fase Eliminasi (fase tanpa pengkondisian)

3)      Generalisasi

4)      Diskriminasi

c.       Penjelasan Teori Pengkondisian Klasik Pavlov

Teori ini membentuk perilaku tertentu dengan stimulus tertentu yang pada awalnya tidak menimbulkan respon apapun. Di dalam teori ini dikenal pula extintion atau pemadaman, yaitu eliminasi/pemadaman terhadap stimulus dengan pengkodisian yang telah dibentuk sebelumnya, atau dengan kata lain eliminasi respons kondisi dengan mengulang-ulang stimulus kondisi tanpa stimulus utama.

Sebagai contoh anjing yang telah dikondisikan keluar sir liur saat mendengar lonceng, kemudian diperdengarkan lonceng tanpa diberikan makanan. Prosedur tersebut dilakukan secara berulang-ulang sehingga akhirnya anjing tersebut tidak akan lagi mengeluarkan air liur saat mendengarkan bunyi lonceng.

Teori ini lebih tepat digunakan untuk mahluk hidup yang memiliki perkembangan kognitif belum optimal/pemikiran yang belum kompleks.

  1. Teori Pengkondisian Disadari (Operant Conditioning) oleh BF Skinner

Operant conditioning merupakan suatu tipe belajar yang melibatkan penguatan dan hukuman.

  1. Teori Stimulus Respons oleh John B Watson
  2. Hukum Efek dan Teori Koneksionisme oleh Edward Thorndike

B. Kognitivisme

Kognitivisme berpendapat bagaimana manusia memproses dan menyimpan informasi sangat penting dalam proses belajar. Menurut kognitivisme, belajar melibatkan proses mental yang kompleks, termasuk memori, perhatian, bahasa, pembentukan konsep, dan pemecahan masalah. Kognitivisme tidak menolak seluruh gagasan dari behaviorisme namun lebih pada perluasan, khususnya pada gagasan eksistensi keadaan mental yang bisa mempengaruhi proses belajar.

Berbeda dengan Behaviorisme yang menganggap manusia bersifat statis, dan dibentuk oleh lingkungan. Dalam kognitivisme manusia dianggap mampu mengendalikan diri dari pengaruh lingkungan.

  1. Teori Belajar Sosial

Disebut juga teori belajar mencontoh, atau social kognitif. Dalam teori belajar sosial ini suatu perilaku yang diinginkan atau ingin dibentuk dapat dihasilkan dengan peniruan/modeling dengan cara observasi.

  1. Teori Belajar Kognitif

C. Konstruktivisme

Konstruktivisme memandang belajar sebagai proses dimana pembelajar secara aktif mengkonstruksi atau membangun gagasan-gagasan atau konsep-konsep baru didasarkan atas pengetahuan yang telah dimiliki di masa lalu atau ada pada saat itu. Konstruktivisme berpendapat belajar melibatkan konstruksi pengetahuan seseorang dari pengalamannya sendiri oleh dirinya sendiri. Jadi, belajar merupakan usaha keras yang sangat personal, sedangkan internalisasi konsep hukum, dan prinsip-prinsip umum sebagai konsekuensinya seharusnya diaplikasikan dalam konteks dunia nyata.