INTELIGENSI

 

Menurut David Wechsler, intelegensi adalah kemampuan untuk bertindak secara terarah, berpikir secara rasional, dan menghadapi lingkungan secara efektif. Menurut Spearman, kecerdasan ialah kemampuan umum untuk berpikir dan menimbang. Sedangkan Thurstone berpendapat bahwa kecerdasan adalah suatu rangkaian yang terpisah. Kemampuan-kemampuan seperti kemampuan numerik, ingatan, dan kefasihan berbicara bersama-sama membentuk perilaku pandai.

Dari berbagai pengertian diatas, dapat kita definisikan intelegensi sebagai kemampuan berpikir abstrak, kemampuan menyesuaikan diri dengan tugas-tugas baru, atau kemapuan melakukan aktivitas yang mengundang tantangan, tingkat kesulitan dan lain sebagainya. Intelegensi juga dapat kita artikan sebagai kemampuan adaptasi dan pemecahan masalah, fokus, dan fleksibel (memiliki alternatif lain dalam pemecahan masalah).

Glover dan Bruning (1990) membagi teori intelegensi menjadi dua, yaitu teori intelegensi yang dikemukakan pakar psikometri dan teori intelegensi yang dikemukakan pemrosesan informasi. Secara garis besar, pakar psikometri menekankan pada bagaimana mengukur intelegensi dan memprediksi prestasi lain seperti pembelajaran di kelas. Sedangkan pakar pemrosesan informasi lebih menekankan pada proses berpikir.

Aspek-aspek pembentuk intelegensi menurut Spearman ada dua faktor yaitu faktor G dan faktor S. Faktor G adalah General Abillity yaitu kemampuan umum, sedangkan faktor S adalah Speciallity Abillity yaitu kemampuan khusus.

Sedangkan Thurstone berpendapat aspek-aspek  tersebut terdiri dari multifactor, meliputi faktor kemampuan verbal, faktor kemampuan dalam kosakata, faktor kemampuan dalam ingatan, faktor kemampuan dalam hitungan/numberik, faktor kemampuan dalam pengamatan 3D, faktor kemampuan dalam penalaran, serta faktor kemampuan ketepatan dalam pengamatan panca indera (perseptual).

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi intelegensi, yaitu: lingkungan tempat tinggal, genetik, kondisi fisik/kesehatan, dan status sosial/ekonomi.