SERIGALA BULAN PURNAMA

Oleh

Rendra Fatrisna K

Matahari mulai tenggelam, warna jingga menghiasi cakrawala. Dari jendela kamarku yang berlapis kaca bening, aku menikmati suasana senja desa ini yang indah seperti hari-hari sebelumnya.

Sam,” panggil Paman Horton dari ambang pintu kamar. ”Nanti malam bulan purnama, aku bersama Inspektur Paul akan berpatroli di sekitar desa, kau jaga diri baik-baik dirumah,” katanya padaku. ”Samuel, jangan lupa kunci semua pintu, selain aku jangan biarkan siapapun masuk,” tambah Paman Horton sebelum berpaling.

Paman,” kataku menghentikan langkahnya. ”Benarkah serigala jadi-jadian itu memang benar-benar ada?” Paman Horton kembali menatapku. ”Kau tahu sendiri kan? Bulan lalu tiga orang warga desa kita tewas diterkam oleh serigala jadi-jadian itu,” Aku hanya mengangguk mendengar penjelasan pamanku itu. Tapi dalam hati aku masih meragukan jika kejadian bulan lalu merupakan bukti kebenaran dari mitos desa ini.

Malam ini aku punya firasat buruk, sebaiknya Paman tinggal saja dirumah,” kataku. ”Sam, kau harus mengerti, Pamanmu ini adalah kepala desa disini, jadi akulah yang bertanggung jawab terhadap segala sesuatu yang terjadi didesa ini,” Paman Horton menghampiriku kemudian menepuk bahuku. ”Jika kau sudah dewasa dan masih tinggal di desa ini, kaulah yang akan menjadi penerusku Samuel,” Aku menunduk, tak tahu harus menjawab apa.

Mr. Horton,” seru seorang berseragam polisi dari depan pintu kamarku. ”Sebaiknya kita segera berangkat Sir,” tambahnya kemudian. ”Salah seorang anak buah saya menemukan sebuah gua kecil ditepi hutan, yang disinyalir itu merupakan tempat persembunyian mahluk buruan kita,” Paman Horton mengerutkan keningnya mendengar penjelasan polisi itu. ”Baiklah,” Akhirnya dia berguman.

Nah Sam, berhati-hatilah dirumah, jangan lupa mengunci semua pintu dan jendela,” Setelah mengacak-acak rambutku Paman Horton bergegas mengikuti langkah polisi itu sambil menenteng senapan tuanya. ”Paman, jaga dirimu,” ucapku lirih.

Jam dinding ruang tamu berdentang sebelas kali saat aku mulai menutup lembaran terakhir majalah yang ada dipangkuanku. Aku menguap lebar menahan kantuk yang mulai menyerang. Malam ini begitu hening, tampaknya diluar sana tidak terjadi apa-apa. Aku menghembuskan nafas lega, semoga saja alam ini memang tidak terjadi apa-apa didesa ini.

Aku beranjak bangkit dari tempat tidur, setelah menaruh majalahku keatas meja, kubuka tirai jendelaku yang kotor penuh debu. Pemandangan diluar sangat gelap dan menakutkan, aku tidak dapat membayangkan dimana dan sedang apa Paman Horton bersama para aparat desa itu. ”Semoga tidak terjadi sesuatu yang buruk dengan mereka,” Aku berkata pelan.

Paman Horton adalah satu-satunya krabatku didesa ini, sementara kedua orang tuaku sudah delapan tahun berada di timur tengah untuk suatu penelitian, mereka adalah seorang arkeolog. Aku sungguh tak tahu, jika sampai terjadi hal yang buruk dengan pamanku, entah dengan siapa lagi aku harus tinggal.

Aku mengibaskan kepalaku saat pikiran=pikiran buruk mulai berseliweran didalamnya. Mungkin sebaiknya aku tidur, kataku dalam hati. Aku kembali berpaling hendak melangkah menuju tempat tidur saat tiba-tiba muncul perasaan aneh dalam diriku. Jantungku berdegup kencang, serentak aku berbalik kearah jendela. Keringat dingin mengalir dari sekujur tubuhku, apa yang terjadi? Jantungku berdegup semakin tak teratur.

Mataku menyapu kedalam kegelapan malam dari balik jendela kamar yang berlapis kaca tipis itu, dan pandanganku berhenti pada satu titik cahaya dilangit, sebuah bulan purnama. Mataku dengan liar menatap cahaya bulan yang menyala redup. Tubuhku mulai terasa panas, kulitku terasa perih, hingga akupun jatuh berlutut didepan jendela. Sementara mataku masih tetap tertuju pada bulan yang menyala jingga di langit.

Aku mulai merasakan sesuatu pada tubuhku, suatu perubahan yang besar. Bulu-bulu hitam mulai tumbuh disekujur tubuhku. Kini aku percaya bahwa mitos itu memang benar, serigala jadi-jadian itu memang benar-benar ada. ”Roaar!!” aku meraung keras saat tubuhku menerpa kaca jendela kamarku hingga hancur berkeping-keping.

Aku berdiri diatas empat kakiku dengan garang, ekorku meliuk-liuk ke kiri dan ke kanan. ”Roaar!!!” Dari halaman rumah pamanku yang luas aku kembali meraung keras sambil menatap bulan purnama. Aku merasakan rasa lapar yang luar biasa, kenudian aku berlari kearah hutan untuk mencari mangsa.

TAMAT

FRIGHT PAGES