Apa yang kau lakukan bila suatu malam kau kehujanan ditengah jalan?

Mungkin kaupun akan sama sepertiku, yaitu berteduh dirumah seseorang untuk menunggu hujan reda. Tapi ku ingatkan, berhati-hatilah jika mampir ke rumah seseorang yang belum kita kenal. Jangan sampai kau bertamu ke tempat yang salah…

Oleh

RENDRA FATRISNA K

Deru hujan meraung-raung menghiasi malam yang dingin mencekam. Gemrisik air hujan yang menerpa dedaunan pinus memenuhi hutan, awan kelabu merayap perlahan menjadi naungan hutan pinus yang lembab, dari sela-sela awan tebal yang menggantung, cahaya sang ratu malam menerobos remang.

Dari dalam kegelapan malam, sesosok tubuh berlari menelusuri jalan setapak yang penuh lumpur, sementara tubuhnya yang jangkung terguyur derasnya air hujan. Derap langkahnya yang tak beraturan diiringi percikan air lumpur, dengan nafas tersengal-sengal pemuda yang biasa dipanggil Kevin itu berhenti sesaat, dibawah sorot rembulan tampak seulas senyuman mengambang dibibirnya.

Matanya berbinar memandang sebuah rumah tua yang berdiri dengan kokoh dihadapannya. Dengan penuh semangat Kevin mempercepat larinya dan berhenti tepat didepan bangunan itu. ”Permisi!..ada orang didalam?” Kevin mengetuk pintu kayu yang tampak kokoh tersebut, hening, tak ada jawaban. Dengan penuh harap, Kevin mencoba untuk mengetuknya lagi namun sebelum dia melakukannya pintu jati itu telah menganga lebar. Seberkas sinar redup menerobos keluar menyilaukan mta. Kevin mengerjap-ngerjapkkan matanya untuk menyesuaikan diri terhadap cahaya itu.

Diambang pintu berdiri sesosok lelaki tua menghadangnya, setelah mengamati Kevin sesaat, pria itu menyapanya ”Siapa kau?” tanyanya ”Dan ada perlu apa?” suaranya yang parau terkesan tidak senang. ”M-maaf, bolehkan saya numpang berteduh Pak?” tanya Kevin ragu-ragu. Setelah melirik kearah curahan hujan yang demikian deras, lelaki tua itu kembali memandang Kevin, kali ini dengan pandangan iba.

Mari masuk..” ajak tuan umah, melunak. ”terima kasih Pak” jawab Kevin seraya bergegas masuk mengikuti lelaki itu dari belakang. Kevin memandang berkeliling, rumah itu memang sederhana tapi tampak terlihat rapi dan sedikit berkesan ….seram!. ruang tamu yang luas dan hanya diterangi oleh sebuah bola lampu, dengan perabotan yang sangat sedikit, yaitu hanya sebuah meja bambu yang dikelilingingi tiga pasang kursi rotan.

Siapa namamu nak? Dan apa yang kau lakukan malam-malam begini ditengah hutan?” tanya pria itu setelah mempersilahkan duduk. ”panggil saja saya Kevin, begini Pak, tadi sore saya berangkat untuk berkemah dengan kawan-kawan, tapi saya terpisah dari rombongan dan tersesat hingga kemari,” jelas Kevin. ”Oh, jadi begitu toh ceritanya, baiklah, kalau kau mau, malam ini kau boleh menginap disini,” lelaki tua itu menawarkan. ”Terima kasih Pak, tapi malam ini saya harus meneruskan perjalanan, saya rasa tak jauh dari sini sudah ada pemukiman penduduk,” pemilik rumah itu tersenyum ”Kalau itu menurutmu lebih baik, aku tidak memaksa. Setelah hujan reda kau berjalanlah ke arah utara, nanti kau akan menemukan sebuah desa,” kemudian dia melanjutkan ”Kau bisa minta tolong pada aparat setempat untuk mengantarmu pulang, kurasa mereka tidak akan keberatan”.

Anda benar Pak,” jawab Kevin dengan kikuk ”kalau boleh tahu siapa nama anda?” tanyanya kemudian, sekedar berbasa-basi. Lelaki tua itu tersenyum, kemudian menjawab ”Namaku Albert Hulton, tapi orang-orang memanggilku Pak Alt, dan aku suka panggilan itu.” Kevin tersenyum ramah.

Mau secangkir coklat panas?” tawar Pak Alt. ”Wah, saya tampaknya jadi merepotkan anda,” Kevin menjawab simpul. Seraya tersenyum bijak, Pak Alt beranjak meninggalkan ruang tamu ”tunggu sebentar, nak”.

Suasana kembali sunyi, pandangan Kevin menyapu seluruh ruang tamu, mencari kesibukan. Setumpuk koran tergeletak disalah satu kursi rotan yang paling ujung, diraihnya koran itu, tampak bagian tepinya telah menguning dimakan waktu. Edisi tahun 1994, sudah lama sekali, sudah lima tahun, pikir Kevin menyimpulkan. Dipicingkannya matanya, untuk mencoba membaca dalam sebuah cahaya remang.

Dihalaman pertama pada headline, terpampang sebuah foto seorang pria. ”Hei, bukankah itu Pak Alt,” Kevin berseru tertahan. Dengan rasa ingin tahu, dibacanya sebuah artikel kecil disamping foto itu. ”SEORANG PRIA TERBUNUH, New Jersey, sesosok mayat ditemukan dalam keadaan tragis dengan kepala yang terpisah dari tubuhnya. Dari kartu identitas yang ditemukan, lelaki tua itu diketahui bernama Albert Hulton. Motif pembinuhan tersebut belum diketahui secara pasti, dugaan sementara dari kepolisian bahwa kasus ini merupakan pembunuhan berencana. Hingga berita ini ditulis pihak yang berwajib belum menemukan titik terang,..”.

Kevin terperanjat seketika, keringat dingin membasahi sekujur tubuhnya, lututnya gemetar ketakutan. ”Ada apa Kevin?” sebuah suara terdengar begitu dekat dengan telinganya, pemuda itu menoleh, dan sekali lagi dia terperanjat. Dengan membawa secangkir coklat panas, tampak Pak Alt menghampiri Kevin diruang tamu. ”Nak, ini cepat kau minum nanti keburu dingin,” katanya tanpa memperdulikan ekspresi Kevin. Sementara pemuda itu ternganga ketakutan. Diliriknya sekali lagi foto yang terpampang dikoran usang itu, tak salah lagi bahwa itu memang Pak Alt, tak salah lagi bahwa Pak Alt sebenarnya sudah meninggal, pikir Kevin dengan wajah pucat pasi.

Ada apa denganmu nak?” setelah meletakkan cangkir coklat itu diatas meja Pak Alt mendekati Kevin yang masih tak bergerak karena ketakutan. Meski sorot bola lampu tampak redup, terlihat jelas sesuatu dibagian bawah leher Pak Alt, sebuah bekas luka, bekas jahitan.

Kevin surut kebelakang, lidahnya seakan-akan kelu untuk berteriak, kakinya terlalu berat untuk melangkah. Sebelum akhirnya pemuda itu terlompat kebelakang. ”Setaan!!” suaranya nyaring memecah deru hujan, detik itu juga Kevin melesat kearah pintu dan tanpa menoleh lagi, dia berlari keluar dari rumah Pak Alt, menerobos guyuran hujan lebat, berlari sejadi-jadinya. Yang ada dipikirannya hanya berlari, berlari, dan berlari untuk menyelamatkan diri.

Dari sela-sela gemerisik air hujan, terdengar suara tawa dari rumah Albert Hulton ditengah pohon pinus itu, tawa jahat.

TAMAT

FRIGHT PAGES