Aku tidak mengerti, kenapa Kakek selalu melarangku untuk melihat isi gudang tua itu. Namun larangan Kakek itu justru membuatku semakin ingin tahu apa isi didalamnya. Dan aku selalu berusaha pula mencari kesempatan untuk menyelinap ke gudang itu. Ketika saat itu tiba…, mungkin benar perkataan Kakek. Aku sebaiknya tak perlu tahu apa isi didalam gudang itu.

Oleh

RENDRA FATRISNA K

Angin panas berhembus menerpa tubuhku, sementara matahari memancarkan sinarnya yang terik. Dari bawah sebatang pohon yang mulai kering, aku menatap hamparan padi yang sudah menguning. Aku sedang duduk termenung menikmati suasana awal musim panas di salah satu kota kecil di negara bagian. Di sinilah tempat tinggal Kakekku dan yang akan menjadi tempat tinggalku juga. Sudah hampir sepekan aku berada di kota kecil ini, Jauh dari Mal, dari gedung bioskop dan dari teman-temanku.

Setelah Ibu meninggal aku tak punya kerabat lagi di New Jersey, itulah sebabnya Kakek mengajakku tinggal di kota ini. Lagi pula Kakekku adalah satu-­satunya keluargaku yang masih hidup. Sementara Ayahku, aku bahkan tak pernah mengenalnya, kata Ibuku ayah meninggal saat aku masih berada dalam kandungan, Beliau meninggal disebabkan oleh suatu kecelakaan pesawat. Bahkan aku juga tak memiliki foto ayahku, kata Ibu beliau tidak suka dipotret, kadang-kadang aku juga membayangkan seperti apa wajah Ayahku.

Nick! Saat makan siang kau harus segera pulang!” seru Kakek dari kejauhan, aku tersadar dari lamunanku. “Aku akan pulang lebih dulu!” tambahnya kemudian “Baiklah nanti aku akan segera menyusul!” teriakku. Setelah Kakek beranjak untuk pulang, aku kembali duduk merenung di bawah pohon.

Mataku menyapu bentangan ladang didepanku dan dikejauhan tampaklah sebuah bangunan kayu yang kokoh di antara serumpun ilalang yang tumbuh hampir setinggi dada. “Nick, kau boleh berkeliling diseluruh pekarangan tapi ingat, jangan sekali-kali kau mendekati gudang tua di tepi ladang itu” aku teringat akan pesan Kakek, dia melarangku untuk mendekati gudang tua itu, ada apa disana? aku sering bertanya-tanya dalam hati dan aku selalu ingin mengetahui isi gudang itu.

Mungkin inilah kesempatanku, aku berkata dalam hati. Kakek telah pulang, kini tinggal aku sendiri disini, tak ada salahnya bila aku melihat kesana, putusku. Berikutnya aku sudah mulai melangkah menuju gudang tua itu dan aku baru menghentikan langkahku tepat saat aku berada di hadapan gudang tua itu. Sebuah bangunan kayu yang kokoh, meski usianya tampak tua dan kurang terawat tapi bangunan itu sama sekali tak terlihat rapuh.

Perlahan aku mencoba membuka pintu depan tapi gagal, pintunya terkunci seperti sudah bertahun-tahun tak pernah dibuka. Aku melangkah mundur, pandanganku mengamati setiap lekuk dari bangunan tua itu. Akhirnya aku menemukan apa yang kucari, sebuah celah di bawah lubang udara di dinding samping. Celah itu memang tidak besar tapi, cukup untuk memasukkanku ke dalam gudang. Sebelum mencobanya kuamati sekelilingku, setelah yakin tidak ada yang melihatku, aku menerobos masuk. Perlu waktu beberapa saat bagi mataku untuk membiasakan diri di dalam ruangan itu, hanya sedikit sinar matahari yang berhasil menyelinap masuk membuat suasana tampak samara-samar.

Roaar!!” raungan itu terdengar tepat di belakangku, jantungku seakan terlompat keluar. Aku terperanjat kaget, butiran keringat dingin mengucur dari keningku, aku berpaling perlahan ke arah asal suara. Apa yang kulihat berikutnya tidak akan pernah kulupakan dalam hidupku.

Sesosok mahkluk yang mengerikan tengah berdiri disana, tubuhnya yang bongkok dipenuhi bulu-bulu kaku, dia menatapku. Lalu dia menyeringai, taringnya yang tajam berkilat dalam cahaya remang. Lidahku terasa kelu, tubuhku kaku saking takutnya. “Siapa kau?” suaranya yang parau disemburkan kepadaku. Tenggorokanku tercekat, suaraku sulit untuk keluar, aku perlu waktu beberapa menit untuk menguasai diriku lagi.

A-aku Nick Forest, kumohon jangan sakiti aku” jawabku dengan tergagap­ gagap. Mahkluk itu tampak terkejut mendengarnya, sesaat kemudian dia mengamati diriku, memandangku dengan teliti kemudian dia berkata “Tahukah kau, siapa aku Nick?” dia menatap wajahku tajam “Siapa kau?” aku sungguh tak menyangka akan mendapat pertanyaan itu. Aku Ayahmu” serunya. Aku terpaku tak bergerak “T-tidak mungkin!” suaraku gemetar tak karuan “Percayalah Nick, aku adalah ayahmu” kata makhluk itu dengan nada lebih lembut “Tidak!! tidak mungkin!!” aku berteriak ketakutan.

TAMAT

Fright Pages