Rendra Fatrisna Kurniawan
Rendra Fatrisna Kurniawan, dilahirkan pada 9 Maret 1984. Mulai mengeyam pendidikan di SD Negeri Bandung Rejosari III Malang hingga lulus pada tahun 1996, di SLTP Negeri 1 Malang hingga lulus pada tahun 1999, dilanjutkan di SMU Negeri 5 Malang sampai dengan lulus pada tahun 2002, dan saat ini sedang menempuh pendidikan di Universitas Negeri Malang.
Selama duduk dibangku SMU aktif dalam berbagai organisasi disekolahnya, pernah menjabat sebagai Ketua Umum Perisai Diri Cabang Malang Ranting SMUN 5 Malang tahun 2001/2002, Sekbid II Kehidupan Berbangsa dan Bernegara Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) tahun 2001/2002, Sekbid Dakwah dan Peribadatan Badan Dakwah Islam (BDI) tahun 2000/2001, serta pernah pula menjadi Pasukan Pengibar Bendera (PASKIBRA) SMUN 5 Malang.
Ketika telah memasuki perguruan tinggi, kembali aktif mengikuti berbagai kegiatan dan organisasi di kampusnya, antara lain menjadi anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang tahun 2002, Sekbid Penalaran Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Administrasi Pendidikan (AP) tahun 2003, Asisten Redaksi Majalah SIAR Unit Kegiatan Mahasiswa Penulis (UKMP) Universitas Negeri Malang tahun 2003, Komisi Aspirasi Dewan Mahasiswa Fakultas (DeMa) Fakultas Ilmu Pendidikan tahun 2005, Pemimpin Redaksi Cakrawala Newsletter tahun 2005, Pengawas Pemilihan Umum (Panwaslu) Fakultas Ilmu Pendidikan Univeritas Negeri Malang tahun 2005, dan Menteri Pengembangan Mahasiswa Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Negeri Malang tahun 2006.
Pada akhir tahun 2005 bersama beberapa orang teman dari Teater Junjung Budaya, dan FIP Voice turut serta mendirikan komunitas seni di Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang, yang selanjutnya diresmikan sebagai Lembaga Semi Otonom Organisasi Pecinta Seni Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang (OPIUM). Dalam organisasi ini sempat menjabat sebagai Koordinator Musik OPIUM tahun 2006, Pimpinan Redaksi OPIUM Newsletter tahun 2006/2007, dan Koordinator Dewan Pertimbangan Organisasi (DPO) OPIUM tahun 2007.
Pengalaman yang pernah diperoleh dari dunia kerja, antara lain adalah menjadi wartawan Supel Malang Post tahun 2001/2002, Reporter tabloid TiAmo Surabaya Post tahun 2001/2002, Redaksi Pelaksana Newsletter Mitra Komunikasi tahun 2003/2004. Pernah juga menerjuni design grafis di Coma Design tahun 2003/2004 dan Bright Work tahun 2005, kemudian sempat menjadi setting layout di beberapa majalah yakni Majalah Budaya Jawa Anggara Kasih tahun 2004/2005, Majalah Budaya Jawa Selogo Budaya tahun 2005, dan Majalah Tambulate tahun 2005.
Kemudian bekerja di Embrio Public Relation, menjabat sebagai Public Relation Officer PT. Radio Tritara Yaksa (TT 77) tahun 2004/2005, dan Public Relation Officer Bratan Resto&Cafe tahun 2005. Semenjak tahun 2006 bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil di instansi Pemerintah Kota Malang menjabat sebagai Operasional Satuan Polisi Pamong Praja Kota Malang.
Pengalaman lain yang pernah diikuti adalah sebagai Tim Formatur MUSCAB V Kelatnas Indonesia Perisai Diri Cabang Malang tahun 2001, pernah pula menjabat sebagai Sekretaris, Wakil Ketua, dan Ketua Karang Taruna RT 04 RW 01 Kelurahan Bandung Rejosari Kecamatan Sukun Kota Malang semenjak tahun 2001 hingga sekarang.
Pada tahun 2007 menjadi Koordinator Musik dalam Pekan Komik dan Animasi Nasional (PKAN) 6 yang diselenggarakan Direktorat Kesenian Ditjen Budaya, Seni, dan Film Departemen Kebudayaan dan Pariwisata. Pernah menyelesaikan beberapa naskah dan menjadi sutradara sekaligus aktor dalam opera dengan judul Roro Jonggrang, Cinderela, dan Rama Shinta. Beberapa kali menjadi panitia penyelenggara Parade Musik Underground diantaranya Musik Peduli Jogja, Parade Musik Underground Amal Aspirasi, Klaker#2 Working Class Party, Parade Musik dan Tatoo Klaker#3, dan lain sebagainya.
Prestasi yang pernah diraihnya adalah sebagai Juara III Silat Versi Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) kelas D Dewasa Putra tahun 2001, atlit IPSI Kontingen Kota Malang pada Pekan Olahraga Pelajar Daerah (POPDA) tahun 2000, dan sebagai atlit Kejuaraan Nasional Silat Perisai Diri antar Perguruan Tinggi XX tahun 2003.
Kegiatan lain yang juga masih aktif hingga sekarang adalah sebagai vokalis sebuah band bergenre Punk Rock bernama Malang Trauma Service, dan OPIUM. Saat ini bersama dua orang teman yakni Lubis Grafura dan Andreas S Palevi sedang mencoba menggagas komunitas Sinema yang disebut Padepokan Film Malang, dan sedang menggarap sebuah film perdana yang berjudul “Sandal Japit”. Selain itu saat ini juga mengelola tiga buah blog, yaitu www.sebuahgudangtua.wordpress.com, www.petiusang.wordpress.com, dan www.opiumcommunity.wordpress.com.
Saya Tahu Kapan Harus Menjadi Robot
Wednesday, 12 September 2007
Malang
Di tengah tingginya kesenjangan kelas sosial, Rendra Fatrisna Kurniawan mampu menorehkan perubahan dalam hidupnya. Anggota Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) termuda di Kota Malang ini mampu menyeimbangkan kehidupan di pemerintahan dan komunitas punk. Hitam putihnya kehidupan bukanlah hal baru dalam catatan hidup seorang Rendra. Diusianya yang beranjak 23 tahun ini, dia memiliki sisi kehidupan sebagai anak punk di jalanan yang telah dia jalani sejak lima tahun lalu. “Saya enjoy aja dalam menjalani hidup,” tutur Rendra. Dan inilah endingnya, di bulan Desember 2007, Rendra resmi menjadi seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS).
Tiga tahun silam, putra pasangan Soetrisno SPd dengan Dra Siti Fatonah itu mengambil langkah berani, Ia lebih memilih hidup bebas di jalanan. Paksaan demi paksaan yang dilontarkan ayahnya, dianggapnya sebagai angin lalu. “Ayah tiap kali memaksa saya harus daftar PNS,” jelasnya pada Surya, Selasa (11/9). Namun, ia tidak pernah risih atas permintaan orang tuanya. Sampai pada akhirnya ia memiliki keputusan yang sangat mengejutkan keluarga, yakni mendaftarkan diri menjadi CPNS di Pemkot Malang. “Mulanya karena kelamaan nungguin teman daftar, jadi saya iseng ikut daftar juga,” cerita anak sulung dari empat bersaudara ini. Keberuntungan yang menghampiri Rendra disambut baik oleh keluarganya. “Entah apa ini yang dinamakan takdir Tuhan,” ujar dia. Momen itulah yang akhirnya membawa perubahan pada garis kehidupan Rendra.
Kini setelah setahun Rendra menjalani kehidupannya sebagai anggota Satpol PP, dia tetap sebagai anak punk dari Komunitas Klaker (Klayatan-Kemantren). Rendra mampu memilah dua kehidupan yang bertolak belakang ini dalam usianya yang relatif muda. Bagi Ernat teman kerjanya, kehidupan yang dijalani Rendra sangat keras. “Punk dan Satpol PP kan seperti minyak dan air, tidak bisa menyatu,” ujar pria 52 tahun ini. Menurut Ernat, Rendra cukup profesional dalam menjalankan tugasnya. Dia bisa menyesuaikan diri, kapan menjadi anak punk dan kapan harus menjadi Satpol PP. Kinerja Rendra dianggap bagus dan profesional oleh teman sekantornya.
Menurut Rendra, awalnya hal itu sangat sulit dijalani. “Satu minggu pertama, saya ditugaskan untuk menggaruk anak jalanan (anjal),” tegas dia. Bagi Rendra, anjal merupakan teman sehingga ada dilema dalam dirinya. “Semula teman-teman protes dan marah sama saya,” papar Rendra. Namun dengan penuh kesabaran, pria yang tinggal di Jl Klayatan Bandung Rejosari, Kecamatan Sukun, Kota Malang ini mampu memberikan pemahaman terhadap teman punk-nya. Dan ia mulai bisa meminimalisir gejolak batinnya. Rendra telah menemukan formula baru untuk mengobati gejolak hatinya. Rendra selalu menganggap bekerja sebagai Satpol PP adalah menjadi robot, sedangkan punk adalah bagian dari jiwanya. “Sekarang saya tahu kapan saya harus jadi robot dan kapan saya kembali ke teman-teman,” papar dia. (*)
http://www.surya.co.id/web Powered by Joomla! – @copyright Copyright (C) 2005 Open Source Matters. All rights reservedGenerated: 18 October, 2007, 02:37

Juni 21, 2008 at 11:46 am
Salam kenal..
_dee_
Juni 25, 2008 at 1:43 pm
Dek, aku yang selalu kamu panggil mas,hampir aja nangis dengan membaca blog yang kamu buat ini. Betapa… betapa aku sangat jauh terlampaui olehmu.Teman, sahabat sejati…. saudara yang meski tidak terlahir dari satu rahim yang sama….Betapa kau selalu menjadi inspirasiku yang tak pernah mati dan lekang oleh jaman. Aku berharap…meski kau adalah tetap kau, Rendra Fatrisna Kurniawan, adek yang selalu aku banggakan….Aku benar-benar berharap, jangan pernah kau melupakan ‘mas Andrikmu’ ini sampai kapanpun. Aku tetap ingin menjadi darahmu, semangatmu,…seperti kita yang selalu melewatkan hari-hari indah di masa kecil kita di lodoyo….Rendra, teman, sahabat,…saudaraku…tetaplah berjuang dengan segala angan dan imajimu. Aku membanggakanmu Dek………….Aku sangat membanggakanmu…..
Juni 27, 2008 at 9:50 am
trims atas sgala supportnya Mas Andrik….
semoga kita kelak akan berhasil meraih bintang, menggapai mimpi…
amien..
Juni 27, 2008 at 9:51 am
salam kenal jg bwt dee
Juli 14, 2008 at 2:33 am
PROLOG:
Aku tersesat pada jalan setapak yang sebelumnya pernah kutapaki. Sendiri. Aku selalu melihat mendung menggelayut di atas kepala. Tak ada arah yang musti kutuju. Seseorang dengan kerudung mengikutiku. Seseorang itu membawa seutas tali dan pisau. Aku bergegas. Ngeri membayankan tali itu mengikat leherku lantas menggantunkan jasadku di atas pohon oak. Dan pisau itu…pisau itu…menancap tepat di jantungku….
Untung saja itu masih bayananku. Tapi aku segera bergegas. Aku pun kehilangan lelaki misterius itu. Aku taklagi melihatnya di belakangku. Tapi, alangkah terkejutnya aku saat kulihat seutas tali berada di antunan ranting. Tepat di depanku!
Nantikan kisah selanjutnya pada novel misteri terbaru “Tiang Gantun!”
Lubis Grafura
http://www.lubisrafura.wordpress.com
September 1, 2008 at 4:38 pm
hoey ak nongol ne…tak penuhi janjiku buka blogmu;)!!
teruskan bro perjuangan qt mendobrak gejala “omeksitas” di kampus,omeksitas diambil dari perpaduan kata omek dan obesitas yang berarti fenomena menggemuknya omek dikampus..ayo dibantai ae ben ora ngrusuhi kampus..mosok arek fip kq politik-politikan..lucu…hahaha.
Desember 11, 2008 at 5:19 am
Om,,saya tertarik ma riwayat hidup anda…
aku mahasiswa brawijaya yg miris ngliet nasib n masa depan musik underground d malang….
kapan ada wkt bsa ktemu gk mas???
Desember 17, 2008 at 3:38 pm
Semoga dengan adanya teman-teman yg masih peduli terhadap masa depan musik underground,maka musik underground di kota Malang dapat kembali berjaya,mari kita kembalikan kota Malang sebagai barometer musik rock (keras) di Indonesia..
Bisa aja ketemuan kok, langsung datang az di acara Kantin Attack yg di gelar di Univ. Negeri Malang pada 23 Desember 08 mendatang, atau bisa jg ketemuan di Pemutaran Film Dokumenter Metro TV 2008 yg di selenggarakan di gedung Thetre UMM DOME pada tgl 20 Desember 08 mulai pukul 10.30.
Keep fighting!Toast the beer as spirit blood!
Maret 12, 2009 at 3:51 am
lam nal Sam… awak terpukau ma opini kau ttg omek… cukup membantu aq dlm referensi tgs ne..hahahahaa.nuwus ake, slm 1jw n keep on rockin’!yeahh
April 6, 2009 at 12:16 pm
semangat!!!!!!
^_^
April 21, 2009 at 9:03 am
salut rek!! teruskan perjuanganmu kawan!!! semangaaaaaaaaadh!…
April 22, 2009 at 6:53 pm
Daniar Aziz….okey…semangat3x………………….
September 12, 2009 at 10:37 pm
mantab sam,,,
tak terusno ma anak2…
minimal FIP hrus bersih dulu!!