<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Peti Usang</title>
	<atom:link href="http://petiusang.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://petiusang.wordpress.com</link>
	<description>sebuah peti tua yang tergeletak di sudut gudang</description>
	<lastBuildDate>Mon, 30 Jan 2012 18:04:32 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='petiusang.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Peti Usang</title>
		<link>http://petiusang.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://petiusang.wordpress.com/osd.xml" title="Peti Usang" />
	<atom:link rel='hub' href='http://petiusang.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>OTAK: SUMBER PIKIRAN DAN KEPRIBADIAN</title>
		<link>http://petiusang.wordpress.com/2010/12/21/otak-sumber-pikiran-dan-kepribadian/</link>
		<comments>http://petiusang.wordpress.com/2010/12/21/otak-sumber-pikiran-dan-kepribadian/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 21 Dec 2010 18:43:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>petiusang</dc:creator>
				<category><![CDATA[OTAK: SUMBER PIKIRAN DAN KEPRIBADIAN]]></category>
		<category><![CDATA[Psikologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://petiusang.wordpress.com/?p=102</guid>
		<description><![CDATA[OTAK: SUMBER PIKIRAN DAN KEPRIBADIAN Pengenalan Otak Otak (encephalon) merupakan pusat sistem saraf (central nervous system) pada vertebrata dan banyak invertebrata lainnya. Otak mengatur dan mengkordinir sebagian besar, gerakan, perilaku dan fungsi tubuh homeostasis seperti detak jantung, tekanan darah, keseimbangan cairan tubuh dan suhu tubuh. Otak merupakan dasar dari kesadaran, persepsi, kesadaran dan emosi. Otak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=petiusang.wordpress.com&amp;blog=3944821&amp;post=102&amp;subd=petiusang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><strong>OTAK: SUMBER PIKIRAN DAN KEPRIBADIAN</strong></p>
<p><strong>Pengenalan Otak </strong></p>
<p>Otak (<em>encephalon</em>) merupakan pusat sistem saraf (<em>central nervous system</em>) pada vertebrata dan banyak invertebrata lainnya. Otak mengatur dan mengkordinir sebagian besar, gerakan, perilaku dan fungsi tubuh homeostasis seperti detak jantung, tekanan darah, keseimbangan cairan tubuh dan suhu tubuh. Otak merupakan dasar dari kesadaran, persepsi, kesadaran dan emosi. Otak juga bertanggung jawab atas fungsi seperti pengenalan, emosi. ingatan, pembelajaran motorik dan segala bentuk pembelajaran lainnya.</p>
<p><strong>Sistem Saraf: Sebuah Cetak Biru Dasar</strong></p>
<p>Sistem saraf adalah sistem organ pada hewan yang terdiri atas sel neuron yang mengkoordinasikan aktivitas otot, memonitor organ, membentuk atau menghentikan masukan dari indra, dan mengaktifkan aksi. Komponen utama dalam sistem saraf adalah neuron yang diikat oleh sel-sel neuroglia, neuron memainkan peranan penting dalam koordinasi. Sistem saraf pada vertebrata secara umum dibagi menjadi dua, yaitu sistem saraf pusat dan sistem saraf tepi.</p>
<p><strong><em>Sistem Saraf Pusat</em></strong></p>
<p>Sistem saraf pusat (<em>central nervous system/CNS</em>) berfungsi untuk menerima, memproses, menginterpretasikan, dan menyimpan informasi sensoris yang datang, seperti informasi mengenai rasa, suara, bau, warna, tekanan pada kulit, dan lain-lain. Sistem saraf pusat juga mengirimkan pesan untuk otot, kelenjar, dan organ internal.</p>
<p>Sistem saraf pusat ini meliputi otak (<em>ensephalon</em>) dan sumsum tulang belakang (<em>medulla spinalis</em>). Keduanya merupakan organ yang sangat lunak, dengan fungsi yang sangat penting maka perlu perlindungan. Selain tengkorak dan ruas-ruas tulang belakang, otak juga dilindungi 3 lapisan selaput <em>meninges</em>. Bila membran ini terkena infeksi maka akan terjadi radang yang disebut <em>meningitis</em>.</p>
<p><strong><em>Sistem Saraf Perifer</em></strong></p>
<p>Sistem saraf <em>perifer</em> (<em>peripheral nervous system</em>/<em>PNS</em>) berfungsi menangani pesan informasi yang masuk dan keluar dari sistem saraf pusat. Sistem saraf <em>perifer</em> meliputi semua bagian dari sistem saraf yang terletak di luar otak dan saraf tulang belakang, sampai dengan saraf di ujung jari tangan dan jari kaki.</p>
<p>Sistem saraf <em>perifer</em> terdiri dari sistem saraf <em>somatic</em>, yang berperan dalam sensasi dan gerakan-gerakan <em>volunter</em>; serta sistem saraf <em>otomik</em> yang berperan dalam mengatur berbagai pembuluh darah, kelenjar, dan organ-organ internal. Biasanya sistem saraf <em>otomik</em> berfungsi tanpa adanya kontrol yang disadari. Sistem saraf <em>otomik</em> dibagi menjadi sistem saraf <em>simpatik</em> dan sistem saraf <em>parasimpatik</em>.</p>
<p><strong>Komunikasi dalam Sistem Saraf</strong></p>
<p><strong><em>Struktur Neuron</em></strong></p>
<p>Unit dasar dari sistem saraf disebut neuron. Setiap neuron terdiri dari satu badan sel yang di dalamnya terdapat sitoplasma dan inti sel. Dari badan sel keluar dua macam serabut saraf, yaitu dendrit dan akson. Dendrit berfungsi mengirimkan impuls ke badan sel saraf, sedangkan akson berfungsi mengirimkan impuls dari badan sel ke jaringan lain. Akson biasanya sangat panjang. Sebaliknya, dendrit pendek. Setiap neuron hanya mempunyai satu akson dan minimal satu dendrit.</p>
<p>Kedua serabut saraf ini berisi plasma sel. Pada bagian luar akson terdapat lapisan lemak disebut mielin yang merupakan kumpulan sel Schwann yang menempel pada akson. Sel Schwann adalah sel glia yang membentuk selubung lemak di seluruh serabut saraf mielin. Membran plasma sel Schwann disebut neurilemma. Fungsi mielin adalah melindungi akson dan memberi nutrisi. Bagian dari akson yang tidak terbungkus mielin disebut nodus Ranvier, yang berfungsi mempercepat penghantaran impuls.</p>
<p>Komunikasi antara dua neuron berlangsung di sinapsis. Terdapat banyak sinapsis yang belum terbentuk ketika kita lahir. Selama berkembang, kematangan fisik dan pengalaman lingkungan dapat berperan dalam pertumbuhan akson-akson dan dendrit-dendrit. Dalam kehidupannya, pengetahuan baru akan membentuk koneksi-koneksi sinapsis yang baru di otak. Maka dapat disimpulkan bahwa jaringan otak tidak bersifat tetap, namun selalu berubah sebagai responnya terhadap berbagai informasi, tantangan, dan perubahan di lingkungan, fenomena ini disebut sebagai plastisitas.</p>
<p>Ketika impuls saraf mencapai terminal akson, impuls saraf itu harus memperoleh pesan ketika melintasi celah sinapsis ke sel yang lain. Pada titik ini, gelembung sinapsis terbuka dan melepaskan beberapa ribu molekul dari sebuah bahan kimia yang disebut neurotransmitter.</p>
<p><strong><em>Pesan Kimiawi di dalam Sistem Saraf</em></strong></p>
<ul>
<li><strong><em>Neurotransmiter</em></strong></li>
</ul>
<p>Neurotransmiter merupakan pengirim pesan yang berguna. Neurotransmiter memungkinkan satu neuron untuk dapat membangkitkan atau menghambat kerja neuron lainnya. Neurotransmiter tidak hanya terdapat di otak, melainkan juga terdapat di saraf tulang belakang, saraf perifer, dan beberapa kelenjar. Melalui efek yang ditimbulkan pada jaringan saraf tertentu, zat ini dapat mempengaruhi suasana hati, ingatan, dan kesejahteraan. Sifat dasar dari efek yang akibatkan tergantung pada tingkat neurotransmiter, lokasinya, dan jenis reseptor yang diikatnya.</p>
<ul>
<li><strong><em>Endorphin: Narkotika Alamiah Otak</em></strong></li>
</ul>
<p>Endorphin merupakan narkotika alamiah otak. Endorphin (<em>Endogenous Opioid Peptides</em>) memiliki efek yang serupa dengan narkotika alami, yaitu mengurangi rasa sakit dan meningkatkan rasa gembira. Endorphin memainkan peran dalam meningkatkan nafsu makan, aktifitas seksual, tekanan darah, suasana hati, belajar, dan ingatan. Beberapa endorphin berfungsi sebagai neurotransmitter, namun kebanyakan berfungsi mengubah efek neurotransmitter misalkan dengan mempersingkat atau memperpanjang efek-efeknya.</p>
<ul>
<li><strong><em>Hormone: Pembawa Pesan Jarak Jauh</em></strong></li>
</ul>
<p>Hormone merupakan pembawa pesan jarak jauh. Hormone adalah kelompok ketiga dari pembawa pesan kimiawi, terutama dihasilkan oleh kelenjar endokrin (<em>endocrine glands</em>). Hormone dilepaskan secara langsung ke dalam aliran darah, selanjutnya dibawa ke berbagai sel dan organ yang mungkin letaknya jauh dari asal hormone. Hormone memiliki berbagai macam tugas, mulai dari meningkatkan pertumbuhan tubuh hingga membantu alat pencernaan dan mengatur metabolisme.</p>
<p><strong>Pemetaan Otak</strong></p>
<p>Pemindaian otak dapat mengungkapkan bagian-bagian otak yang aktif selama seseorang mengerjakan berbagai tugas yang berbeda. Namun demikian, pemindaian otak tidak dapat mengungkapkan secara tepat mengenai apa yang sedang berlangsung, baik secara fisik maupun mental, selama mengerjakan tugas-tugas.</p>
<p><strong>Menjelajahi Otak</strong></p>
<p>Banyak teori modern mengenai otak mengasumsikan bahwa setiap bagian otak memiliki tugas yang berbeda, meskipun saling tumpang tindih. Asal-usul dari konsep yang dikenal sebagai lokalisasi fungsi (<em>localization of fungtion</em>) ini dapat ditelusuri sampai jaman Joseph Gall (1758-1828), seorang ahli anatomi Austria yang berpendapat bahwa sifat-sifat kepribadian tercermin dalam perkembangan area spesifik dari otak. Meskipun banyak yang menyebut teori <em>phrenology</em> dari Gall tersebut salah, namun dia tetap berjasa berkat idenya mengenai spesialisasi bagian otak.</p>
<p><strong><em>Batang Otak</em></strong></p>
<p>Batang otak (<em>brain stem</em>) merupakan bagian dari otak yang terletak di atas saraf tulang belakang. Batang otak ini terdiri dari medulla dan pons. Pons terlibat diantaranya dalam kegiatan tidur, terjaga, dan bermimpi. Sedangkan medulla (<em>medulla</em>) bertanggung jawab untuk fungsi tubuh yang tidak dikehendaki secara sadar, seperti bernafas dan detak jantung.</p>
<p>Pada batang otak juga terdapat sistem pengaktifan reticulum (<em>reticular activing system</em>). Sistem pengaktifan reticulum merupakan jaringan tebal dari neuron-neuron yang ditemukan di bagian tengah batang otak, system ini merangsang korteks dan menyaring.</p>
<p><strong><em>Serebelum</em></strong></p>
<p>Otak kecil (<em>cerebellum</em>) merupakan bagian terbesar otak belakang. Otak kecil ini terletak di bawa lobus oksipital serebrum. Otak kecil terdiri atas dua belahan dan permukaanya berlekuk-lekuk. Fungsi otak kecil adalah untuk mengatur sikap atau posisi tubuh, keseimbangan, dan koordinasi gerakan otot yang terjadi secara sadar. Jika terjadi cedera pada otak kecil, dapat mengakibatkan gangguan pada sikap dan koordinasi gerak otot. Gerakan menjadi tidak terkoordinasi, misalnya orang tersebut tidak mampu memasukkan makanan ke dalam mulutnya.</p>
<p><strong><em>Talamus</em></strong></p>
<p>Berada di bagian dalam interior otak. Talamus akan mengarahkan pesan-pesan sensorik yang masuk ke dalam otak, ke area yang lebih tinggi.</p>
<p><strong><em>Hipotalamus</em></strong></p>
<p>Hipotalamus merupakan struktur otak yang terlibat dalam emosi dan dorongan-dorongan vital untuk kelangsungan hidup, seperti takut, lapar, haus, dan reproduksi. Hipotalamus berfungsi mengatur sistem saraf otonomik.</p>
<p><strong><em>Kelenjar Hipofisis</em></strong></p>
<p>Kelenjar hipofisis merupakan kelenjar endokrin kecil yang terletak di dasar otak, yang melepaskan banyak hormone dan mengatur kelenjar-kelenjar endokrin lainnya.</p>
<p><strong><em>Amigdala</em></strong></p>
<p>Amigdala (<em>amygdale</em>) merupakan struktur otak yang terlibat dalam stimulasi, regulasi emosi, dan respons emosional awal terhadap informasi sensorik.</p>
<p><strong><em>Hipokampus </em></strong></p>
<p>Hipokampus (<em>hippocampus</em>) merupakan struktur otak yang terlibat dalam penyimpanan informasi baru di dalam ingatan.</p>
<p><strong><em>Serebrum </em></strong></p>
<p>Serebrum merupakan struktur otak terbesar, terdiri dari bagian atas otak yang terbagi menjadi dua hemisfer. Serebrum ini berperan pada sebagian besar proses sensorik, motorik, dan kognitif.</p>
<p><strong>Hemister Otak</strong></p>
<p>Berdasarkan penelitian yang dilakukan terhadap pasien <em>split-brain</em>, yang <em>korpus kolosum-</em>nya dipotong, diketahui bahwa masing-masing hemister otak memiliki bakat tersendiri. Pada kebanyakan orang, bahasa diproses terutama oleh hemister kiri, yang umumnya memiliki fungsi khusus dalam menangani tugas-tugas yang bersifat logis, simbolik, dan berangkai.</p>
<p>Sedangkan pada hemister kanan,  berhubungan dengan tugas-tugas special-visual, mengenali wajah, serta kreasi dan apresiasi terhadap seni maupun musik. Namun dalam kebanyakan aktivitas mental, kedua hemister ini saling bekerja sama di mana masing-masing hemsiter memberikan kontribusi.</p>
<p><strong>Dua Isu dalam Penelitian Otak</strong></p>
<p><strong><em>Di manakah Letak Self</em></strong></p>
<p>Ketika memikirkan tentang gumpalan jaringan yang terletak di kepala, yang dapat mengingat, bermimpi, dan berpikir, akan memunculkan sebuah pertanyaan yaitu di manakah letak diri (<em>self</em>) kita sebenarnya? Ini merupakan pertanyaan klasik yang telah lama direnungkan.</p>
<p>Banyak peneliti dan ilmuwan kognitif yakin bahwa kesatuan <em>self</em> merupakan sebuah ilusi. Otak beroperasi sebagai sebuah kumpulan dari modul-modul atau sistem-sistem mental yang mandiri, dan mungkin salah satu diantaranya menjadi penerjemah.</p>
<p><strong><em>Adakah Otak Pria dan Otak Wanita</em></strong></p>
<p>Isu kedua adalah eksistensi jenis kelamin di dalam otak. Dalam isu ini, muncul dua pertanyaan, yaitu apakah antara otak pria dan otak wanita terdapat perbedaan yang bersifat anatomis? Dan apabila ada, apakah kemudian mempengaruhi perilaku, kemampuan, atau cara memecahkan masalah pada pria dan wanita?</p>
<p>Dengan pemindaian otak dan berbagai tehnik lainnya telah mengungkapkan perbedaan-perbedaan antara otak pria dengan wanita. Diantaranya menyangkut lateralisasi dalam menyelesaikan tugas-tugas yang berkaitan dengan bahasa, apabila dibandingkan dengan pria, wanita cenderung melibatkan dua hemisfer. Meski demikian, masih terdapat banyak kontroversi mengenai perbedaan-perbedaan ini dalam kehidupan nyata.</p>
<p><strong>Daftar Rujukan </strong></p>
<p>Wade, C. &amp; Tavris, C. 2007. <em>Psikologi: Jilid 1</em>. Jakarta: Penerbit Erlangga</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/petiusang.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/petiusang.wordpress.com/102/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/petiusang.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/petiusang.wordpress.com/102/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/petiusang.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/petiusang.wordpress.com/102/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/petiusang.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/petiusang.wordpress.com/102/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/petiusang.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/petiusang.wordpress.com/102/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/petiusang.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/petiusang.wordpress.com/102/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/petiusang.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/petiusang.wordpress.com/102/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=petiusang.wordpress.com&amp;blog=3944821&amp;post=102&amp;subd=petiusang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://petiusang.wordpress.com/2010/12/21/otak-sumber-pikiran-dan-kepribadian/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/690aba2b95137eaa8a011f76ea52b14e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">petiusang</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>RITME TUBUH DAN KONDISI MENTAL</title>
		<link>http://petiusang.wordpress.com/2010/12/21/ritme-tubuh-dan-kondisi-mental/</link>
		<comments>http://petiusang.wordpress.com/2010/12/21/ritme-tubuh-dan-kondisi-mental/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 21 Dec 2010 18:39:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>petiusang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Psikologi]]></category>
		<category><![CDATA[RITME TUBUH DAN KONDISI MENTAL]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://petiusang.wordpress.com/?p=100</guid>
		<description><![CDATA[RITME TUBUH DAN KONDISI MENTAL &#160; Ritme Biologis: Pasang Surut Pengalaman Tubuh manusia berubah secara terus menerus sepanjang waktu. Manusia mengalami banyak periode dalam setiap rentang waktu, naik turunnya fungsi fisiologis yang terjadi secara teratur  disebut sebagai ritme biologis (biological rhythm). Jam biologis dalam otak mengatur peningkatan dan penyusutan hormone, volume urine, tekanan darah, dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=petiusang.wordpress.com&amp;blog=3944821&amp;post=100&amp;subd=petiusang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><strong>RITME TUBUH DAN KONDISI MENTAL </strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Ritme Biologis: Pasang Surut Pengalaman</strong></p>
<p>Tubuh manusia berubah secara terus menerus sepanjang waktu. Manusia mengalami banyak periode dalam setiap rentang waktu, naik turunnya fungsi fisiologis yang terjadi secara teratur  disebut sebagai ritme biologis (<em>biological rhythm</em>). Jam biologis dalam otak mengatur peningkatan dan penyusutan hormone, volume urine, tekanan darah, dan terkadang kecepatan otak dalam merespon sebuah stimulus.</p>
<p>Ritme bilogis tersebut dipengaruhi dengan kejadian di lingkungan, seperti halnya perubahan waktu, suhu, dan cahaya matahari, atau sebuah proses yang biasa disebut sebagai entrainment. Namun terdapat juga dari ritme ini terjadi tanpa adanya faktor-faktor waktu yang sifatnya eksternal, ritme seperti ini bersifat endogen (<em>endogenous</em>), atau dihasilkan dari dalam tubuh.</p>
<p>Terdapat banyak ritme biologis, yang disebut sebagai ritme sirkadian (<em>cirkadian rhythm</em>) yang terjadi setiap 24 jam. Salah satu ritme sirkadian yang paling banyak diketahui adalah siklus terjaga-tidur (<em>sleep-wake cycle</em>), kemudian contoh lain adalah suhu tubuh akan berfluktuasi sebanyak satu derajat celcius, mencapai puncak, rata-rata, pada sore hari, dan mencapai puncak terendahnya pada pagi hari.</p>
<p><strong>Suasana Hati dan Ritme Jangka Panjang</strong></p>
<p>Beberapa orang menunjukkan terjadinya depresi berulang pada saat musim tertentu, itulah sebabnya masyarakat beranggapan bahwa suasana hati mengikuti ritme biologis jangka panjang. Pola seperti ini disebut sebagai <em>seasonal affective disorder</em> (SAD), namun kasus seperti ini sebenarnya jarang ditemukan. Penyebabnya belum diketahui secara pasti, namun diduga karena ketidaknormalan sekresi melatonin. Bentuk ritme jangka panjang lainnya adalah siklus menstruasi wanita, dimana di dalam tubuh terjadi berbagai kadar hormone meningkat atau menurun.</p>
<p>Secara umum, gender tidak menyebabkan terjadinya perbedaan dalam gejala emosional. Harapan dan proses belajar mempengaruhi bagaimana kedua jenis kelamin memaknai perubahan fisik maupun emosional. Beberapa orang dari kedua jenis kelamin mungkin mengalami perubahan suasana hati dan kepribadian karena hormone.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Ritme tidur</strong></p>
<p>Pada proses tidur, periode tidur <em>rapid eye movement</em> (REM) muncul secara silih berganti dengan tidur non-REM dalam ritme sekitar 90 menit. Dalam tidur non-REM terdapat empat tahap berdasarkan pada gelombang otak yang muncul. Pada tahap pertama, gelombang otak menjadi kecil dan tidak beraturan. Tahap kedua, otak terkadang menghasilkan rentetan singkat gelombang yang cepat dan memiliki puncak gelombang yang tinggi, peristiwa ini disebut sebagai <em>sleep spindle</em>. Tahap ketiga, otak terkadang menghasilkan gelombang delta yang sangat lambat dengan puncak yang cukup tinggi, pernafasan dan detak jantung melambat, otot-otot akan melemas (rileks). Sedangkan pada tahap empat, gelombang delta mengambil alih sebagian besar aktivitas, dan membawa pada kondisi tidur dalam.</p>
<p>Pada tidur REM, otak sangat aktif, dan ada tanda munculnya rangsangan lainnya, tapi kebanyakan otot pada tubuh menjadi tidak mampu digerakkan, mimpi yang terlihat begitu jelas biasanya terjadi pada tidur REM ini. Dalam beberapa kasus, seseorang pernah mengalami mimpi saat terbangun yaitu situasi dimana orang terjaga dari tidur REM sebelum fase kelumpuhan benar-benar hilang, pada saat ini mereka menganggap mimpi itu benar-benar nyata.</p>
<p>Tidur juga dimungkinkan merupakan kebutuhan untuk konsolidasi ingatan. Peningkatan ingatan karena tidur telah diasosiasikan paling dekat dengan tidur REM dan gelombang tidur yang perlahan, maupun dengan ingatan akan ketrampilan tertentu yang spesifik. Tidur juga meningkatkan diperolehnya pemahaman mendalam dan kemampuan memecahkan masalah.</p>
<p><strong>Menelusuri Dunia Mimpi</strong></p>
<p><strong><em>Mimpi sebagai Keinginan-keinginan yang Tidak Disadari</em></strong></p>
<p>Menurut teori psikoanalisis mengenai mimpi, mimpi memungkinkan seseorang memenuhi keinginan dan hasrat yang terlarang atau tidak realistis yang dipaksakan masuk ke dalam bagian ketidaksadaran di dalam pikiran. Menurut Sigmund Freud, mimpi dapat mengekspresikan semua hasrat dan keinginan terpendam, yang sering kali merupakan sesuatu yang terkait dengan seksualitas dan kekerasan.</p>
<p>Dalam mimpi segala pikiran dan objek tampil dalam bentuk simbolis. Freud berpendapat, untuk memahami mimpi maka harus bias membedakan antara <em>isi manifest</em>, yaitu aspek-aspek yang dialami secara sadarselama waktu tidur yang mungkin dapat diingat ketika terbangun, dari <em>isi laten</em>, yaitu harapan dan pikiran-pikiran yang tidak disadari dan diekspresikan dalam bentuk simbolis.</p>
<p><strong><em>Mimpi sebagai Usaha Mengatasi Masalah</em></strong></p>
<p>Dalam pendekatan berfokus pada masalah terhadap mimpi berpendapat bahwa mimpi menyatakan tema utama yang menjadi kepedulian. Mimpi bahkan dapat membantu mengatasi masalah dan menghadapi isu emosional terutama pada saat krisis.</p>
<p><strong><em>Mimpi sebagai Proses Berpikir</em></strong></p>
<p>Dalam pendekatan kognitif dari mimpi, mimpi secara sederhana merupakan modifikasi dari aktivitas kognitif yang terjadi saat terbangun. Dalam mimpi, dibangun simulasi yang masuk akal dari dunia nyata menggunakan jenis ingatan, pengetahuan, metafora, dan anggapan-anggapan mengenai dunia yang sama seperti ketika tidak tertidur. Menurut pandangan ini, otak melakukan aktivitas atau kerja sejenis dengan yang dilakukan saat terjaga. Itulah yang menyebabkan bahwa beberapa bagian dari korteks serebral yang terlibat dalam proses persepsi dan kognisi sangat aktif pada saat bermimpi.</p>
<p><strong><em>Mimpi sebagai Interpretasi dari Aktivitas Otak</em></strong></p>
<p>Dalam teori aktivasi-sintesis (<em>activation-synthesis theory</em>) yang didasarkan pada penelitian fisiologis, mimpi merupakan hasil dari neuron-neuron bagian bawah otak (<em>pons</em>) yang bekerja secara spontan selama tidur REM. Saraf-saraf ini mengatur gerakan mata, wajah, keseimbangan, dan juga psotur tubuh, dan mereka mengirimkan pesan kepada bagian sensorik maupun motorik yang bertanggung jawab atas pemrosesan visual dan perilaku yang disengaja selama terjaga.</p>
<p><strong>Misteri Hipnosis</strong></p>
<p>Hipnosis adalah sebuah prosedur dimana sorang praktisi mensugestikan perubahan sensasi, persepsi, pikiran, perasaan, atau perilaku subjek, dan subjek tersebut mencoba mengikuti sugesti tersebut. Hipnosis terkadang dapat meningkatkan ingatan tentang fakta mengenai kejadian nyata, akan tetapi juga menghasilkan kebingungan antara fakta dengan khayalan yang tampak secara nyata.</p>
<p><strong>Teori Mengenai Hipnosis</strong></p>
<p><strong><em>Teori Disosiasi</em></strong></p>
<p>Dalam pendekatan ini, dinyatakan bahwa hipnosis seperti mimpi yang jelas dan bahkan distraksi sederhana, melibatkan disosiasi (<em>dissociation</em>), yaitu terpisahnya kesadaran di mana satu bagian pikiran bekerja sendiri dan terlepas dari kesadaran yang lainnya. Kesadaran terpisah antara bagian yang sedang dihipnotis dengan bagian sebagai pengamat tersembunyi yang tidak terlibat dalam hipnotis. Bagian yang menjadi pengamat tersembunyi ini memantau tapi tidak terlibat dalam proses hipnosis. Kecuali diberikan intruksi khusus, orang yang terhipnotis tidak akan menyadari keberadaan pengamat ini,</p>
<p><strong><em>Pendekatan Sosiokognitif</em></strong></p>
<p>Dalam pendekatan ini, dinyatakan bahwa efek hypnosis merupakan hasil interaksi antara pengaruh sosial yang dimiliki penghipnotis dan kemampuan, kepercayaan, serta harapan subyek. Orang yang terhipnotis pada dasarnya memainkan sebuah peran, peran yang mirip dengan kehidupan sehari-hari. Bahkan bagian pengamat tersembunyi merupakan reaksi dari tuntutan social dari situasi dan sugesti dari penghipnotis.</p>
<p><strong>Obat-obatan Pengubah Kesadaran</strong></p>
<p>Obat psikoaktif (<em>psychoactive drug</em>) adalah senyawa yang dapat mengubah persepsi suasana hati, pikiran, ingatan, atau perilaku, dengan cara mengubah zat-zat biokimia dalam tubuh. Obat-obatan psikoaktif mengubah kognisi dan emosi dengan mempengaruhi neurotransmitter dalam otak. Kebanyakan obat psikoaktif digolongkan ke dalam <em>stimulant</em>, <em>depresan</em>, <em>opiate</em>, atau <em>psychedelic</em>, tergantung dari efeknya pada system saraf pusat dan pengaruhnya terhadap perilku dan suasana hati.</p>
<p>Obat psikoaktif ketika digunakan secara sering dan berdosis besar dapat merusak saraf-saraf di otak dan merusak kemampuan belajar atau ingatan. Penggunaan obat-obat ini dapat menyebabkan terbentuknya toleransi, di mana terus diperlukan peningkatan dosis untuk mendapatkan efek yang sama, dan munculnya gejala withdrawal apabila mencoba untuk berhenti.</p>
<p>Reksi terhadap obat-obatan psikoaktif dipengaruhi tidak hanya oleh senyawa kimia yang terkandung namun juga oleh keadaan fisik dan mental pengguna. Pengalaman sebelumnya dengan obat tersebut, latar belakang lingkungan, kondisi mental, dan budaya pengguna serta motivasi penggunaannya juga memiliki pengaruh yang besar.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Daftar Rujukan </strong></p>
<p>Wade, C. &amp; Tavris, C. 2007. <em>Psikologi: Jilid 1</em>. Jakarta: Penerbit Erlangga</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/petiusang.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/petiusang.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/petiusang.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/petiusang.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/petiusang.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/petiusang.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/petiusang.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/petiusang.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/petiusang.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/petiusang.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/petiusang.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/petiusang.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/petiusang.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/petiusang.wordpress.com/100/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=petiusang.wordpress.com&amp;blog=3944821&amp;post=100&amp;subd=petiusang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://petiusang.wordpress.com/2010/12/21/ritme-tubuh-dan-kondisi-mental/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/690aba2b95137eaa8a011f76ea52b14e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">petiusang</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>STRATEGI MARKETING PUBLIC RELATIONS HEINEKEN N.V.  DALAM KASUS PRODUK BARU</title>
		<link>http://petiusang.wordpress.com/2010/12/16/strategi-marketing-public-relations-heineken-n-v-dalam-kasus-produk-baru/</link>
		<comments>http://petiusang.wordpress.com/2010/12/16/strategi-marketing-public-relations-heineken-n-v-dalam-kasus-produk-baru/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 16 Dec 2010 10:03:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>petiusang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[STRATEGI MARKETING PUBLIC RELATIONS HEINEKEN NV DALAM KASUS PRODUK BARU]]></category>
		<category><![CDATA[HEINEKEN N.V.]]></category>
		<category><![CDATA[PRODUK BARU]]></category>
		<category><![CDATA[PUBLIC RELATIONS HEINEKEN N.V. DALAM KASUS]]></category>
		<category><![CDATA[STRATEGI MARKETING]]></category>
		<category><![CDATA[STRATEGI MARKETING PUBLIC RELATIONS HEINEKEN N.V. DALAM KASUS PRODUK BARU]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://petiusang.wordpress.com/?p=97</guid>
		<description><![CDATA[STRATEGI MARKETING PUBLIC RELATIONS HEINEKEN N.V. DALAM KASUS PRODUK BARU PENGERTIAN MARKETING PUBLIC RELATIONS Ian Phillipson (2008) berpendapat bahwa pada saat anda berkata perusahaan anda adalah yang terbaik itulah iklan, saat anda berkata perusahaan anda adalah pilihan tepat untuk memenuhi kebutuhan konsumen itulah marketing, dan saat anda tidak mengatakan apapun tetapi konsumen datang berduyun-duyun itulah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=petiusang.wordpress.com&amp;blog=3944821&amp;post=97&amp;subd=petiusang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><strong>STRATEGI MARKETING PUBLIC RELATIONS HEINEKEN N.V. </strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong>DALAM KASUS PRODUK BARU</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>PENGERTIAN MARKETING PUBLIC RELATIONS</strong></p>
<p>Ian Phillipson (2008) berpendapat bahwa pada saat anda berkata perusahaan anda adalah yang terbaik itulah iklan, saat anda berkata perusahaan anda adalah pilihan tepat untuk memenuhi kebutuhan konsumen itulah marketing, dan saat anda tidak mengatakan apapun tetapi konsumen datang berduyun-duyun itulah public relations. Sedangkan pemasaran atau marketing disebutkan Philip Kotler sebagai proses sosial dengan mana individu dan kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan dan mempertukarkan produk dan nilai dengan individu dan kelompok lainnya.</p>
<p>Melihat kedua pengertian diatas tentang public relations dan marketing maka kita melihat adanya komunikasi marketing yang terlibat di dalamnya. Nirwana dalam bukunya <em>Service Marketing Strategy</em> mengemukakan betapa pentingnya komunikasi pemasaran, Nirwana (2006) berpendapat keberadaan jasa (produk) perlu dikomunikasikan kepada pelanggan atau target market. Tanpa adanya komunikasi bisnis, maka jasa (produk) akan sulit diterima oleh market.</p>
<p>Menurut Philip Kotler, marketing public relations merupakan kampanye public relations yang merupakan pengembangan dari kampanye pemasaran. Philip berpendapat public relations adalah bagian dari mega marketing yaitu aplikasi koordinasi secara terencana atas unsur-unsur ekonomi, psikologi, politik, dan ketrampilan public relations untuk memperoleh simpati (kerjasama) dari pihak-pihak terkait agar dapat beroperasi atau masuk ke pasar tertentu.</p>
<p>Philip Kotler menyebutkan tujuan dari marketing public relations ini adalah untuk menampilkan pola <em>how to service of excellent marketing</em> dalam upaya mempertahankan loyalitas pelanggan.</p>
<p>Konsep marketing public relations yang dikemukakan oleh Philip Kotler yaitu proses POAC dari program-program yang dapat merangsang pembelian dan kepuasan konsumen melalui komunikasi yang dipercaya dan berkaitan dengan identitas perusahaan atau produknya sesuai dengan kebutuhan, keinginan, perhatian, dan kepentingan konsumen.</p>
<p>Konsep public relations tersebut melahirkan <em>three ways strategy</em> untuk menciptakan opini public yang favourable atau menciptakan citra. <em>Three ways strategy</em> tersebut terdiri dari <em>pull</em> <em>strategy</em> (menarik), <em>power strategy</em> (kekuatan, penyandang), <em>push strategy</em> (mendorong), dan <em>pass strategy</em> (membujuk).</p>
<p><em>Pull strategy</em> yaitu strategi untuk menarik perhatian, merupakan langkah pertama atau <em>attention</em> dalam teori <em>conditioning</em> atau AIDDA. <em>Power strategy</em> merupakan kekuatan lembaga atau terkait dengan citra dan identitas suatu perusahaan. Push strategy dalam <em>three ways strategy</em> ini adalah merangsang konsumen untuk membeli produk, jadi bermacam-macam pelayanan yang menarik benefit, hadiah, dsb. Sedangkan <em>pass strategy</em>, adalah strategi untuk membujuk sehingga masyarakat atau nasabah berpotensi dapat mendukung tercapainya tujuan marketing public relations.</p>
<p>Perluasan pengaruh pesan dalam kegiatan marketing public relations dapat bersifat: informatif yaitu menginformasikan manfaat dan daya guna, persuasif sebagai kiat membujuk, serta edukatif yaitu bersifat rasional yang dapat diterima dalam taraf kognisi konsumen atau dengan kata lain dapat mendidik konsumen.</p>
<p>Ruang lingkup marketing public relations antara lain: memposisikan perusahaan sebagai <em>leader</em> atau <em>expert</em>, membangun kepercayaan konsumen (<em>confidence and trust</em>), memperkenalkan produk baru, menghapus lalu meluncurkan kembali (<em>relaunch</em>) produk-produk yang sudah dewasa (<em>mature</em>), mengkomunikasikan keuntungan-keuntungan produk lama, mempromosikan cara-cara pemakaian baru atas produk-produk yang sudah dikenal, melibatkan atau menggerakkan masyarakat terhadap produk kita, menjangkau <em>secondary markets</em>, menekan pasar yang lemah, memperluas jangkauan iklan, menyebarkan barita sebelum beriklan, membuat iklan lebih berbunyi (menjadi bahan pembicaraan), menjelaskan <em>product story</em> dengan lebih detail, memperoleh publisitas atas produk-produk yang tabu diiklankan di televisi, melakukan tes konsep pemasaran, mengidentifikasikan produk (merek) dengan nama perusahaan, mendapatkan dukungan konsumen dengan menjelaskan misi perusahaan, mendorong motivasi tenaga-tenaga penjual (<em>sales force</em>), dan memperoleh dukungan dari para penyalur (pengecer).</p>
<p><strong>MENGENAL HEINEKEN N.V.</strong></p>
<p><strong>Latar Belakang</strong></p>
<p>G.A. Heineken mendirikan Heineken N.V. pada tahun 1864 dengan membeli de Hooiberg (the Haystack), sebuah pabrik penyulingan yang sudah lama beroperasi di pusat kota Amsterdam sejak 1592. Pada tahun 1990, Heineken masih tetap di bawah kendali keluarga Heineken, telah menjadi salah satu grup perusahaan minum terbesar di dunia, yang memproduksi dan mendistribusikan merek-merek terkemuka bir, minuman ringan, minuman keras, dan anggur. Di samping Heineken, merek terkenal dunia, ada lagi merek-merek terkemuka lainnya yaitu Amstel, Sourcy, Royal Club, dan yang paling baru Buckler. Heineken juga mengelola berbagai merek nasional dan regional di beberapa pasar khusus.</p>
<p>Heineken, sebagaimana perusahaan penyulingan internasional, menerapkan sejumlah strategi distribusi untuk merek globalnya yaitu ekspor, penyulingan di bawah lisensi, dan melakukan akuisisi baik keseluruhan atau mengambil posisi minoritas di pabrik minuman lainnya.</p>
<p>Strategi Ekspor, strategi ini mampu memberikan keunggulan awal, yaitu menyediakan pasar baru. Produknya, sebagai produk impor bisa dipasarkan sebagai merek premium. Namun dengan strategi ekspor ini biaya transportasi bisa melonjak dan tanpa jaringan distribusi luas pangsa pasar jadi terbatas.</p>
<p>Lisensi, strategi umum lainnya bagi pabrik adalah melisensikan formulanya pada pabrik penyulingan lainnya. Perusahaan akan mendapat aliran tetap keuntungan dan peningkatan pangsa pasar melalui jaringan distribusi perusahaan lokal. Namun secara umum keluhan utamanya adalah kurangnya kontrol atas pemasaran merek.</p>
<p>Akuisisi, dengan strategi ini perusahaan dapat mengambil posisi minoritas atau mengakuisi pabrik lainnya secara utuh. Kemudian perusahaan dapat memutuskan apakah mengekspor merek globalnya dengan distribusi dipegang perusahaan operator ataukah memproduksi secara lokal yang ditangani perusahaan operator. Namun biasanya apabila terjadi akuisisi, perusahaan menambahkan sejumlah merek lokal pabrik itu ke dalam portofolionya. Pabrik yang diakuisisi harus memiliki jaringan luas untuk menjamin keberhasilan distribusi merek global tersebut. Tahun 1960an dan 1970an, banyak perusahaan bir Inggris mengakuisisi sejumlah pabrik Jerman dan Belgia. Namun strategi ini gagal karena pasar di kedua negara tersebut terfragmentasi.</p>
<p>Dengan pengaturan semacam itu, strategi perusahaan di pasar Eropa adalah dengan memiliki portofolio merek-merek internasional seperti Heineken dan Amstel, bersama-sama merek-merek lokal produksi perusahaan operator, di antara merek-merek terkemuka di setiap segmen pasar. Misalnya perusahaan operator Heineken di Perancis, Sogebra S.A. memproduksi merek lokal ”33” Export, untuk pasar <em>lager mainstream</em> dan mengimpor merek Heineken untuk pasar <em>lager impor premium</em>. Biasanya, perusahaan paling sukses dengan merek globalnya di negara-negara di mana mereka punya perusahaan operator dan cenderung kurang berhasil di negara-negara di mana Heineken hanya melakukan ekspor.</p>
<p><strong>Organisasi Heineken</strong></p>
<p>Organisasi Heineken dikelola oleh dewan eksekutif neranggota lima orang, yaitu presiden, dan empat direktur koordinasi wilayah meliputi Eropa, Asia/Australia, Afrika, dan Barat. Perusahaan Heineken dibagi dalam enam divisi yaitu Pemasaran dan Lisensi, Tehnik, Sosial, Ekspor, Keuangan dan Koordinasi Wilayah. Keempat direktur koordinasi wilayah dilimpahi wewenang penyusunan strategi dan koordinasi wilayah dilimpahi penyusunan strategi dan koordinasi perusahaan operator yang ada di wilayah mereka masing-masing.</p>
<p><strong>KASUS PRODUK BARU: INDUSTRI BIR NONALKOHOL </strong></p>
<p><strong>Produk</strong></p>
<p>Bir nonalkohol adalah bagian dari industri bir Eropa, peluncuran pertama kali terjadi di Swiss dan Jerman setelah Perang Dunia II. Proses produksi saat itu disebut vacuum distillation, menghilangkan kandungan alkohol setelah proses fermentasi. Sejak itu berbagai metode sudah dikembangkan, termasuk proses peragian khusus yang tidak menghasilkan alkohol.</p>
<p>Bir nonalkohol biasanya masih mengandung sedikit alkohol yang jumlahnya tergantung pada batas legal kandungan alkohol dalam minuman nonalkohol. Misalnya di Jerman, bir nonalkohol bisa saja mengandung alkohol dengan batas legal 0,5 persen. Sementara di Perancis, batas legalnya adalah 1 persen.</p>
<p>Produk ini biasanya disebut sebagai bebas alkohol atau rendah alkohol, yang merupakan gambaran lebih spesifik. Bir bebas alkohol masih ada jejak alkoholnya, sementara bir rendah alkohol berarti kandungan alkoholnya masih lebih rendah dari batas legal.</p>
<p><strong>Pasar</strong></p>
<p>Peminum bir nonalkohol biasanya adalah mereka yang suka rasa bir namun menghindari alkohol karena berbagai alasan. Baik konsumen yang memiliki alasan medis, sejumlah konsumen yang kuatir tentang dampak minuman keras terhadap mengemudi, atau pun konsumen yang merasa berdosa apabila minum terlalu banyak alkohol.</p>
<p>Selama tahun 1980an, dua tren pemasaran menciptakan tambahan permintaan atas produk ini: peningkatan kesadaran akan kesehatan dan tekanan sosial menentang penyalahgunaan alkohol. Dari data statistik, perusahaan bir reguler dapat menyaksikan turunnya pangsa pasar mereka dari total pasar minuman seiring dengan meningkatnya konsumsi minuman sehat termasuk bir nonalkohol.</p>
<p>Baik tekanan pemerintah maupun sosial meningkatkan proporsi konsumen yang minum bir nonalkohol. Banyak orang yang dengan sadar mengorbankan soal rasa supaya dapat menghindari alkohol.</p>
<p><strong>Peluncuran Bir Buckler</strong></p>
<p><strong><em>Latar Belakang</em></strong></p>
<p>Bir nonalkohol sebenarnya bukan sesuatu yang baru bagi Heineken. Semenjak tahun 1930an, pemikiran untuk membuat bir nonalkohol ke Amerika selama periode pelarangan sudah sering diperdebatkan. Pada tahun 1980an Heineken sudah mempunyai dua produk bir nonalkohol yaitu Amstel Brew dan Aquila Sin, masing-masing di distribusikan di Arab Saudi dan Spanyol. Namun karena kelemahan produk ini dalam soal rasa, seperti juga merek-merek pesaing waktu itu, tidak satu pun dari keduanya pernah dipertimbangkan untuk dipasarkan secara internasional.</p>
<p>Manajemen Heineken merasa bahwa pasar bir nonalkohol masih terlalu kecil untuk dikembangkan dalam skala penuh untuk mengatasi masalah rasa. Namun demikian, pemasaran perusahaan tetap memonitor aktivitas sejumlah pasar bir nonalkohol seperti di Swiss dan Amereka Serikat supaya tetap up to date mengikuti perkembangan baru. Dewan eksekutif Heineken baru merasa tertarik untuk terjun pada segmen ini pada tahun 1986, pada waktu Guiness meluncurkan sebuah bir nonalkohol bernama Kaliber.</p>
<p>Pada tahun 1987, Heineken mempersiapkan dukungan finansial bagi pengembangan produk besar-besaran serta program komersialisasinya. Kemudian Heineken membentuk sebuah tim kerja yang bertujuan untuk mengembangkan, sampai akhir tahun 1987 sebuah bir nonalkohol yang rasanya lebih baik dari merek pesaing serta meluncurkannya di Eropa, dan kemudian ke seluruh dunia.</p>
<p><strong><em>Pengembangan Strategi Pemasaran</em></strong></p>
<p>Tim kerja yang telah dibentuk perusahaan sangat antusias terhadap peluang meluncurkan bir nonalkohol di banyak negara. Tim yakin bahwa peminum bir nonalkohol cenderung serupa dimana-mana. Mereka adalah orang yang suka rasa bir namun tidak dapat atau tidak mau minum alkohol. Tim kerja sepakat bahwa sebuah strategi pemasaran merek yang standar dapat diterapkan hanya dengan sedikit penyesuaian lokal.</p>
<p><strong><em>Pengembangan Produk</em></strong></p>
<p>Tim kerja merasa bahwa mengembangkan <em>lager</em> bir nonalkohol adalah paling layak, karena rasanya dalam bir reguler diterima paling luas di Eropa. Mereka sepakat pada kandungan alkohol sekitar 0,5 persen, yang merupakan jumlah rata-rata dalam bir nonalkohol yang ada di pasar.</p>
<p>Selama lima bulan masa pengembangan, persaingan lunak muncul di antara manajer tehnik dari HTB dan manajer produksi Heineken Belanda melibatkan organisasi Spanyol dalam menciptakan bir nonalkohol yang paling rasanya. Kedua proses fermentasi tanpa alkohol atau menghilangkan alkohol setelah fermentasi sama-sama dieksplorasi. Pada akhirnya, sebuah proses fermentasi khusus berhasil dikembangkan dan dijaga kerahasiaannya.</p>
<p>Tim kerja segera menyadari bahwa semakin tinggi kadar alkoholnya maka semakin enak pula rasanya. Mereka berasumsi bahwa peminum bir nonalkohol menginginkan rasanya sedekat mungkin dengan <em>lager</em> tradisional. Produk itu akhirnya sedikit diubah menjadi alkohol berkadar 0,9 persen untuk pasar Perancis dan Spanyol yang menetapkan batas legal 1 persen. Sedangkan untuk pasar Eropa lainnya, kadar alkoholnya tetap dipertahankan 0,5 persen.</p>
<p><strong><em>Positioning </em></strong></p>
<p>Temuan penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa dua strategi <em>positioning</em> mungkin dipilih buat Buckler, yaitu: minuman dewasa nonalkohol atau bir nonalkohol. Dalam kedua kasus, tujuannya adalah meningkatkan konsumsi bir nonalkohol, hanya dengan pendekatan yang berbeda. Yang pertama menyiratkan sebagai subtitusi semua minuman ringan, dan yang kedua menawarkan bir alternatif bagi peminum bir.</p>
<p>Tim kerja memperdebatkan pro dan kontra masing-masing strategi. Sebagai minuman nonbir, potensi pasarnya sangat besar. tetapi persaingan untuk mengganti minuman ringan juga sangat ketat, di sana ada cola, air mineral, sari buah, dan kopi, dan masing-masing memiliki strategi <em>positioning</em> dan pemasaran sendiri-sendiri. Mereka sepakat menggunakan strategi ini akan sangat beresiko.</p>
<p>Akhirnya, tim kerja memutuskan untuk mengikuti pilihan kedua. Dari riset pasar di Swiss, mereka sadar bahwa mayoritas bir nonalkohol yang ada di pasar diposisikan sebagai produk bir ketimbang sebagai produk nonbir.</p>
<p>Mereka juga memutuskan untuk menuruti pemikiran pengembangan sebuah produk bir yang semirip mungkin dengan bir <em>lager</em> pada umumnya. Mereka tidak ingin beranjak terlalu jauh dari rasa dan citra bir regular karena mereka ingin konsumen merasa mendapatkan <em>real thing</em> tanpa alkohol ketimbang sesuatu yang <em>inferior</em>.</p>
<p><strong><em>Kelompok Sasaran</em></strong></p>
<p>Kelompok yang dibidik adalah kelompok kelas pendapatan menengah dan atas karena tim sepakat bahwa merekalah yang akan pertama-tama mengurangi konsumsi alkohol dalam minuman mereka. Peminum bir Heineken reguler berusia antara 20 sampai 35 tahun. Dalam bir Buckler, tim memutuskan untuk membidik konsumen berusia 25 sampai 40 tahun, kelompok umur yang cenderung mulai mengkuatirkan tingkat konsumsi alkohol mereka.</p>
<p>Pada awalnya, tim tidak betul-betul tahu apakah mereka harus membidik peminum berat atau ringan. Sejumlah anggota tim percaya bahwa peminum beratlah yang lebih membutuhkan. Namun asebagian anggota yang lain tidak setuju, menurut mereka peminum ringan lebih rasional dalama masalah asupan alkohol. Perdebatan dibiarkan tanpa pemecahan, meskipun pada akhirnya strategi pemasaran final lebih cenderung memilih peminum berat.</p>
<p><strong><em>Penetapan Harga</em></strong></p>
<p>Tim kerja memutuskan untuk memperkenalkan Buckler dengan harga premium walaupun sebenarnya biaya produksinya lebih rendah berkat penghematan cukai. Dengan begitu, mereka yakin kalau produk itu akan lebih mempunyai kredibilitas. Mereka ingin Buckler dipandang sebagai merek dengan citra premium, mengingat citra bir nonalkohol khususnya di masa lalu dipandang sebagai produk bermutu rendah. Tim juga ingin menguatkan kualitas rasa dan membuat konsumen merasa seolah-olah memperoleh sesuatu rasa tanpa alkohol dari pada seolah-olah merasa berkorban dengan membeli produk itu.</p>
<p><strong><em>Merek </em></strong></p>
<p>Selanjutnya, perdebatan juga berpusat pada pertanyaan apakah produk merupakan perluasan lini (<em>line extention</em>) dari merek yang sebelumnya sudah ada ataukah nama yang benar-benar baru. Meskipun perusahaan telah membuat lini pada merek Heineken atau pun Amstal, namun semua merek tersebut mengandung alkohol.</p>
<p>Sejumlah anggota tim berpendapat bahwa bir nonalkohol memiliki konotasi yang negatif, karena itu dengan mengadakan perpanjangan lini pada merek yang sudah ada sebelumnya, perusahaan tidak hanya akan membahayakan kesuksesan merek standar dikuatirkan juga akan membuat konsumen bingung. Namun sebagian anggota lainnya menunjuk pada sejumlah keberhasilan perluasan lini di pasar lokal. Swan Special Light, perluasan dari Swan Export, lager standar, mampu merebut sekitar 40 persen pangsa pasar Australia. Cruz Campo Sin, perluasan Cruz Campo, juga menikmati 40 persen pangsa pasar bir nonalkohol di Spanyol.</p>
<p>Akhirnya tim kerja sepakat menggunakan nama baru, tim kerja meminta agen periklanan internasional, Interbrands, untuk mengembangkan sesuatu yang <em>beer sounding</em>. Setelah beberapa bulan uji preferensi konsumen, termasuk pengecekan masalah hukum dan bahasa pada 25 usulan nama, maka agen tersebut mengajukan dua buah nama yaitu Buckler dan Norlander. Dua agen perancang juga diminta mengembangkan label bir yang berbeda-beda, baik yang bersifat kontemporer maupun yang lebih tradisional. Akhirnya salah satu label tradisional dipilih.</p>
<p><strong><em>Penelitian Pasar</em></strong></p>
<p>Setelah pengembangan produk, mantap dengan strategi <em>positioning</em> dan memilih label traditional, maka usulan nama Norlander dan Buckler akhirnya diujikan. Baik uji kualitatif maupun kuantatif dilaksanakan di empat negara yaitu Belanda, Spanyol, Amerika dan Perancis.</p>
<p>Survey kualitatif meliputi diskusi <em>facus group</em> tentang atribut bir nonalkohol.  Riset kuantitatif meminta responden untuk membandingkan rasa dan citra Buckler dan Norlander dengan merek-merek pesaing: di Spanyol terhadap Cruz Campo Sin, sang pemimpin pasar; di Perancis terhadap Tourtel, juga pemimpin pasar; di Amerika Serikat terhadap merek impor Kaliber; dan di Belanda terhadap Clausthaler, merek impor pemimpin pasar.</p>
<p><strong><em>Peluncuran Produk</em></strong></p>
<p>Manajer Pengembangan Merek, dari Pemasaran Perusahan, mengirimkan memo pada semua perusahaan operator yang memberitahukan usulan rencana pemasaran Buckler. Di dalamnya dijelaskan alasan mengapa tim kerja mengambil keputusan atas berbagai unsur bauran pemasaran, meliputi produk, kemasan, harga, kelompok sasaran, strategi <em>positioning</em>, dan komunikasi. Tujuannya adalah untuk berpartisipasi dalam pasar bir yang berkembang dengan memperkenalkan produk Buckler yang baru dikembangkan sebagai merek internasional dan untuk meraih posisi sebagai pemimpin pasar.</p>
<p><strong><em>Strategi Komunikasi</em></strong></p>
<p>Strategi komunikasi akan memposisikan produk ini sebagai merek premium dengan rasa bir bermutu tinggi. Konsep komunikasi internasional lebih dipentingkan, namun juga masih memungkinkan penyesuaian kondisi setempat. Konsep internasional ini dipilih karena latar belakang pengembangan bir nonalkohol di berbagai negara dirasa kurang lebih sama untuk masing-masing negara.</p>
<p>Dewan Eksekutif akhirnya memutuskan peluncuran produk pada akhir tahun 1987. Pemasaran perusahaan agak terkejut ketika perusahaan operator menunjukkan reaksi yang berbeda-beda terhadap rencana pemasaran. Idelanya mereka ingin memperkenalkan produk itu di seluruh perusahaan operator di Eropa. Namun hanya cabang di Perancis dan Spanyol saja yang tertarik untuk meluncurkan produk itu segera. Divisi Belanda menunda karena Belanda hanya memiliki pasar bir nonalkohol yang kecil pada saat itu. Di Irlandia, perusahaan sedang memperkenalkan Amstel dan beralasan bahwa sumber daya yang ada tidaklah cukup untuk mendukung peluncuran dua merek pada saat yang bersamaan. Perusahaan operator Italia merasa tidak ada pasar di Italia dan karena itu mereka keberatan. Di Yunani, perusahaan setempat melihat kaitan antara gagasan hidup sehat dengan pengurangan konsumsi alkohol belum diterima masyarakat, sehingga mereka juga menolak merek tersebut.</p>
<p><strong><em>Pengembangan Strategi Komunikasi</em></strong></p>
<p>Akhirnya tinggal Spanyol dan Perancis yang tersisa bagi pemasaran perusahaan untuk peluncuran produk dan pengembangan strategi komunikasi. Walaupun Perancis adalah satu-satunya negara yang betul-betul tertarik dengan kampanye periklanan, pemasaran perusahaan tetap ingin terus menerapkan strategi komunikasi Pan Eropa, yaitu dengan satu pesan yang konsisten terhadap seluruh Eropa.</p>
<p><strong>Kampanye Pertama</strong></p>
<p>FHV, sebuah agen periklanan Belanda yang biasa dipakai Heineken, mendapat <em>breifing</em> tentang Buckler. Agen tersebut mengusulkan slogan: <em>sometimes you drink beer, sometimes you drink Buckler</em>. Konsep ini dipaparkan dalam rapat manajer pemasaran semua perusahaan operator di Amsterdam. Namun tak seorang pun memberikan sambutan hangat, khususnya manajer dari Perancis dan Spanyol. Spanyol tidak menyukainya karena terlalu fokus pada pengembangan kategori bir nonalkohol ketimbang merek itu sendiri, sementara pasar bir nonalkohol di Spanyol sudah terbentuk mantap. Rapat berakhir tanpa keputusan. Divisi Perancis dan Spanyol disilahkan membuat iklan mereka.</p>
<p>Kedua perusahaan operator ini mendiskusikan proposal <em>copy</em> periklanan mereka masing-masing sebelum akhirnya memilih usulan Perancis. Di Spanyol dilakukan sedikit perubahan. Misalnya, dalam iklan televisi yang memakai gantole versi Perancis, tidak ada tulisan apa pun di layar. Sementara untuk versi Spanyol terdapat kata Buckler menghiasi layar.</p>
<p><strong>Kampanye Kedua</strong></p>
<p>Dewan Eksekutif melibatkan diri di musim gugur tahun 1988. mereka berkesimpulan Buckler memerlukan strategi komunikasi yang konsisten di seluruh Eropa. Namun kali ini General Manager Spanyol yang ditunjuk mengembangkan strategi komunikasi Pan Eropa untuk bir Buckler. Dengan bantuan agen seleksi periklanan, General Manager dan anggota pemasaran perusahaan memilih agen periklanan internasional Lintas karena usulan mereka: <em>so much taste, you won’t miss the alcohol</em>.</p>
<p>Selanjutnya General Manager itu bersama anggota pemasaran perusahaan memutuskan untuk mengambil posisi lebih obyektif terhadap perusahaan operator. Pertama-tama, mereka ditunjukkan <em>breifing</em> pada agen periklanan yang kemudian mereka terima. Lalu, sebelum pembicaraan kampanye yang sebenarnya dengan perusahaan operator, bagian riset pemasaran perusahaan mengujinya diberbagai negara untuk uji respons. Jika positif, perusahaan operator harus menerimanya. Jika negatif, mereka dapat membuat iklan sendiri. Para manajer Perancis berkeberatan karena mereka tidak ingin melepas kampanye gantole asli mereka. Karena itu, riset pemasaran perusahaan menguji kedua versi dan akhirnya terpilih versi kedua yaitu kisah seorang wartawan yang sibuk memburu berita. Di negara-negara lainnya, Spanyol, Irlandia, dan Belanda, uji terhadap versi ini juga berhasil.</p>
<p>Setahun kemudian, kampanye kedua iklan wartawan ini masih dipakai oleh semua perusahaan operator termasuk Spanyol, Perancis, Belanda, Irlandia, dan pada tahun 1990 akhirnya juga diikuti kedua perusahaan operator terakhir yang mau menerima merek ini yaitu Italia dan Yunani.</p>
<p style="text-align:left;"><strong>DAFTAR RUJUKAN</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Amirullah &amp; Hardjanto, I. 2005. <em>Pengantar Bisnis.</em> Yogyakarta: Graha Ilmu</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Mulyana, D. 2003. <em>Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar</em>. Bandung: PT Remaja Rosdakarya</p>
<p>Nirwana. 2006. <em>Service Marketing Strategy.</em> Malang: DIOMA.</p>
<p>Panuju, R. 2000. <em>Komunikasi Bisnis: Bisnis sebagai Proses Komunikasi, Komunikasi sebagai Kegiatan Bisnis</em>. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama</p>
<p>Phillipson, I. 2008. <em>Buku Pintar Public Relations</em>. Yogyakarta: Image Press</p>
<p>Santoso, E. &amp; Setiansah, M. 2010. <em>Teori Komunikasi.</em> Yogyakarta: Graha Ilmu.</p>
<p>Sulaksana, U. 2003. <em>Integrated Marketing Communications: Teks dan Kasus</em>. Yogyakarta: Pustaka Pelajar</p>
<p>Universitas Negeri Malang. 2000. <em>Pedoman Penulisan Karya Ilmiah (PPKI)</em>. Malang: Universitas Negeri Malang.</p>
<p>Yulianita, N. 2010. <em>Modul Public Relations</em>. Surabaya: Program Pasca Sarjana Magister Ilmu Komunikasi Universitas Dr. Soetomo</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/petiusang.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/petiusang.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/petiusang.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/petiusang.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/petiusang.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/petiusang.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/petiusang.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/petiusang.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/petiusang.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/petiusang.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/petiusang.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/petiusang.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/petiusang.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/petiusang.wordpress.com/97/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=petiusang.wordpress.com&amp;blog=3944821&amp;post=97&amp;subd=petiusang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://petiusang.wordpress.com/2010/12/16/strategi-marketing-public-relations-heineken-n-v-dalam-kasus-produk-baru/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/690aba2b95137eaa8a011f76ea52b14e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">petiusang</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PERENCANAAN DAN PENGELOLAAN KOMUNIKASI</title>
		<link>http://petiusang.wordpress.com/2010/12/16/perencanaan-dan-pengelolaan-komunikasi/</link>
		<comments>http://petiusang.wordpress.com/2010/12/16/perencanaan-dan-pengelolaan-komunikasi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 16 Dec 2010 09:59:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>petiusang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[PERENCANAAN DAN PENGELOLAAN KOMUNIKASI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://petiusang.wordpress.com/?p=95</guid>
		<description><![CDATA[PERENCANAAN DAN PENGELOLAAN KOMUNIKASI &#160; PENDAHULUAN Komunikasi adalah suatu ketrampilan penting yang dibutuhkan dalam manajemen.  Kegiatan komunikasi pada prinsipnya adalah aktivitas pertukaran ide atau gagasan.  Secara sederhana, kegiatan komunikasi dipahami sebagai kegiatan penyampaian dan penerimaan pesan/ ide dari satu pihak ke pihak lain, dengan tujuan untuk mencapai kesamaan pandangan atas ide yang dipertukarkan tersebut. Dalam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=petiusang.wordpress.com&amp;blog=3944821&amp;post=95&amp;subd=petiusang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><strong>PERENCANAAN DAN PENGELOLAAN</strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong>KOMUNIKASI</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>PENDAHULUAN</strong></p>
<p>Komunikasi adalah suatu ketrampilan penting yang dibutuhkan dalam manajemen.  Kegiatan komunikasi pada prinsipnya adalah aktivitas pertukaran ide atau gagasan.  Secara sederhana, kegiatan komunikasi dipahami sebagai kegiatan penyampaian dan penerimaan pesan/ ide dari satu pihak ke pihak lain, dengan tujuan untuk mencapai kesamaan pandangan atas ide yang dipertukarkan tersebut.</p>
<p>Dalam sejarahnya, ilmu komunikasi dikembangkan oleh ilmuwan dari berbagai disiplin ilmu. Sehingga para ilmuwan tersebut mendifinisikan komunikasi menurut sudut pandang mereka masing-masing. Sarah Trenholm dan Arthur Jensen dalam Wiryanto (2004) mendifinisikan komunikasi adalah suatu proses dimana sumber mentransmisikan pesan kepada penerima melalui beragam saluran. Sedangkan menurut Hoveland dalam Wiryanto (2004) komunikasi adalah proses dimana individu mentransmisikan stimulus untuk mengubah perilaku individu yang lain.</p>
<p>Gode dalam Wiryanto (2004) memberi pengertian mengenai komunikasi adalah suatu proses yang membuat kebersamaan bagi dua atau lebih yang semula monopoli oleh satu atau beberapa orang. Raymon S. Ross dalam Wiryanto (2004) mendefinisikan komunikasi sebagai suatu proses menyortir, memilih, dan mengirimkan simbol-simbol sedemikian rupa sehingga membantu pendengar membangkitkan makna atau respons dari pikirannya yang serupa dengan yang dimaksudkan oleh komunikator.</p>
<p>Komunikasi atau <em>communications</em> dalam bahasa Inggris, menurut Mulyana (2003), berasal dari kata Latin <em>communis</em> yang berarti ”sama”, communico, communicatio, atau communicare yang berarti ”membuat sama” (<em>to make common</em>). Istilah pertama (<em>communis</em>) adalah istilah yang paling sering disebut sebagai asal usul kata komunikasi, yang merupakan akar dari kata-kata Latin lainnya yang mirip. Komunikasi menyarankan bahwa suatu pikiran, suatu makna, atau suatu pesan dianut secara sama. Akan tetapi definisi-definisi kontemporer menyarankan bahwa komunikasi merujuk pada cara berbagai hal-hal tersebut, seperti dalam kalimat ”Kita berbagi pikiran”, ”Kita mendiskusikan makna”, dan ”Kita mengirimkan pesan”.</p>
<p>Tujuan komunikasi adalah tujuan yang menyangkut upaya untuk mengubah perilaku sasaran setelah kegiatan komunikasi dilakukan. Rumusan tujuan harus memuat: khalayak sasaran, cakupan jumlah sasaran, dan perubahan perilaku yang diinginkan. Rencana operasional adalah uraian secara konsepsional mengenai sumber daya-sumber daya yang diperlukan dalam penyelenggaraan suatu program atau proyek.</p>
<p>Menurut Nirwana (2006) efektivitas komunikasi melingkupi tahap yang terdiri dari identifikasi khalayak sasaran, penentuan tujuan komunikasi, perancangan pesan, pemilihan saluran komunikasi, penetapan anggaran komunikasi, dan penentuan bauran komunikasi, serta mengukur hasil komunikasi.</p>
<p><strong>PERENCANAAN KOMUNIKASI</strong></p>
<p>Perencanaan adalah pernyataan tertulis mengenai segala sesuatu yang akan atau yang harus dilakukan. Sifat perencanaan selalu berorientasi ke masa yang akan datang (<em>future oriented</em>). Perencanaan komunikasi adalah pernyataan tertulis mengenai serangkaian tindakan tentang bagaimana suatu kegiatan komunikasi akan atau harus dilakukan agar mencapai perubahan perilaku sesuai dengan yang kita inginkan.</p>
<p>Bidang pekerjaan perencanaan merupakan salah satu fungsi pekerjaan manajerial. Oleh karena itu, tingkatannya pun sama dengan tingkatan yang ada pada suatu manajemen, yakni perencanaan strategik, perencanaan taktik, dan perencanaan teknik. Selain itu, tingkatan perencanaan bisa dilihat berdasarkan ruang lingkup jangkauan pembuatan kebijaksanaan. Berdasarkan hal itu, perencanaan komunikasi dapat diklasifikasikan ke dalam: <em>National Policy-making Level</em>, dan <em>Cross-Ministerial Planning Level</em>, dan <em>Institusional Level Planning</em> yang meliputi: <em>managerial-policy level</em>, <em>supervisory-strategy level</em>, dan <em>project-operational level</em>.</p>
<p>Perencanaan Komunikasi merupakan hal mendasar yang diperlukan dalam suatu kegiatan komunikasi sosial, utamanya untuk memperkenalkan atau memasarkan produk. Setelah memahami proses perencanaan dan elemen-elemen komunikasi dalam suatu organisasi, dapat ditemukan beberapa hal yang dapat merupakan masalah dalam perencanaan komunikasi. Menurut Wahyudi (2010) sebuah perencanaan komunikasi harus cermat dan tepat dalam menentukan siapa berbicara apa pada siapa melalui apa.</p>
<p>Tahapan perencanaan komunikasi pada dasarnya terdiri dari: (1) tahap identifikasi masalah komunikasi, (2) tahap perumusan tujuan komunikasi, (3) tahap penetapan rencana strategik, (4) tahap penetapan rencana operasional, (5) tahap penyusunan rencana evaluasi, dan (6) tahap merencanakan rekomendasi. Tahapan-tahapan tersebut harus dilakukan satu persatu secara berurutan, tidak boleh meloncat-loncat.</p>
<p>Dalam tahap identifikasi masalah perlu dilakukan pengumpulan data/fakta/informasi mengenai kondisi khalayak sebagai bahan untuk melakukan analisis khalayak. Perumusan masalah harus berdasarkan pada <em>felt needs</em> dan <em>real needs</em> yang dimiliki oleh khalayak sasaran.</p>
<p>Dalam penjabaran lebih luas, tahapan dalam proses komunikasi dapat disusun sebagai berikut:</p>
<p>1.      Formulasi misi lembaga: pernyataan umum tentang tujuan, filosofi dan alasan berdirinya/keberadaan lembaga yang bersangkutan.</p>
<p>2.      Melakukan analisis terhadap kondisi dan kemampuan internal lembaga (:evaluasi diri).</p>
<p>3.      Melakukan analisis/penilaian terhadap lingkungan eksternal lembaga, yang meliputi para kompetitor dan faktor-faktor eksternal lainnya.</p>
<p>4.      Mengidentifikasi opsi-opsi alternatif, dengan mempertimbangkan existing resources dan lingkungan eksternalnya.</p>
<p>5.      Menganalisa dan menyusun prioritas opsi-opsi tersebut dengan mengacu pada visi/misi lembaga dan mempertimbangkan efektifitas dan efisiensinya dalam mencapai tujuan.</p>
<p>6.      Memilih/merumuskan serangkaian tujuan jangka panjang dan grand strategy yang akan diwujudkan melalui pilihan atau opsi terpilih.</p>
<p>7.      Menyusun tujuan tahunan dan strategi jangka pendek yang sejalan/sesuai dengan tujuan jangka panjang dan grand strategies yang dipilih.</p>
<p>8.      Implementasi opsi-opsi strategis dengan cara alokasi sumber keuangan, sesuai dengan tugas, orang, struktur teknologi dan sistem reward..</p>
<p>9.      Mengevaluasi keberhasilan/kegagalan proses-proses strategis sebagai masukan bagi pembuatan keputusan berikutnya.</p>
<p>Sedangkan elemen utama dalam perencanaan komunikasi terdapat empat macam, yaitu :</p>
<p>1.      Tujuan (<em>Objective</em>). Kondisi masa depan yang akan dicapai</p>
<p>2.      Aksi (<em>Action</em>). Serangkaian kegiatan yang yang dilakukan untuk mencapai tujuan.</p>
<p>3.      Sumber Daya (<em>Resouces</em>). Hal-hal yang dibutuhkan dalam melaksakan aksi.</p>
<p>4.      Pelaksanaan (<em>Implementation</em>). Tata cara dan arah pelaksanaan kegiatan.</p>
<p>Pada proses perencanaan tersebut, dampak ataupun akibat yang dihasilkan sangat bergantung pada ke-empat elemen perencanaan. Dalam proses perencanaan tersebut, peran komunikasi merupakan ketrampilan penting yang harus dimiliki oleh para manager. Karenanya dapat dikatakan pula bahwa perencanaan komunikasi meliputi fungsi-fungsi manajemen , yaitu :</p>
<p>1.      Merencanakan (<em>Planning</em>).</p>
<p>2.      Mengadakan (<em>Organizing</em>).</p>
<p>3.      Mengutamakan (<em>Leading</em>).</p>
<p>4.      Mengawasi (<em>Controlling</em>).</p>
<p>Untuk menunjang keberhasilan perencanaan komunikasi, maka perlu dipahami elemen-elemen yang terdapat dalam komunikasi antara lain:</p>
<ol>
<li>Komunikator      : orang yang menyampaikan pesan. Menurut Aristoteles dalam Wahyudi (2010)      Seorang komunikator harus memiliki ethos sebagai berikut: good sense yaitu      pikiran baik, good moral character yaitu moral baik, serta good will yaitu      maksud yang baik.</li>
<li>Pesan :      ide atau informasi yang disampaikan</li>
<li>Media : sarana komunikasi</li>
<li>Komunikan : audience, pihak yang menerima pesan</li>
<li>Umpan      Balik : respon dari komunikan terhadap pesan yang diterimanya.</li>
</ol>
<p>Dalam kehidupan nyata mungkin ada yang menyampaikan pesan/ide (<em>encoding</em>) yang merupakan hasil pengolahan ide (<em>stimulus</em>) berdasarkan kesan (<em>perception</em>) dan penerjemahan (<em>interpretation</em>) si penyampai ; ada yang menerima atau mendengarkan pesan; ada pesan itu sendiri; ada media (<em>transmission through a channel</em>) dan tentu ada respon berupa tanggapan terhadap pesan (<em>feedback</em>).</p>
<p>Dari skema proses komunikasi diatas, untuk menunjang keberhasilan perencanaan komunikasi dapat dilihat Kesan (<em>Perception</em>) sebagai inti komunikasi. Kesan adalah nuansa rasa manusia kepada obyek tertentu. Kita terkesan, karena ada sesuatu yang menarik dari obyek tersebut. Obyek tersebut bisa berupa barang atau orang. Kita bisa terkesan kepada orang karena bermacam-macam; bisa karena wajah cantiknya, tampan, berkumis; bisa karena kata-katanya, karena janjinya, dan sebagainya. Membuat kesan yang baik, berarti kita harus berbuat dan bersikap tertentu yang membuat agar orang lain tertarik. Dapat dikatakan bahwa kesan/persepsi merupakan inti komunikasi.</p>
<p>Wahyudi (2010) menyebutkan faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi komunikate adalah <em>prior ethos</em> yaitu membentuk gambaran tentang komunikator melalui pengalaman langsung atau pengalaman wakilan, dan <em>intrinsic ethos</em> yaitu membentuk gambaran tentang komunikator melalui topik yang dipilih, cara penyampaian, tehnik pengembangan pokok bahasan dan bahasa yang digunakan.</p>
<p>Menurut <em>Rudolp F.Verdeber </em>dalam buku<em>, Communicate, 1978</em>, kesan atau persepsi dapat didefinikan sebagai interpretasi bermakna atas sensasi sebagai representatif obyek eksternal. Proses menafsirkan informasi Indrawi. Jika persepsi kita tidak akurat kita tidak munglkin bisa berkomunikasi secara efektif .</p>
<p><strong>PARADIGMA PERENCANAAN</strong></p>
<p>Paradigma dapat didefinisikan sebagai cara pandang terhadap sesuatu dengan tata cara tertentu. Perkembangan paradigma dalam perencanaan komunikasi meliputi:</p>
<p>1.      <em>Basic financial planning</em>: mencari/mengembangkan kontroloperasional yang lebih baik melalui budgeting yang sesuai.</p>
<p>2.      <em>Forecast-based planning</em>: mencari/mengembangkan model perencanaan yang lebih baik bagi pertumbuhan dengan cara mencoba memprediksi setelah satu tahun ke depan.</p>
<p>3.      <em>Externally oriented planning</em>: senantiasa meningkatkan derajad responsiveness terhadap perubahan pasar dan competitor dengan cara berfikir strategis.</p>
<p>4.      <em>Strategic management</em>: mengembangkan model pengelolaan terhadap resources yang ada untuk mendapatkan keuntungan yang kompetitif, sekaligus membuka peluang untuk masa selanjutnya.</p>
<p>Paradigma tersebut terus menerus mengalami perubahan, terdapat beberapa hal yang menuntut adanya perubahan paradigma tersebut antara lain adalah:</p>
<p>1.      Kompleksitas kebutuhan dan keinginan stake-holder, serta perubahan kebutuhan konsumen/user yang berkembang dengan pesat.</p>
<p>2.      Persaingan yang semakin ketat di antara para competitor.</p>
<p>3.      Munculnya kesadaran bahwa konsumen/klien dan para user yang lain merupakan bagian yang tak terpisahkan dengan eksistensi lembaga/institusi yang bersangkutan.</p>
<p><strong>MASALAH PERENCANAAN KOMUNIKASI</strong></p>
<p>Dalam berkomunikasi, kita pasti memiliki persepsi tertentu pada pendengar begitu pula sebaliknya. Kekeliruan yang sering terjadi dalam berkomunikasi adalah ketika seseorang menyampaikan informasi dengan ukurannya sendiri. Ini harus dihindarkan karena komunikasi senantiasa melibatkan orang lain. Ahli komunikasi berpesan jika akan berhasil, maka rumusan kunci yang harus dipegang adalah “<em>Know your audience</em>!”</p>
<p>Berkomunikasi ataupun mengkomunikasikan sesuatu tidaklah mudah, beberapa hal yang harus dikaji seksama dalam perencanaan komunikasi antara lain adalah sebagai berikut :</p>
<ol>
<li>Analisa      khalayak, merupakan tahap awal yang sangat menentukan arah dan tujuan      perencanaan. Tahap ini menganalisi segmen masyarakat sasaran yang kita      hadapi dari segi sosiodemografis (pendidikan, usia, jenis kelamin, etnis,      kepercayaan, bahasa, pekerjaan) dan juga dari segi psikografis (aspirasi,      kesenangan, dan kebiasaan kebiasaan). Pemahaman komprehensif mengenai      tatanan masyarakat ini diperlukan untuk menentukan khalayak sasaran dan      format kegiatan yang sesuai dengan keinginan komunikator dan kebutuhan      khalayak sasaran.</li>
<li>Perumusan      tujuan. Tahap ini untuk menentukan apa yang ingin dicapai dengan      program-program yang dilakukan .</li>
<li>Pemilihan Media. Langkah pemilihan media sebagai saluran pesan memerlukan kecermatan,      dengan mempertimbangkan kelemahan dan keunggulan sifat masing-masing      media. Setidaknya diperlukan media yang dapat di akses oleh      masyarakat sasaran.</li>
<li>Rancangan Pesan. Diperlukan upaya terus-menerus dalam      meningkatkan ketrampilan komunikator agar senantiasa mengetahui      perkembangan dan wacana masyarakat. Selain bobot materi yang harus      diperhatikan, juga kesesuaian pola pikir masyarakat sasaran yang dihadapi,      termasuk kesesuaian media yang digunakan. Peran kreatifitas komunikator      menjadi hal utama.</li>
<li>Produksi dan distribusi media. Produksi media      berkaitan dengan kemasan pesan. Karena itu unsur estetika sangat berperan      untuk menarik perhatian masyarakat. Demikian juga dengan distribusi pesan, dimana pemilihan waktu yang      tepat menjadi kunci keberhasilan distribusi.</li>
<li>Evaluasi.      Tahap ini melihat bagaimana program berjalan sesuai dengan tujuan, sejauh      mana program yang dirancang telah tercapai, faktor-faktor pendukung dan      penghambat selama program berjalan.</li>
</ol>
<p>Secara umum, masalah yang harus diperhatikan dalam perencanaan komunikasi sebagaimana tersebut di atas dapat dikategorikan sebagai berikut:</p>
<ol>
<li><em>Objective</em> (Tujuan). Meliputi perumusan tujuan.</li>
<li><em>Action</em>.      Meliputi analisis khalayak.</li>
<li><em>Resources</em>. Meliputi rancangan pesan, dan      kualitas komunikator.</li>
<li><em>Implementation</em>.      Meliputi pemilihan media, dan produksi dan distribusi media.</li>
<li><em>Performance      Outcome</em>. Meliputi evaluasi.</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>DAFTAR RUJUKAN</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Anonymous. 2010. <em>Negosiasi</em><em>. </em>(Online), (http://www.massofa.wordpress.com/2008/04/16/tahapan-dalam-perencanaan-komunikasi/. Diakses 25 Nopember 2010)</p>
<p>Erna, A. 2007. <em>Perencanaan Komunikasi dan Masalahnya</em><em>. </em>(Online), (http://www.awandaerna.multiply.com/journal/item/3/PERENCANAAN_KOMUNIKASI_DAN_MASALAHNYA. Diakses 25 Nopember 2010)</p>
<p>Mulyana, D. 2003. <em>Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar</em>. Bandung: PT Remaja Rosdakarya</p>
<p>Nirwana. 2006. <em>Service Marketing Strategy.</em> Malang: DIOMA.</p>
<p>Santoso, E. &amp; Setiansah, M. 2010. <em>Teori Komunikasi.</em> Yogyakarta: Graha Ilmu.</p>
<p>Sendjaja, S. D. 1999. <em>Pengantar Komunikasi</em>. Jakarta: Universitas Terbuka.</p>
<p>Universitas Negeri Malang. 2000. <em>Pedoman Penulisan Karya Ilmiah (PPKI)</em>. Malang: Universitas Negeri Malang.</p>
<p>Wahyudi, R. O. B. 2010. <em>Modul Perencanaan dan Pengelolaan Komunikasi</em>. Surabaya: Program Pasca Sarjana Magister Ilmu Komunikasi Universitas Dr. Soetomo</p>
<p>Wiryanto. 2004. <em>Pengantar Ilmu Komunikasi</em>. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/petiusang.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/petiusang.wordpress.com/95/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/petiusang.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/petiusang.wordpress.com/95/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/petiusang.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/petiusang.wordpress.com/95/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/petiusang.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/petiusang.wordpress.com/95/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/petiusang.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/petiusang.wordpress.com/95/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/petiusang.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/petiusang.wordpress.com/95/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/petiusang.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/petiusang.wordpress.com/95/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=petiusang.wordpress.com&amp;blog=3944821&amp;post=95&amp;subd=petiusang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://petiusang.wordpress.com/2010/12/16/perencanaan-dan-pengelolaan-komunikasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/690aba2b95137eaa8a011f76ea52b14e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">petiusang</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PENGARUH LOBBY YAHUDI</title>
		<link>http://petiusang.wordpress.com/2010/12/16/pengaruh-lobby-yahudi/</link>
		<comments>http://petiusang.wordpress.com/2010/12/16/pengaruh-lobby-yahudi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 16 Dec 2010 09:56:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>petiusang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[PENGARUH LOBBY YAHUDI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://petiusang.wordpress.com/?p=93</guid>
		<description><![CDATA[PENGARUH LOBBY YAHUDI PENGERTIAN LOBBY DAN NEGOSIASI Disadari maupun tidak, setiap orang sebenarnya adalah seorang negosiator. Dalam keseharian hidup, setiap orang kerap melakukan lobby dan negosiasi untuk mewujudkan apa yang diinginkannya. Lobby dan negosiasi hampir selalu muncul dalam setiap aspek kehidupan manusia, baik secara individual ataupun kelompok. Pengertian lobby menurut Pareno (2010) berasal dari bahasa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=petiusang.wordpress.com&amp;blog=3944821&amp;post=93&amp;subd=petiusang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>PENGARUH LOBBY YAHUDI</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>PENGERTIAN LOBBY DAN NEGOSIASI</strong></p>
<p>Disadari maupun tidak, setiap orang sebenarnya adalah seorang negosiator. Dalam keseharian hidup, setiap orang kerap melakukan lobby dan negosiasi untuk mewujudkan apa yang diinginkannya. Lobby dan negosiasi hampir selalu muncul dalam setiap aspek kehidupan manusia, baik secara individual ataupun kelompok.</p>
<p>Pengertian lobby menurut Pareno (2010) berasal dari bahasa Inggris yaitu <em>Lobbying</em> yang mempunyai dua arti. Pertama, berarti ruang tunggu di gedung, hotel, atau gedung parlemen. Kedua, berarti upaya untuk mempengaruhi pembuat keputusan, baik anggota parlemen maupun pejabat pemerintah. Melihat pengertian di atas maka dalam konteks Lobby Yahudi ini maka pengertian lobi yang akan digunakan adalah pengertian yang kedua. Sedangkan pengertian lobby berdasarkan New Oxford American Dictionary (<em>2nd Edition</em>), lobby diartikan sebagai upaya untuk memengaruhi seseorang (pejabat politik atau publik) atas suatu isu.</p>
<p>Dalam konteks komunikasi, Pareno (2010) berpendapat lobby merupakan komunikasi interpersonal, yaitu komunikasi antar seseorang dengan seseorang. Meskipun pihak yang dilobby lebih dari satu orang, lobby tetap merupakan komunikasi interpersonal. Namun komunikasi interpersonal tersebut dapat berubah menjadi komunikasi kelompok apabila pihak yang melakukan lobby dan yang dilobby masing-masing berjumlah lebih dari lima sampai sepuluh orang.</p>
<p>Hampir sama dengan lobby, negosiasi menurut Pareno (2010) berasal dari bahasa Inggris yaitu <em>negotiation</em>. Dalam kamus lengkap Wojowasito &amp; Wasito (1980) <em>negotiation</em> berarti merundingkan, atau menyingkirkan kesukaran. Sedangkan Kamus Besar Bahasa Indonesia mengartikan negosiasi sebagai proses tawar-menawar dengan jalan berunding untuk memberi atau menerima guna mencapai kesepakatan bersama antara satu pihak (kelompok atau organisasi) dengan pihak lain.</p>
<p>Dari pengertian di atas, baik lobby maupun negosiasi pada prinsipnya memiliki makna yang sama, yaitu membuka ruang pertukaran sumber daya untuk memenuhi kebutuhan. Perbedaan atas keduanya lebih pada bentuknya. Bentuk formal biasa disebut negosiasi, sedangkan bentuk informal dinyatakan sebagai lobby. Proses lobby tidak terikat waktu dan tempat, dan bisa dilakukan terus menerus dalam waktu panjang. Namun proses lobby juga memerlukan kemampuan komunikasi interpersonal yang lebih tinggi dibandingkan dengan negosiasi. Kemampuan interpersonal ini dipakai untuk mengolah proses pertukaran kepentingan dalam situasi yang nyaman dan bersahabat.</p>
<p>Apabila lobby bersifat nonformal, yang berarti tidak mengikat pihak yang melakukan lobby dan pihak yang menerima lobby, maka dalam negosiasi apabila sudah melahirkan kesepakatan harus mengikat kedua belah pihak. Oleh karena itu negosiasi biasanya dilanjutkan dengan MOU (<em>Memorandum of Understanding</em>), kontrak atau surat perjanjian, dan tindakan. Dalam lobby, yang aktif adalah pihak yang melakukan lobby. Sedangkan dalam negosiasi kedua belah pihak sama-sama aktif.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>LOBBY YAHUDI</strong></p>
<p><strong>Latar Belakang Yahudi di Amerika Serikat</strong></p>
<p>Kedatangan Yahudi di Amerika Serikat berawal pada tahun 1492, dimana dalam pelayarannya, Christoper Columbus yang mengikut sertakan sekolompok Yahudi setelah lebih dari 300.000 orang Yahudi diusir dari Spanyol. Pelayaran yang membuka mata dunia barat terhadap separuh bumi yang lain tersebut tidak lepas dari peran orang-orang Yahudi. Terdapat lima orang Yahudi dalam pelayaran Columbus tersebut, yakni Luis de Torres, penerjemah; Marco, ahli bedah; Bernal, dokter; Alonzo de la Caile dan Gabriel Sanchez.</p>
<p>Menurut Henry Ford dalam bukunya yang diterbitkan tahun 1977 dalam <em>The International Jew</em> dalam Ford (2006) kalangan Yahudi melihat Amerika bak sebuah tanah yang penuh buah. Sehingga mendorong terjadinya gelombang imigrasi ke Amerika Selatan, khususnya Brasil. Namun karena campur tangan militer dalam persengketaan orang Brazil dan Belanda, maka orang-orang Yahudi Brazil tergerak untuk berimigrasi. Mereka kemudian berpindah ke koloni Belanda yang sekarang dikenal sebagai New York. Gubernur Belanda, Peter Stuyvesant tidak setuju dengan kehadiran Yahudi tersebut dan memerintahkan mereka untuk pergi. Namun orang-orang Yahudi sudah melakukan tindakan untuk mencegah terjadinya pengusiran dengan melakukan lobby kepada para pengusaha. Kemudian para direktur tersebut mengemukakan alasan agar kalangan Yahudi dapat diterima, yaitu karena orang-orang Yahudi telah banyak menanam modal di perusahaan-perusahaan mereka.</p>
<p>Meski akhirnya dapat tinggal, akan tetapi orang-orang Yahudi tetap dilarang memasuki pelayanan publik dan membuka toko-toko ritel. Sehingga mereka beralih ke perdagangan luar negeri dan dengan cepat memonopoli berkat jaringan koneksi mereka di Eropa.</p>
<p>Kebijakan Gubernur Belanda, Peter Stuyvesant tersebut tanpa disadari telah mendorong orang-orang Yahudi untuk membangun New York menjadi pelabuhan utama di Amerika. New York kemudian justru menjadi pusat populasi kaum Yahudi di dunia. Bagian terpenting dari kota itu jatuh dalam genggaman orang-orang Yahudi.</p>
<p>Dalam Ford (2006) disebutkan para penulis Yahudi yang menyaksikan kemakmuran itu menyatakan bahwa Amerika Serikat merupakan Tanah Yang Dijanjikan. New York adalah Yerusalem baru, bahkan sebagian penulis menyebutkan puncak-puncak pegunungan Rocky asebagai pegunungan Zion.</p>
<p>Pada jaman George Washington, sudah terdapat sekitar 4.000 orang Yahudi di negara itu yang sebagian besar adalah pedagang-pedagang sukses. Mereka menyokong kepentingan Amerika dan membantu koloni-koloni revolosioner dengan memberikan pinjaman pada masa-masa kritis.</p>
<p>Daftar bisnis yang dikontrol oleh Yahudi Amerika Serikat meliputi industri-industri paling vital. Industri yang benar-benar vital dan melalui cara-cara tertentu membuat beberapa industri tampak menjadi vital. Berbagai bisnis berskala nasional maupun internasional berada dibawah kontrol Yahudi Amerika, baik dilakukan sendiri maupun bekerjasama dengan jaringan Yahudi di luar negeri.</p>
<p>Menurut Ford (2006) contoh-contoh kemakmuran Yahudi di Amerika serikat adalah hal yang sudah lazim, tetapi kemakmuran tidaklah dicampuradukkan dengan kontrol. Dalam kondisi yang serupa, rasanya mustahil non-Yahudi bisa merebut kontrol yang dipegang Yahudi. Alasannya, karena kurangnya solidaritas di antara mereka sendiri, kurangnya konspirasi untuk mencapai tujuan tertentu, kurangnya keeratan antar-ras. Itu semua merupakan ciri yang membedakan mereka dengan orang-orang Yahudi. Tidak ada rasa persatuan di antara orang non-Yahudi. Di lain pihak, bagi orang Yahudi, setiap orang Yahudi bagaikan saudara sendiri.</p>
<p>Moses Hess dalam bukunya yang berjudul <em>Rome and Yerusalem</em> dalam Ford (2006) mengemukakan orang-orang Yahudi lebih dari sekedar pengikut sebuah agama. Mereka adalah ras, sebuah persaudaraan, bangsa. Pendapat tersebut dibenarkan oleh Bertram B Benas dalam bukunya <em>Zionism: the National Jewish Movement</em> yang menyebutkan bahwa entitas Yahudi secara esensial adalah entitas sebuah bangsa.</p>
<p><strong>Peran Lobby dalam Kebijakan Amerika Serikat</strong></p>
<p>Dalam Pemerintahan Amerika Serikat, para politikus secara berkala berupaya membentuk persepsi tentang perhatian nasional dan untuk meyakinkan wakil rakyat pembuat perundang-undangan dan presiden untuk mengadopsi pilihan-pilihan kebijakan mereka. Pengaruh kompetisi antar fraksi tersebut menurut Mearsheimer dan Walt (2006) sangatlah terkenal dan dipuji oleh James Madison dalam bukunya ”Federal Nomor.10” dimana kompetisi tersebut mempengaruhi kelompok-kelompok politik yang berbeda dalam membentuk aspek kebijakan luar negeri Amerika, termasuk dalam hal keputusan untuk berperang.</p>
<p>Suatu kelompok politik tertentu yang berkuasa dapat mempengaruhi penentuan sebuah kebijakan yang sebenarnya dapat berdampak tidak baik bagi negara secara keseluruhan. Sebuah harga yang dibayarkan dengan bertujuan untuk melindungi industri-industri tertentu dari kompetisi dengan pihak asing dapat menguntungkan perusahaan-perusahaan tertentu tetapi bukan banyak konsumen yang harus membayar bagi produk barang industri tersebut.</p>
<p>Sebagai contoh kasus, Asosiasi Persenjataan Nasional Amerika Serikat sukses dalam menghalangi pembentukkan Dewan Pengontrol Senjata Api yang tentunya menguntungkan pihak produsen dan distributor dan mengabaikan protes dari masyarakat akan kekerasan yang diakibatkan oleh kepemilikan senjata api.</p>
<p>Contoh kasus lainnya dapat ditemukan ketika pelobi terdahulu dari Institut Perminyakan Amerika Serikat menjabat sebagai Ketua Staff di Gedung Putih untuk Komisi Kualitas Lingkungan Hidup yang menggunakan jabatannya untuk menggagalkan laporan tentang hubungan antara emisi gas rumah kaca dan pemanasan global dimana menyebabkan kekawatiran bahwa industri perminyakan akan melindungi kepentingannya dengan cara yang dapat membahayakan banyak pihak.</p>
<p><strong>Mengenal Lobby Yahudi</strong></p>
<p>Lobby Yahudi atau Lobby Israel dapat dipahami sebagai istilah koalisi dari berbagai individu dan organisasi yang secara aktif bekerja untuk membentuk kebijakan luar negeri Amerika Serikat yang mengarah pada pro-Israel. Lobby Yahudi ini tidak hanya bergerak sendiri, berbagai organisasi dan individu yang terlibat dalam lobby bergerak secara terbuka dan dengan cara yang sama dengan tindakan para kelompok politik lainnya.</p>
<p>Lobby Yahudi digunakan oleh Pemerintah Amerika Serikat adalah pada saat menentukan kebijakan luar negeri yang berkaitan dengan Konflik Timur Tengah. Berbagai pertanyaan akan kebijakan terhadap Timur Tengah yang berbeda untuk saat ini. Para pihak pendukung Israel selalu berhasil memaksakan untuk menyebarluaskan bahwa kebijakan Amerika Serikat haruslah selalu memperhatikan kepentingan Israel.</p>
<p>Walaupun beberapa pihak internal Pemerintah Amerika Serikat tidak setuju dengan kondisi tersebut dan berpendapat bahwa haruslah diadopsi pendekatan berbeda dengan tidak menitikberatkan pada kepentingan Amerika Serikat atau Israel.</p>
<p><strong>Pengaruh Lobby Yahudi dalam Kebijakan Amerika Serikat</strong></p>
<p>Henry Ford dalam bukunya yang diterbitkan tahun 1977 dalam <em>The International Jew</em> dalam Ford (2006) pernah berpendapat bahwa masalah Yahudi bukanlah jumlah orang Yahudi yang tinggal di Amerika. Bukan pula kecemburuan Amerika terhadap keberhasilan orang-orang Yahudi. Bukan pula sikap keberatan terhadap agama Musa, Yahudi. Masalah Yahudi adalah sesuatu yang lain. Dan sesuatu yang lain itu adalah fakta adanya pengaruh Yahudi dalam kehidupan negara tempat mereka tinggal. Di Amerika Serikat, masalah Yahudi merupakan pengaruh mereka dalam kehidupan rakyat Amerika.</p>
<p>Pada kenyataannya, Pemerintah Amerika Serikat menurut Mearsheimer dan Walt (2006) selalu mendukung agar Negara Israel untuk tetap eksis atau ada keberadaannya.. Dengan melihat situasi tersebut tentunya lebih berpengaruh dibandingkan dengan pesaing potensial utamanya seperti melalui ”Lobby Arab” atau ”Lobby Minyak” yang dilakukan oleh keturunan negara-negara Timur Tengah di Amerika Serikat.</p>
<p>Meskipun jarang terjadi, berbagai macam aspek dari kegiatan lobby bertujuan untuk mempengaruhi kebijakan Pemerintah Amerika Serikat dalam berbagai cara seperti yang dilakukan oleh kelompok pengamat lainnya. Pihak-pihak tersebutlah yang dapat dipastikan sebagai ”Komunitas Pendukung Yahudi” atau ”Gerakan Menolong Israel”. Karena kegiatan lobby para kelompok inti tersebut maka istilah ”Lobby Yahudi” lebih dikenal secara umum seperti halnya digunakan dalam bidang lobby pertanian, lobby asuransi, lobby senjata atau lobby etnis lainnya.</p>
<p>Bahkan J. J Goldberg dalam bukunya <em>Jewish Power: Inside the Jewish Establishment</em> dalam Petras (2008) mengemukakan bahwa berdasarkan pada data di awal tahun 1990-an, tercatat 45 persen dari penggalangan dana untuk Partai Demokrat dan 25 persen pendanaan untuk untuk Partai Republik berasal dari Komite Aksi Politik (Political Action Committees/PACs), badan dana Yahudi. Angka yang lebih tinggi dikemukakan dalam survei oleh Ricard Cohen dari <em>Wahington Post</em>. Hasil survei tersebut adalah 60 persen pendanaan untuk Partai Demokrat berasal dari PACs Yahudi pro-Israel dan 35 persen untuk Partai Republik.</p>
<p>Seperti pada kelompok pengamat khusus lainnya, Group pendukung Yahudi adalah Organisasi Zionis Amerika (ZOA) dengan seorang tokoh utama yaitu Malcolm Hoenlein, sebagai Wakil Ketua Eksekutif Konferensi Presidentil Organisasi Yahudi Amerika Mayoritas. Diluar itu secara jelas terdapat juga kelompok dan individu dengan posisi yang membingungkan dan bukan merupakan bagian dari lobby Yahudi yaitu Asosiasi Nasional Arab-Amerika dengan tokoh utamanya Rashid Khalidi, Akademisi Universitas Kolombia.</p>
<p>Lobby Yahudi memiliki sebuah inti yang terdiri dari berbagai organisasi untuk mendorong Pemerintah Amerika Serikat secara berkesinambungan tetap membantu Israel tentunya tanpa secara konsisten aktif sebagai kelompok lobby Yahudi seperti para juru runding yang tergabung dalam Komite Urusan Publik Amerika-Israel (AIPAC), para anggota peneliti pada Institut Washington untuk Kebijakan Timur Jauh (WINEP) atau kepemimpinan organisasi seperti Liga Anti Penentang (ADL) dan Persatuan Umat Kristen untuk Israel (CUFI).</p>
<p>Mereka adalah pendukung hak-hak orang Yahudi dan Negara Israel yang bertujuan meyakinkan Pemerintah Amerika Serikat untuk memberikan bantuan perlindungan bagi Israel saat dalam bahaya. Seorang senior yang secara konsisten memberikan voting suaranya untuk mendukung Israel tidak perlu menjadi kelompok inti lobby Yahudi karena mereka dibutuhkan untuk memberikan tanggapan untuk menghadapi tekanan politik yang diluncurkan kelompok pengamat  Anti-Israel.</p>
<p>Persyaratan untuk menjadi bagian dari kelompok lobby Yahudi, seseorang haruslah aktif bekerja menggegolkan kebijakan ke arah Pro-Israel. Untuk sebuah organisasi, harus menjadi bagian penting dari misi tersebut dan bagi seseorang harus mengorbankan kehidupan pribadinya. Mereka adalah seperti seorang reporter New York Times, David Sanger, Profesor Bruce Jentleson dari Universitas Duke dan kolumnis Washington Post, Charles Krauthammer atau pendiri Universitas Sejarah Princeto, Bernard Lewis.</p>
<p>Beberapa tokoh lobby Yahudi terkemuka adalah Morton Klein dari Organisasi Zionis Amerika (ZOA), John Hagee dari Persatuan Umat Kristen untuk Israel (CUFI), Rael Jean Isaac dari Amerika untuk Keselamatan Israel dan Dennis Ross dari Institut Washington untuk Kebijakan Timur Jauh (WINEP) serta Martin Indyk dari Lembaga Brrokings. Mereka adalah orang-orang yang berkepentingan untuk menetapkan negosiasi dan terkadang harus mengkritisi tindakan Israel tertentu walaupun ketika Israel mengambil langkah berhadapan dengan Amerika Serikat, dan setiap orang tersebut haruslah siap memberikan kehidupan profesionalnya untuk mendorong dukungan singkat ini. Oleh sebab itu, walaupun terbukti salah tetapi lobby Yahudi yang dilakukan adalah suatu kesatuan, dengan kurang lebih menggambarkan suatu koalisi, dimana hal tersebut merupakan kesalahan untuk menyingkirkan seseorang yang aktif bekerja untuk menggalangkan kerjasama khusus dengan negara Yahudi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>DAFTAR RUJUKAN</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Anonymous. 2010. <em>Negosiasi</em><em>. </em>(Online), (http://www.edo.web.id/wp/2007/08/14/negosiasi. Diakses 25 Nopember 2010)</p>
<p>Ford, H. 2006. <em>The Internasional Jews: Membongkar Makar Zionisme Internasional.</em> Jakarta: Penerbit Hikmah</p>
<p>Mearsheimer, J. J. &amp; Walt, S. M. 2006. <em>The Israel Lobby and US Foreign Policy.</em> New York: Anonymous</p>
<p>Mulyana, D. 2003. <em>Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar</em>. Bandung: PT Remaja Rosdakarya</p>
<p>Pareno, S. A. 2010. <em>Modul Lobby dan Negosiasi</em>. Surabaya: Program Pasca Sarjana Magister Ilmu Komunikasi Universitas Dr. Soetomo</p>
<p>Petras, J. 2008. <em>The Power of Israel in USA: Zionis Mencengkeram Amerika dan Dunia.</em> Jakarta: Zahra Publishing House</p>
<p>Santoso, E. &amp; Setiansah, M. 2010. <em>Teori Komunikasi.</em> Yogyakarta: Graha Ilmu.</p>
<p>Suryadi, B. 2010. <em>Negosiasi yang Berhasil</em><em>. </em>(Online), (http://www.sinarharapan.co.id. Diakses 25 Nopember 2010)</p>
<p>Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa. 2008. <em>Kamus Bahasa Indonesia</em>. Jakarta: Pusat Bahasa</p>
<p>Universitas Negeri Malang. 2000. <em>Pedoman Penulisan Karya Ilmiah (PPKI)</em>. Malang: Universitas Negeri Malang.</p>
<p>Wojowasito, S. &amp; Wasito, T. 1980. <em>Kamus Lengkap: Inggris-Indonesia,  Indonesia-Inggris.</em> Bandung: Hasta.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/petiusang.wordpress.com/93/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/petiusang.wordpress.com/93/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/petiusang.wordpress.com/93/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/petiusang.wordpress.com/93/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/petiusang.wordpress.com/93/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/petiusang.wordpress.com/93/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/petiusang.wordpress.com/93/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/petiusang.wordpress.com/93/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/petiusang.wordpress.com/93/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/petiusang.wordpress.com/93/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/petiusang.wordpress.com/93/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/petiusang.wordpress.com/93/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/petiusang.wordpress.com/93/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/petiusang.wordpress.com/93/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=petiusang.wordpress.com&amp;blog=3944821&amp;post=93&amp;subd=petiusang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://petiusang.wordpress.com/2010/12/16/pengaruh-lobby-yahudi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/690aba2b95137eaa8a011f76ea52b14e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">petiusang</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>TEORI BELAJAR</title>
		<link>http://petiusang.wordpress.com/2010/12/16/teori-belajar/</link>
		<comments>http://petiusang.wordpress.com/2010/12/16/teori-belajar/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 16 Dec 2010 09:47:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>petiusang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Psikologi]]></category>
		<category><![CDATA[TEORI BELAJAR]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://petiusang.wordpress.com/?p=89</guid>
		<description><![CDATA[TEORI BELAJAR Pengertian Belajar Manusia tidak pernah terlepas dari kegiatan belajar dalam setiap aktifitas kehidupannya. Belajar dapat diartikan sebagai proses dari tidak tahu menjadi tahu yang dapat menyebabkan adanya perubahan  perilaku. Perubahan perilaku itulah yang menjadi inti dari belajar itu sendiri, atau bisa disebut juga sebagai hasil belajar. Perubahan perilaku tersebut relatif menetap, namun dapat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=petiusang.wordpress.com&amp;blog=3944821&amp;post=89&amp;subd=petiusang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3>TEORI BELAJAR</h3>
<p><strong>Pengertian Belajar</strong></p>
<p>Manusia tidak pernah terlepas dari kegiatan belajar dalam setiap aktifitas kehidupannya. Belajar dapat diartikan sebagai proses dari tidak tahu menjadi tahu yang dapat menyebabkan adanya perubahan  perilaku. Perubahan perilaku itulah yang menjadi inti dari belajar itu sendiri, atau bisa disebut juga sebagai hasil belajar. Perubahan perilaku tersebut relatif menetap, namun dapat berubah apabila ada proses belajar yang lain.</p>
<p>Perubahan perilaku melalui hasil latihan dan pengalaman yang merupakan pengaruh dari proses belajar dapat muncul pada saat itu juga, atau bisa menjadi potensi yang muncul tidak pada saat itu juga.</p>
<p><strong>Pengertian Teori Belajar</strong></p>
<p>Teori belajar merupakan upaya untuk mendeskripsikan bagaimana manusia belajar, sehingga membantu kita semua memahami proses inhern yang kompleks dari belajar. Ada tiga perspektif utama dalam teori belajar, yaitu <em>Behaviorisme</em>, <em>Kognitivisme</em>, dan <em>Konstruktivisme</em>. Pada dasarnya teori pertama dilengkapi oleh teori kedua dan seterusnya, sehingga ada varian, gagasan utama, ataupun tokoh yang tidak dapat dimasukkan dengan jelas termasuk yang mana, atau bahkan menjadi teori tersendiri. Pemahaman yang penting untuk meningkatkan kualitas pembelajaran adalah teori mana yang baik untuk diterapkan pada situasi dan kondisi tertentu, serta teori mana yang sesuai untuk situasi dan kondisi yang lain.</p>
<p><strong>A. Behaviorisme</strong></p>
<p>Behaviorisme berasal dari kata <em>behave</em> yang berarti perilaku dan <em>isme</em> yang berarti aliran. Secara etimologi, behaviorisme dapat kita artikan sebagai aliran yang mempelajari perilaku. Behaviorisme dapat didefinisikan sebagai pendekatan dalam psikologi yang didasarkan atas proposisi atau gagasan awal bahwa perilaku dapat dipelajari dan dijelaskan secara ilmiah.</p>
<p>Karakteristik esensial dari pendekatan behaviorisme terhadap belajar adalah pemahaman terhadap kejadian di lingkungan untuk memprediksi perilaku seseorang.  Fokus behaviorisme adalah respon terhadap berbagai tipe stimulus. Dalam pendekatan ini manusia bersifat statis, jadi dia dibentuk oleh lingkungan.</p>
<p>Beberapa tokoh yang memiliki pengaruh kuat dalam aliran ini adalah Ivan Pavlov dengan teorinya yang disebut <em>Classical Conditioning</em>, BF Skinner dengan teorinya <em>Operant Conditioning</em>, John B Watson dengan teorinya <em>behavioris S-R</em> (<em>Stimulus Respons</em>), dan Edward Thorndike dengan teorinya <em>Law of Effect</em>.</p>
<ol>
<li><strong>Teori      Pengkondisian Klasik (<em>Classical      Conditioning</em>) oleh Ivan Pavlov</strong></li>
</ol>
<p>Teori ini disebut juga <em>learned reflexes</em> atau refleks karena latihan, sebagian ahli juga menyebutnya sebagai teori belajar asosiatif. Teori ini ditemukan di dekade 1890-an, namun baru diterbitkan pada tahun 1927 dalam <em>Conditioned reflexes: An Investigation of the physiological Activity of the Cerebral Cortex</em>.</p>
<p>a.       Percobaan Pavlov</p>
<p>Percobaan tersebut dilakukan pada seekor anjing, kegiatannya adalah memberi makan anjing eksperimen dan mengukur volume air liur anjing tersebut di waktu makan. Setelah prosedur yang sama dilakukan beberapa kali, ternyata anjing tersebut mengeluarkan air liur sebelum menerima makanan. Pavlov menyimpulkan bahwa beberapa stimulus baru seperti pakaian peneliti yang serba putih, telah diasosiasikan oleh anjing tersebut dengan makanan sehingga menimbulkan respons keluarnya air liur.</p>
<p>Proses <em>conditioning</em> biasanya mengikuti prosedur umum yang sama. Misalkan seorang pakar psikologi ingin mengkondisikan seekor anjing untuk mengeluarkan air liur ketika mendengar bunyi lonceng. Sebelum <em>conditioning</em>, stimulus tanpa pengkondisian (makanan dalam mulut) secara otomatis menghasilkan respons tanpa pengkondisian (mengeluarkan air liur) dari anjing tersebut. Selama pengkondisian, peneliti membunyikan lonceng dan kemudian memberikan makanan pada anjing tersebut.</p>
<p>Bunyi lonceng tersebut disebut stimulus netral karena pada awalnya tidak menyebabkan anjing tersebut mengeluarkan air liur. Namun, setelah peneliti mengulang-ulang asosiasi bunyi lonceng-makanan, bunyi lonceng tanpa disertai makanan akhirnya menyebabkan anjing tersebut mengeluarkan air liur. Anjing tersebut telah belajar mengasosiasikan bunyi lonceng dengan makanan. Bunyi lonceng menjadi <em>stimulus dengan pengkondisian</em> (<em>conditioning Stimulus/CS</em>), dan keluarnya air liur anjing disebut <em>respons dengan pengkondisian</em> (<em>Unconditioning Stimulus</em>/<em>UCS</em>).</p>
<p>b.      Prinsip Pengkondisian Klasik Pavlov</p>
<p>Terdapat empat proses dalam teori ini, antara lain:</p>
<p>1)      Fase Akuisisi (fase dengan pengkondisian)</p>
<p>2)      Fase Eliminasi (fase tanpa pengkondisian)</p>
<p>3)      Generalisasi</p>
<p>4)      Diskriminasi</p>
<p>c.       Penjelasan Teori Pengkondisian Klasik Pavlov</p>
<p>Teori ini membentuk perilaku tertentu dengan stimulus tertentu yang pada awalnya tidak menimbulkan respon apapun. Di dalam teori ini dikenal pula <em>extintion</em> atau pemadaman, yaitu eliminasi/pemadaman terhadap <em>stimulus dengan pengkodisian</em> yang telah dibentuk sebelumnya, atau dengan kata lain eliminasi respons kondisi dengan mengulang-ulang stimulus kondisi tanpa stimulus utama.</p>
<p>Sebagai contoh anjing yang telah dikondisikan keluar sir liur saat mendengar lonceng, kemudian diperdengarkan lonceng tanpa diberikan makanan. Prosedur tersebut dilakukan secara berulang-ulang sehingga akhirnya anjing tersebut tidak akan lagi mengeluarkan air liur saat mendengarkan bunyi lonceng.</p>
<p>Teori ini lebih tepat digunakan untuk mahluk hidup yang memiliki perkembangan kognitif belum optimal/pemikiran yang belum kompleks.</p>
<ol>
<li><strong>Teori Pengkondisian Disadari (<em>Operant Conditioning</em>) oleh BF Skinner</strong></li>
</ol>
<p>Operant conditioning merupakan suatu tipe belajar yang melibatkan penguatan dan hukuman.</p>
<ol>
<li><strong>Teori Stimulus Respons oleh John B Watson</strong></li>
<li><strong>Hukum Efek dan Teori Koneksionisme oleh      Edward Thorndike</strong></li>
</ol>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>B. Kognitivisme</strong></p>
<p>Kognitivisme berpendapat bagaimana manusia memproses dan menyimpan informasi sangat penting dalam proses belajar. Menurut kognitivisme, belajar melibatkan proses mental yang kompleks, termasuk memori, perhatian, bahasa, pembentukan konsep, dan pemecahan masalah. Kognitivisme tidak menolak seluruh gagasan dari behaviorisme namun lebih pada perluasan, khususnya pada gagasan eksistensi keadaan mental yang bisa mempengaruhi proses belajar.</p>
<p>Berbeda dengan Behaviorisme yang menganggap manusia bersifat statis, dan dibentuk oleh lingkungan. Dalam kognitivisme manusia dianggap mampu mengendalikan diri dari pengaruh lingkungan.</p>
<ol>
<li><strong>Teori Belajar Sosial</strong></li>
</ol>
<p>Disebut juga teori belajar mencontoh, atau <em>social kognitif</em>. Dalam teori belajar sosial ini suatu perilaku yang diinginkan atau ingin dibentuk dapat dihasilkan dengan peniruan/modeling dengan cara observasi.</p>
<ol>
<li><strong>Teori Belajar Kognitif</strong></li>
</ol>
<p><strong>C. Konstruktivisme</strong></p>
<p>Konstruktivisme memandang belajar sebagai proses dimana pembelajar secara aktif mengkonstruksi atau membangun gagasan-gagasan atau konsep-konsep baru didasarkan atas pengetahuan yang telah dimiliki di masa lalu atau ada pada saat itu. Konstruktivisme berpendapat belajar melibatkan konstruksi pengetahuan seseorang dari pengalamannya sendiri oleh dirinya sendiri. Jadi, belajar merupakan usaha keras yang sangat personal, sedangkan internalisasi konsep hukum, dan prinsip-prinsip umum sebagai konsekuensinya seharusnya diaplikasikan dalam konteks dunia nyata.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/petiusang.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/petiusang.wordpress.com/89/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/petiusang.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/petiusang.wordpress.com/89/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/petiusang.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/petiusang.wordpress.com/89/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/petiusang.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/petiusang.wordpress.com/89/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/petiusang.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/petiusang.wordpress.com/89/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/petiusang.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/petiusang.wordpress.com/89/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/petiusang.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/petiusang.wordpress.com/89/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=petiusang.wordpress.com&amp;blog=3944821&amp;post=89&amp;subd=petiusang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://petiusang.wordpress.com/2010/12/16/teori-belajar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/690aba2b95137eaa8a011f76ea52b14e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">petiusang</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>GEN, EVOLUSI, DAN LINGKUNGAN</title>
		<link>http://petiusang.wordpress.com/2010/12/16/gen-evolusi-dan-lingkungan-2/</link>
		<comments>http://petiusang.wordpress.com/2010/12/16/gen-evolusi-dan-lingkungan-2/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 16 Dec 2010 09:42:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>petiusang</dc:creator>
				<category><![CDATA[GEN EVOLUSI DAN LINGKUNGAN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://petiusang.wordpress.com/?p=86</guid>
		<description><![CDATA[GEN, EVOLUSI, DAN LINGKUNGAN &#160; Menguak Tabir Rahasia Gen Terdapat berbagai aspek yang mempengaruhi manusia berbeda antara yang satu dengan yang lain. Menjadi sebuah pertanyaan besar bagi kita, darimana asalnya segala perbedaan itu? Para psikolog telah bertahun-tahun menggeluti persoalan-persoalan tersebut, dan akhirnya mereka terpecah dalam dua kubu yang berbeda. Kubu yang pertama, yaitu nativist, mereka [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=petiusang.wordpress.com&amp;blog=3944821&amp;post=86&amp;subd=petiusang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><strong>GEN, EVOLUSI, DAN LINGKUNGAN</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Menguak Tabir Rahasia Gen</strong></p>
<p>Terdapat berbagai aspek yang mempengaruhi manusia berbeda antara yang satu dengan yang lain. Menjadi sebuah pertanyaan besar bagi kita, darimana asalnya segala perbedaan itu? Para psikolog telah bertahun-tahun menggeluti persoalan-persoalan tersebut, dan akhirnya mereka terpecah dalam dua kubu yang berbeda. Kubu yang pertama, yaitu <em>nativist</em>, mereka menekankan pada gen dan kharakteristik dasar (<em>nature</em>). Sedangkan kubu yang kedua adalah golongan <em>empiricist</em>, mereka menekankan pada proses belajar dan pengalaman (<em>nurture</em>).</p>
<p>Kini para ilmuwan memahami bahwa pembawaan hasil keturunan maupun lingkungan saling berinteraksi dalam menghasilkan sifat psikologis dan sebagian besar cirri fisik kita. Interaksi tersebut bekerja dalam dua arah, yaitu gen mempengaruhi lingkungan yang akan kita pilih, dan lingkungan mempengaruhi aktifitas gen sepanjang hidup kita.</p>
<p>Pengertian gen (<em>gene</em>) itu sendiri adalah unit dasar dari hereditas, yang terletak pada kromosom (<em>chromosome</em>), yaitu suatu struktur yang bentuknya seperti tongkat dan terletak ditengah-tengah (<em>nucleus</em>) setiap sel tubuh.</p>
<p>Kromosom berisikan molekul-molekul DNA (<em>deoxyribonucleic acid</em>) yang bentuknya menyerupai benang. Gen-gen tersebut mengandung sekumpulan kecil DNA. Setiap kromosom mengandung ribuan gen, masing-masing terletak pada tempat tertentu. Dalam setiap gen, kombinasi empat elemen DNA yaitu asam amino adenine, thymine, cytosine, dan guanine (ATCG) membentuk suatu kode kimiawi yang berperan dalam menentukan sintesis protein tertentu. Kemudian, protein-protein ini akan mempengaruhi keseluruhan struktur dan karakteristik biokimiawi organisme.</p>
<p>Sebagian besar sifat manusia tidak hanya tergantung pada sepasang gen, maka dari itu menemukan kontribusi genetis mengenai sifat-sifat seseorang merupakan pekerjaan yang sangat sulit. Salah satu metode yang pernah digunakan untuk mencari gen yang berkaitan dengan sejumlah kondisi fisik dan mental manusia tersebut, adalah <em>linkage study</em>. Penelitian ini memanfaatkan kecenderungan gen-gen yang letaknya berdekatan satu sama lain dalam kromosom diwariskan bersama-sama dari generasi ke generasi secara turun temurun.</p>
<p>Hingga saat ini, meskipun para peneliti dapat menemukan lokasi suatu gen, mereka tidak dengan sendirinya mengetahui peran gen tersebut dalam fungsi fisik maupun psikologis. Akan tetapi menemukan lokasi sebuah gen hanya sekedar langkah pertama untuk bias mengetahui apa dan bagaimana cara kerja gen tersebut.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Genetika Persamaan</strong></p>
<p>Menurut psikologi evolusi, kesamaan-kesamaan antara manusia sebagian berkaitan dengan karakter genetis yang berkembang selama sejarah evolusi spesies kita. Evolusi (<em>evolution</em>) pada dasarnya merupakan perubahan frekuensi munculnya gen dalam suatu populasi, suatu perubahan yang secara umum berlangsung pada banyak generasi. Perubahan-perubahan yang berlangsung pada suatu spesies tertentu tersebut apabila terjadi perubahan yang cukup besar, maka akan mengakibatkan terbentuknya spesies baru.</p>
<p>Salah satu alasan terjadinya perubahan tersebut antara lain adalah sebagai berikut. Jika selama pembelahan sel-sel yang menghasilkan sperma dan telur terjadi kesalahan dalam menyalin rangkaian DNA yang asli, gen-gen itu secara spontan dapat berubah atau mengalami mutasi.</p>
<p>Di samping itu, selama masa pembentukan sperma atau telur, sebagian kecil materi genetis saling bertukar tempat dari satu pasangan kromosom ke pasangan kromosom lain, sebelum terjadinya pembelahan sel. Kemudian terjadinya mutasi gen dan pengombinasian ulang susunan material dari gen tersebut, terbentuklah variasi-variasi genetis baru.</p>
<p>Menurut prinsip seleksi alam (<em>natural selection</em>), nasib dari variasi-variasi gen ini tergantung pada lingkungan. Jadi jika dalam suatu lingkungan tertentu, individu-individu yang memiliki sifat-sifat genetis tertentu cenderung lebih berhasil dibandingkan individu-individu lain yang memiliki sifat-sifat genetis berbeda dalam hal bertahan hidup, baik itu dalam hal mencari makanan, bertahan terhadap tempaan cuaca, atau mengalahkan musuh, maka semakin lama gen-gen mereka akan menjadi lebih banyak ditemui di dalam populasinya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Warisan Kita Sebagai Manusia: Bahasa</strong></p>
<p>Bahasa adalah seperangkat aturan untuk menggabungkan unsur-unsur yang tak bermakna seperti suara atau isyarat sehingga menjadi suatu rangkaian kata atau ungkapan berstruktur yang mengandung arti. Bahasa memungkinkan manusia untuk mengekpresikan dan memahami sejumlah ungkapan-ungkapan tak terbatas yang dibuat pada suatu saat tertentu.</p>
<p>Seorang ahli bahasa bernama Noam Chomsky mengemukakan berbagai bukti bahwa bahasa merupakan pembawaan sejak lahir. Namun, masih banyak ahli bahasa lain yang masih berpendapat bahwa pengalamanlah yang lebih besar pengaruhnya. Maka dari itu, perkembangan berbahasa tergantung dari kematangan biologis dan pengalaman sosial.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Warisan Kita Sebagai Manusia: Berpasangan dan Berhubungan Seksual</strong></p>
<p>Menurut para ahli sosiobiologi dan para ahli psikologi evolusi, sebagai reaksi terhadap berbagai masalah kelangsungan hidup, manusia telah mengembangkan sejumlah strategi seksual dan strategi berpasangan yang berbeda, dalam bentuk berbagai aturan dan banyak aspek dalam kehidupan bermasyarakat.</p>
<p>Para ahli berpendapat, pria lebih mungkin beradaptasi jika memiliki sifat tidak memilih-milih pasangan. Sedangkan wanita cenderung berlaku monigami, bersikap pemilih terhadap terhadap pasangannya, dan lebih memilih keamanan daripada kesenangan baru.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Perbedaan Genetis</strong></p>
<p>Adanya variasi dalam suatu spesies menimbulkan sebuah pertanyaan besar, apakah perbedaan tersebut disebabkan oleh factor genetis ataukah oleh pengalaman dan motivasi? Untuk menjawab pertanyaan tersebut para ahli genetika perilaku menghitung statistic yang disebut heritabilitas (<em>heritability</em>) yang memperkirakan proporsi dari total varians suatu sifat yang dapat dijelaskan melalui variasi genetis dalam suatu kelompok.</p>
<p>Berikut adalah fakta-fakta mengenai heritabilitas: (1) Perkiraan mengenai pewarisan suatu sifat hanya dapat diterapkan terhadap kelompok khusus yang berdiam di dalam lingkungan khusus; (2) Perkiraan pewarisan suatu bawaan tidak dapat diterapkan ke setiap individu tapi hanya dapat diterapkan ke variasi-variasi dalam sebuah kelompok; (3) Sifat yang sangat dapat diwariskan atau diturunkan pun dapat dimodifikasi oleh lingkungan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Keragaman Manusia: Masalah Inteligensi</strong></p>
<p>Dalam penelitian mengenai sifat yang diwariskan, pengukuran terhadap fungsi intelektual biasanya menggunakan IQ (<em>intelligence quotient</em>), atau skor IQ. Dalam penelitian perkiraan sumbangan faktor keturunan terhadap intelegensi adalah sekitar 0,40 hingga 0,50 untuk anak-anak dan remaja, serta 0,60 hingga 0,80 untuk orang dewasa. Dibandingkan kembar fraternal, kembar identik lebih menunjukkan kesamaan. Demikian pula dengan anak-anak adopsi, biasanya mereka menunjukan hubungan skor yang lebih tinggi dengan orang tua biologisnya dibandingkan dengan orang tua angkatnya. Akan tetapi hal tersebut tidak berarti bahwa gen menentukan inteligensi, karena varian sisa dari skor-skor IQ yang ada pasti sebagian besar dipengaruhi pula oleh lingkungan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Di Balik Perdebatan Antara Nature dan Nurture</strong></p>
<p>Faktor keturunan maupun lingkungan saling berinteraksi untuk menghasilkan perpaduan kualitas yang unik, yaitu manusia. Aktif tidaknya suatu gen, tergantung pada pengalaman yang dimiliki dan aktifitas dari gen-gen lain.</p>
<p>Aktifitas gen juga bervariasi akibat proses biokimia acak yang terjadi di dalam badan sel, yang disebut sebagai noise. Akibat noise itulah, baik kembar identik bahkan hasil cloning sekalipun, spesies yang sama secara genetis, yang tinggal di lingkungan yang sama, dapat memiliki penampilan dan perilaku yang berbeda.</p>
<p>Pemilihan waktu dan pola aktifitas genetis merupakan hal yang penting, tidak hanya sebelum lahir, namun juga sepanjang hidup. Ini berarti bahwa genom bukanlah suatu design yang statis bagi perkembangan, namun merupakan suatu jaringan kerja dari berbagai pengaruh yang dinamis.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/petiusang.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/petiusang.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/petiusang.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/petiusang.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/petiusang.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/petiusang.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/petiusang.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/petiusang.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/petiusang.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/petiusang.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/petiusang.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/petiusang.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/petiusang.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/petiusang.wordpress.com/86/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=petiusang.wordpress.com&amp;blog=3944821&amp;post=86&amp;subd=petiusang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://petiusang.wordpress.com/2010/12/16/gen-evolusi-dan-lingkungan-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/690aba2b95137eaa8a011f76ea52b14e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">petiusang</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MEMORI</title>
		<link>http://petiusang.wordpress.com/2010/12/16/memori/</link>
		<comments>http://petiusang.wordpress.com/2010/12/16/memori/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 16 Dec 2010 09:39:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>petiusang</dc:creator>
				<category><![CDATA[MEMORI]]></category>
		<category><![CDATA[Psikologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://petiusang.wordpress.com/?p=84</guid>
		<description><![CDATA[MEMORI Pengertian Memori Memori atau ingatan adalah sebuah fungsi dari kognisi yang melibatkan otak dalam pengambilan informasi. Menurut Schlessinger dan Groves (1976) dalam Rakhmat (2000) memori adalah sistem yang sangat berstruktur, yang menyebabkan organisme sanggup merekam fakta tentang dunia, dan menggunakan pengetahuannya untuk membimbing perilakunya. Sedangkan menurut sudut pandang psikologi bahwa memori atau ingatan adalah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=petiusang.wordpress.com&amp;blog=3944821&amp;post=84&amp;subd=petiusang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3 style="text-align:center;">MEMORI</h3>
<p><strong>Pengertian Memori</strong></p>
<p>Memori atau ingatan adalah sebuah fungsi dari kognisi yang melibatkan otak dalam pengambilan informasi. Menurut Schlessinger dan Groves (1976) dalam Rakhmat (2000) memori adalah sistem yang sangat berstruktur, yang menyebabkan organisme sanggup merekam fakta tentang dunia, dan menggunakan pengetahuannya untuk membimbing perilakunya. Sedangkan menurut sudut pandang psikologi bahwa memori atau ingatan adalah kekuatan jiwa untuk menerima, menyimpan, dan memproduksi kesan-kesan.</p>
<p>Dalam perspektif komunikasi, memori melalui tiga proses, yaitu perekaman, penyimpanan, dan pemanggilan. Perekaman adalah pencatatan informasi melalui reseptor indera dan sirkit saraf internal. Penyimpanan adalah menentukan berapa lama informasi tersebut berada beserta kita, dalam bentuk apa, dan dimana. Sedangkan pemanggilan, menurut Mussen dan Rosenzweig (1973) dalam Rakhmat (2000) adalah menggunakan informasi yang disimpan, atau biasa disebut dengan mengingat kembali.</p>
<p>Kemampuan mengingat antar individu berbeda-beda, antara lain seseorang yang dapat mengingat banyak disebut memiliki ingatan luas, sedangkan bagi seseorang yang hanya dapat mengingat sedikit disebut memiliki ingatan sempit. Sementara itu bagi yang memiliki ingatan kuat disebut memiliki ingatan yang setia, sedangkan sebaliknya bagi seseorangyang ingatannya lemah disebut memiliki ingatan yang tidak setia.</p>
<p>Dalam mengeluarkan kembali ingatan yang telah disimpan, dikelompokkan menjadi dua menurut fungsinya yaitu mengingat kembali (<em>recall</em>) dan mengenang (<em>recognize</em>). Mengingat kembali (<em>recall</em>) yaitu ingatan dikeluarkan kembali tanpa bantuan apapun. Sedangkan dalam mengenang (<em>recognize</em>) ingatan dikeluarkan melalui petunjuk.</p>
<p>Jenis-jenis memori berdasarkan waktu antara masuknya memori ke gudang ingatan dikeluarkannya kembali ada tiga yaitu Sensory Memori, Short Therm Memory (STM), dan Long Term Memori (LTM).</p>
<p><strong>Lupa dan sebab-sebabnya</strong></p>
<p>Seseorang dikatakan lupa apabila suatu ingatan atau informasi tidak dapat dimunculkan kembali. Terdapat beberapa teori mengenai penyebab terjadinya keadaan lupa tersebut. Antara lain:</p>
<p>1.      Teori Atropi/Decay Theory</p>
<p>Suatu ingatan atau informasi tidak dimunculkan dalam waktu yang relatif lama maka akan cenderung terjadi kelupaan. Untuk menghindari terjadinya kelupaan menurut teori ini maka ingatan tersebut harus diulang-ulang.</p>
<p>2.      Teori Interfrensi</p>
<p>Utuh atau tidaknya informasi yang kita simpan dipengaruhi oleh informasi yang lain.</p>
<p>a.       Pro Aktif</p>
<p>Informasi yang lama mengacaukan masuknya informasi yang baru.</p>
<p>b.      Netro Aktif</p>
<p>Informasi yang baru mengacaukan informasi yang lama.</p>
<p>3.      Lupa karena sebab fisiologi</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/petiusang.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/petiusang.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/petiusang.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/petiusang.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/petiusang.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/petiusang.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/petiusang.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/petiusang.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/petiusang.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/petiusang.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/petiusang.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/petiusang.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/petiusang.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/petiusang.wordpress.com/84/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=petiusang.wordpress.com&amp;blog=3944821&amp;post=84&amp;subd=petiusang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://petiusang.wordpress.com/2010/12/16/memori/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/690aba2b95137eaa8a011f76ea52b14e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">petiusang</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>INTELIGENSI</title>
		<link>http://petiusang.wordpress.com/2010/12/16/inteligensi/</link>
		<comments>http://petiusang.wordpress.com/2010/12/16/inteligensi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 16 Dec 2010 09:37:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>petiusang</dc:creator>
				<category><![CDATA[INTELIGENSI]]></category>
		<category><![CDATA[Psikologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://petiusang.wordpress.com/?p=82</guid>
		<description><![CDATA[INTELIGENSI &#160; Menurut David Wechsler, intelegensi adalah kemampuan untuk bertindak secara terarah, berpikir secara rasional, dan menghadapi lingkungan secara efektif. Menurut Spearman, kecerdasan ialah kemampuan umum untuk berpikir dan menimbang. Sedangkan Thurstone berpendapat bahwa kecerdasan adalah suatu rangkaian yang terpisah. Kemampuan-kemampuan seperti kemampuan numerik, ingatan, dan kefasihan berbicara bersama-sama membentuk perilaku pandai. Dari berbagai pengertian [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=petiusang.wordpress.com&amp;blog=3944821&amp;post=82&amp;subd=petiusang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3>INTELIGENSI</h3>
<p>&nbsp;</p>
<p>Menurut David Wechsler, intelegensi adalah kemampuan untuk bertindak secara terarah, berpikir secara rasional, dan menghadapi lingkungan secara efektif. Menurut Spearman, kecerdasan ialah kemampuan umum untuk berpikir dan menimbang. Sedangkan Thurstone berpendapat bahwa kecerdasan adalah suatu rangkaian yang terpisah. Kemampuan-kemampuan seperti kemampuan numerik, ingatan, dan kefasihan berbicara bersama-sama membentuk perilaku pandai.</p>
<p>Dari berbagai pengertian diatas, dapat kita definisikan intelegensi sebagai kemampuan berpikir abstrak, kemampuan menyesuaikan diri dengan tugas-tugas baru, atau kemapuan melakukan aktivitas yang mengundang tantangan, tingkat kesulitan dan lain sebagainya. Intelegensi juga dapat kita artikan sebagai kemampuan adaptasi dan pemecahan masalah, fokus, dan fleksibel (memiliki alternatif lain dalam pemecahan masalah).</p>
<p>Glover dan Bruning (1990) membagi teori intelegensi menjadi dua, yaitu teori intelegensi yang dikemukakan pakar psikometri dan teori intelegensi yang dikemukakan pemrosesan informasi. Secara garis besar, pakar psikometri menekankan pada bagaimana mengukur intelegensi dan memprediksi prestasi lain seperti pembelajaran di kelas. Sedangkan pakar pemrosesan informasi lebih menekankan pada proses berpikir.</p>
<p>Aspek-aspek pembentuk intelegensi menurut Spearman ada dua faktor yaitu faktor G dan faktor S. Faktor G adalah <em>General Abillity</em> yaitu kemampuan umum, sedangkan faktor S adalah <em>Speciallity Abillity</em> yaitu kemampuan khusus.</p>
<p>Sedangkan Thurstone berpendapat aspek-aspek  tersebut terdiri dari multifactor, meliputi faktor kemampuan verbal, faktor kemampuan dalam kosakata, faktor kemampuan dalam ingatan, faktor kemampuan dalam hitungan/numberik, faktor kemampuan dalam pengamatan 3D, faktor kemampuan dalam penalaran, serta faktor kemampuan ketepatan dalam pengamatan panca indera (perseptual).</p>
<p>Ada beberapa faktor yang mempengaruhi intelegensi, yaitu: lingkungan tempat tinggal, genetik, kondisi fisik/kesehatan, dan status sosial/ekonomi.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/petiusang.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/petiusang.wordpress.com/82/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/petiusang.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/petiusang.wordpress.com/82/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/petiusang.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/petiusang.wordpress.com/82/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/petiusang.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/petiusang.wordpress.com/82/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/petiusang.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/petiusang.wordpress.com/82/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/petiusang.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/petiusang.wordpress.com/82/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/petiusang.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/petiusang.wordpress.com/82/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=petiusang.wordpress.com&amp;blog=3944821&amp;post=82&amp;subd=petiusang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://petiusang.wordpress.com/2010/12/16/inteligensi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/690aba2b95137eaa8a011f76ea52b14e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">petiusang</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PERSEPSI</title>
		<link>http://petiusang.wordpress.com/2010/12/16/persepsi/</link>
		<comments>http://petiusang.wordpress.com/2010/12/16/persepsi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 16 Dec 2010 09:34:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>petiusang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Persepsi (II)]]></category>
		<category><![CDATA[Psikologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://petiusang.wordpress.com/?p=80</guid>
		<description><![CDATA[PERSEPSI Pengertian Persepsi Manusia dapat menyaksikan dunia dengan segala kelengkapan isinya, semua yang telah disaksikan oleh manusia tersebut tidak terlepas dari peran panca indera. Namun kadang beberapa pertanyaan tiba-tiba melintas di benak kita, dapatkah apa yang telah ditangkap oleh panca indra kita disebut sebagai nyata dan akurat? Lalu kenapa kita biasanya masih memiliki kesan yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=petiusang.wordpress.com&amp;blog=3944821&amp;post=80&amp;subd=petiusang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3 style="text-align:center;">PERSEPSI</h3>
<p><strong>Pengertian Persepsi</strong></p>
<p>Manusia dapat menyaksikan dunia dengan segala kelengkapan isinya, semua yang telah disaksikan oleh manusia tersebut tidak terlepas dari peran panca indera. Namun kadang beberapa pertanyaan tiba-tiba melintas di benak kita, dapatkah apa yang telah ditangkap oleh panca indra kita disebut sebagai nyata dan akurat? Lalu kenapa kita biasanya masih memiliki kesan yang berbeda-beda terhadap lingkungan di sekitar kita? Hal tersebut dipengaruhi oleh apa yang kita sebut sebagai persepsi. Manusia mengkontruksi sesuatu melalui proses aktif dan kreatif yang kita sebut persepsi. Jadi persepsi adalah proses internal yang memungkinkan kita untuk memilih/melakukan seleksi, mengorganisasikan, menafsirkan/interpretasi yang mana mempengaruhi perilaku kita.</p>
<p>Menurut Prof. Deddy Mulyana, Ph.d, persepsi merupakan inti dari komunikasi, dan inti dari persepsi adalah penafsiran, penafsiran sendiri adalah decoding dalam proses komunikasi. John R Wenburg dan William W Wilmot mendefinisikan persepsi sebagai cara organisme memberi makna. Sementara Rudolf F Verderber mengemukakan persepsi adalah proses menafsirkan informasi indrawi atau pendapat. Sedangkan J Cohen berpendapat persepsi didefinisikan sebagai interpertasi bermakna atas sensasi representatif obyek eksternal.</p>
<p>Ditinjau dari sudut pandang psikologi, persepsi dapat diartikan sebagai proses penilaian terhadap obyek tertentu, yang mana proses penilaian tersebut selalu didahului oleh proses penginderaan. Sehingga persepsi dapat didefinisikan sebagai proses penilaian terhadap obyek tertentu yang didahului oleh proses penginderaan.</p>
<p><strong>Fokus Persepsi </strong></p>
<p>Ada beberapa fokus persepsi manusia, antara lain:</p>
<p>1.      Teori Elemen</p>
<p>Obyek yang dipersepsi mulai dari yang kecil-kecil (individu)</p>
<p>2.      Teori Stereotif</p>
<p>Penyamarataan yang salah kaprah atas kelompok orang dengan mengabaikan ciri-ciri individu mereka. Beberapa prinsip yang terkait adalah: kedekatan, kesamaan, kesinambungan, dan ketertutupan.</p>
<p><strong>Faktor yang Mempengaruhi Persepsi</strong></p>
<p>Menurut Rahmat (1988) faktor yang mempengaruhi persepsi antara lain harapan pengalaman masa lalu, dan keadaan psikologis yang mana menciptakan kumpulan perseptual.</p>
<p>Selanjutnya Rahmat (1988) menyatakan:</p>
<p>1.      Yang paling berpengaruh terhadap persepsi adalah perhatian, karena perhatian adalah proses mental ketika stimulus atau rangkaian stimulus menjadi menonjol dalam kesadaran, pada saat stimulus lainya melemah. Dalam stimulus mempunyai sifat-sifat yang menonjol, antara lain intensitas dan pengulangan. Diri orang yang membentuk persepsi itu sendiri. Apabila seseorang melihat sesuatu dan berusaha memberikan interpretasi tentang apa yang dilihatnya itu, ia dipengaruhi oleh karateristik individual yang turut berpengaruh seperti sikap kepentingan, minat, kebutuhan, pengalaman, harapan dan kepribadian.</p>
<p>2.      Stimulus yang berupa obyek maupun peristiwa tertentu. Stimulus yang dimaksud mungkin berupa orang, benda atau peristiwa. Sifat-sifat sasaran itu biasanya berpengaruh terhadap persepsi orang yang melihatnya.</p>
<p>3.      Faktor situasi dimana pembentukan persepsi itu terjadi baik tempat, waktu, suasana dan lain-lain.</p>
<p>Dari pendapat beberapa ahli di atas maka dapat kita ambil kesimpulan bahwa persepsi harus dilihat secara konsektual, yang berarti dalam situasi mana persepsi itu timbul, perlu pula mendapat perhatian. Situasi merupakan faktor yang turut berperan dalam pertumbuhan persepsi seseorang.</p>
<p><strong>Perbedaan Persepsi</strong></p>
<p>Perbedaan persepsi tersebut disebabkan karena stimulus-stimulus yang dihadapi seseorang dalam waktu yang sama menurut pada orang yang bersangkutan untuk melakukan kegiatan seleksi, seseorang tidak mungkin menangkap berbagai stimulus itu sekaligus dalam waktu yang sama (Mulyadi, 1989). Pernyataan tersebut menjelaskan bahwa dalam persepsi terdapat proses menilai terhadap obyek atau peristiwa yang menjadi perhatian seseorang. Seseorang yang mempunyai persepsi tinggi terhadap sesuatu, maka akibat dari persepsi tersebut akan diwujudkan dalam penilaiannya terhadap kegiatan yang mereka persepsikan. Penilaian ini bisa positif atau negatif, perasaan senang atau tidak senang.</p>
<p>Adapun sifat dari suatu persepsi adalah subyektif, sehingga persepsi seseorang terhadap suatu obyek bisa saja berbeda antara orang yang satu dengan yang lain. Terjadinya perbedaan persepsi tersebut disebabkan beberapa hal, antara lain: <em>pengalaman yang berbeda</em>, <em>perasaan emosi yang berbeda</em>, dan <em>kemampuan berpikir yang berbeda</em>.</p>
<p><strong>Kekonstanan Persepsi</strong></p>
<p>Namun demikian di dalam pembelajaran persepsi kita perlu juga mengenal tentang kekonstanan persepsi (konsistensi), yaitu persepsi bersifat tetap yang dipengaruhi oleh pengalaman. Kekonstanan persepsi tersebut meliputi bentuk, ukuran, dan warna. Salah satu contoh kekonstanan persepsi, yaitu ketika kita meminum susu ditempat yang gelap maka kita tidak akan menyebut warna susu tersebut hitam, melainkan kita akan tetap menyebut warna susu adalah putih meski di dalam kegelapan warna putih sebenarnya tidak tampak.</p>
<p>Begitu pula saat kita melihat uang logam dari arah samping, kita tetap akan menyebut uang logam tersebut berbentuk bundar. Padahal apabila kita melihat dari samping maka sebenarnya kita melihat uang logam tersebut berbentuk pipih. Itulah yang disebut dengan kekonstanan persepsi, kita memberikan persepsi terhadap suatu obyek berdasarkan pengalaman yang kita peroleh sebelumnya.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/petiusang.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/petiusang.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/petiusang.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/petiusang.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/petiusang.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/petiusang.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/petiusang.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/petiusang.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/petiusang.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/petiusang.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/petiusang.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/petiusang.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/petiusang.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/petiusang.wordpress.com/80/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=petiusang.wordpress.com&amp;blog=3944821&amp;post=80&amp;subd=petiusang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://petiusang.wordpress.com/2010/12/16/persepsi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/690aba2b95137eaa8a011f76ea52b14e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">petiusang</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
