Puisi


KETIKA MEREKA MEMULAINYA

Ketika mereka mengancam kita

Mengancam kehormatan kita

Bahkan mengancam jalan kita

Itulah saatnya bagi kita

Mari mengangkat senjata kita

Mari kita singkirkan kita

Demi jalan kita

Mari kita binasakan mereka

Dari jalan kita

Yaitu jalan yang lurus

Mereka mati

Atau kita yang mati

Karya Rendra Fatrisna K – 2000

HADAPILAH

Meski kau telah cabut pedangmu

Meski kau telah siap menghadapi mereka

Namun ingat!

Jangan kita ingin bertemu mereka

Tapi bila mereka tiba

Jangan lari dari mereka

Karena lari adalah murka bagi kita

Kecuali untuk kembali menghadapi mereka

Kita harus tetap hadapi meski harus mati

Karena kita tidak perlu takut mati

Karena kita tidak akan pernah mati

Melainkan kita dalam kenikmatan tiada henti

Karena kenikmatan itu dibawah naungan pedang!

Karya Rendra Fatrisna K – 2000

MATI

Mati

Kami rela menemuinya

Yaitu mati

Demi yang kita miliki

Yaitu harta benda kami

Juga demi kami

Yaitu jiwa kami sendiri

Dan demi kami

Yaitu kehormatan kami

Terutama demi jalan kami

Yaitu jalan yang lurus

Tapi tidak demi dia

Yang selalu mereka puja

Padahal tak seharusnya mereka puja

Meski pada kami mereka selalu berkata

Mereka rela berkorban untuknya

Meski mereka tahu dia itu mati

Karya Rendra Fatrisna K – 2000

HUKUM

Hukum

Berhukum

Membuat hukum

Mencipta hukum

Mengarang-ngarang hokum

Hukum siapa?

Hukumku?

Hukummu?

Hukum dia?

Hukum kita?

Apa jadinya?

Hukum bodoh!

Hukum goblok!

Apakah hukum bodoh yang kalian kehendaki?

Apakah hukum goblok yang kalian cari?

Apa jadinya?

Bobrok!

Adakah hukum yang lebih baik dari hukum Tuhanmu?

Karya Rendra Fatrisna K – 2000

KETIKA KITA SADAR

Ketika mereka saling berhadapan

Kita telah mengasah senjata

Ketika mereka mulai berdebat

Kita telah mengangkat senjata

Ketika mereka bertengkar

Kita telah saling membunuh

Ketika mereka sadar

Dan damai

Lalu bersalaman

Kemudian berpelukan

Kitapun sadar

Tapi

Kita telah mati

Karya Rendra Fatrisna K – 2000

SAAT TERAKHIR

Deras curahan hujan yang turun

Menerpa dedaunan tua

Yang tampak mulai menguning

Gemerisik air hujan

Memecah sunyinya malam kelabu

Gumpalan awan hitam masih menggantung

Menaungi hamparan bumi yang lenggang

Semilir angina malam semerbak

Menghanyutkan harum bunga melati

Diantara guyuran hujan

Sesosok tubuh bongkok

Berjalan terhuyung-huyung menghampiriku

Dia itu menatapku penuh arti

Dia telah datang menjemputku

Akupun melangkah terseok-seok

Mengikuti sosok bongkok itu

Meninggalkan jasadku

Yang terkoyak diatas rerumputan

Karya Rendra Fatrisna K – 2000