Fright Pages


SERIGALA BULAN PURNAMA

Oleh

Rendra Fatrisna K

Matahari mulai tenggelam, warna jingga menghiasi cakrawala. Dari jendela kamarku yang berlapis kaca bening, aku menikmati suasana senja desa ini yang indah seperti hari-hari sebelumnya.

Sam,” panggil Paman Horton dari ambang pintu kamar. ”Nanti malam bulan purnama, aku bersama Inspektur Paul akan berpatroli di sekitar desa, kau jaga diri baik-baik dirumah,” katanya padaku. ”Samuel, jangan lupa kunci semua pintu, selain aku jangan biarkan siapapun masuk,” tambah Paman Horton sebelum berpaling.

Paman,” kataku menghentikan langkahnya. ”Benarkah serigala jadi-jadian itu memang benar-benar ada?” Paman Horton kembali menatapku. ”Kau tahu sendiri kan? Bulan lalu tiga orang warga desa kita tewas diterkam oleh serigala jadi-jadian itu,” Aku hanya mengangguk mendengar penjelasan pamanku itu. Tapi dalam hati aku masih meragukan jika kejadian bulan lalu merupakan bukti kebenaran dari mitos desa ini.

Malam ini aku punya firasat buruk, sebaiknya Paman tinggal saja dirumah,” kataku. ”Sam, kau harus mengerti, Pamanmu ini adalah kepala desa disini, jadi akulah yang bertanggung jawab terhadap segala sesuatu yang terjadi didesa ini,” Paman Horton menghampiriku kemudian menepuk bahuku. ”Jika kau sudah dewasa dan masih tinggal di desa ini, kaulah yang akan menjadi penerusku Samuel,” Aku menunduk, tak tahu harus menjawab apa.

Mr. Horton,” seru seorang berseragam polisi dari depan pintu kamarku. ”Sebaiknya kita segera berangkat Sir,” tambahnya kemudian. ”Salah seorang anak buah saya menemukan sebuah gua kecil ditepi hutan, yang disinyalir itu merupakan tempat persembunyian mahluk buruan kita,” Paman Horton mengerutkan keningnya mendengar penjelasan polisi itu. ”Baiklah,” Akhirnya dia berguman.

Nah Sam, berhati-hatilah dirumah, jangan lupa mengunci semua pintu dan jendela,” Setelah mengacak-acak rambutku Paman Horton bergegas mengikuti langkah polisi itu sambil menenteng senapan tuanya. ”Paman, jaga dirimu,” ucapku lirih.

Jam dinding ruang tamu berdentang sebelas kali saat aku mulai menutup lembaran terakhir majalah yang ada dipangkuanku. Aku menguap lebar menahan kantuk yang mulai menyerang. Malam ini begitu hening, tampaknya diluar sana tidak terjadi apa-apa. Aku menghembuskan nafas lega, semoga saja alam ini memang tidak terjadi apa-apa didesa ini.

Aku beranjak bangkit dari tempat tidur, setelah menaruh majalahku keatas meja, kubuka tirai jendelaku yang kotor penuh debu. Pemandangan diluar sangat gelap dan menakutkan, aku tidak dapat membayangkan dimana dan sedang apa Paman Horton bersama para aparat desa itu. ”Semoga tidak terjadi sesuatu yang buruk dengan mereka,” Aku berkata pelan.

Paman Horton adalah satu-satunya krabatku didesa ini, sementara kedua orang tuaku sudah delapan tahun berada di timur tengah untuk suatu penelitian, mereka adalah seorang arkeolog. Aku sungguh tak tahu, jika sampai terjadi hal yang buruk dengan pamanku, entah dengan siapa lagi aku harus tinggal.

Aku mengibaskan kepalaku saat pikiran=pikiran buruk mulai berseliweran didalamnya. Mungkin sebaiknya aku tidur, kataku dalam hati. Aku kembali berpaling hendak melangkah menuju tempat tidur saat tiba-tiba muncul perasaan aneh dalam diriku. Jantungku berdegup kencang, serentak aku berbalik kearah jendela. Keringat dingin mengalir dari sekujur tubuhku, apa yang terjadi? Jantungku berdegup semakin tak teratur.

Mataku menyapu kedalam kegelapan malam dari balik jendela kamar yang berlapis kaca tipis itu, dan pandanganku berhenti pada satu titik cahaya dilangit, sebuah bulan purnama. Mataku dengan liar menatap cahaya bulan yang menyala redup. Tubuhku mulai terasa panas, kulitku terasa perih, hingga akupun jatuh berlutut didepan jendela. Sementara mataku masih tetap tertuju pada bulan yang menyala jingga di langit.

Aku mulai merasakan sesuatu pada tubuhku, suatu perubahan yang besar. Bulu-bulu hitam mulai tumbuh disekujur tubuhku. Kini aku percaya bahwa mitos itu memang benar, serigala jadi-jadian itu memang benar-benar ada. ”Roaar!!” aku meraung keras saat tubuhku menerpa kaca jendela kamarku hingga hancur berkeping-keping.

Aku berdiri diatas empat kakiku dengan garang, ekorku meliuk-liuk ke kiri dan ke kanan. ”Roaar!!!” Dari halaman rumah pamanku yang luas aku kembali meraung keras sambil menatap bulan purnama. Aku merasakan rasa lapar yang luar biasa, kenudian aku berlari kearah hutan untuk mencari mangsa.

TAMAT

FRIGHT PAGES

Oleh

RENDRA FATRISNA K

Langkah mereka terdengar menggema sepanjang lorong, aku terkejut ketika mereka mulai mencongkel pintu makam, berikutnya pintu batu itu berderak roboh. Cahaya obor mereka mulai menerangi ruangan. ”Kita berhasil! disinilah tempatnya,” seru salah satu dari mereka, kemudian orang-orangpun itu berhambur masuk.

Masyarakat Mesir kuno memiliki keyakinan bahwa setelah mati, mereka akan dibangkitkan kembali kelak. Maka dari itu tubuh harus tetap dijaga dengan cara diawetkan, dan segala harta benda harus turut disimpan di dalam makam bersama tubuh pemiliknya, sebagai bekal untuk menjalani kehidupan baru setelah hari kebangkitan tiba.

Tapi keserakahan manusia telah menodai semua itu, mereka mulai mencari dan merampok harta benda dari dalam makam. Padahal sebagian dari para perampok itu juga tahu dengan hilangnya barang-barang penting itu si arwah akan banyak mendapat kesulitan di dunia sana.

Segala bentuk usaha telah dilakukan untuk menjaga makam supaya harta benda di dalamnya tak terjamah tangan-tangan mereka, segala jenis jebakan maut telah tersedia di setiap makam, tapi keserakahan dan kelicikan para pencuri itu mampu juga membobolnya bahkan mereka juga mengobrak-abrik isinya.

Lihatlah itu semua Bob! Semuanya emas murni! Ayo kita angkut keluar!” seru salah seorang pria dengan aksen Eropa. ”Kita kaya! Tak sia-sia semua usaha kita selama ini,” jawab kawannya. Selanjutnya mereka mulai mengaduk-aduk isi makam. Tempat yang dulu demikian dikeramatkan ini kini diacak-acak oleh tangan para pencuri itu, semua mereka buat rusak sama sekali.

Tindakan mereka ini benar-benar keterlaluan, mereka harus dihentikan, aku bersumpah dalam hati. Aku harus menghentikan mereka sekarang.

Perlahan mulai kubuka mataku, dan kucoba menggerakkan tubuhku yang terbungkus rapat oleh balutan kain usang ini. Tubuhku masih terasa kaku, sudah hampir empat ribu tahun aku tak bergerak, diam membujur dalam peti batu ini. Kini mereka mengusikku, mereka telah membangkitkan sang mumi. Aku mulai beranjak bangkit. ”Ahh!! lihat itu!” para pencuri itu menatapku dengan sorot mata ketakutan. ”Lari!! Mumi itu bangkit!!” mereka berhambur panik keluar dari makamku.

TAMAT

FRIGHT PAGES

Apa yang kau lakukan bila suatu malam kau kehujanan ditengah jalan?

Mungkin kaupun akan sama sepertiku, yaitu berteduh dirumah seseorang untuk menunggu hujan reda. Tapi ku ingatkan, berhati-hatilah jika mampir ke rumah seseorang yang belum kita kenal. Jangan sampai kau bertamu ke tempat yang salah…

Oleh

RENDRA FATRISNA K

Deru hujan meraung-raung menghiasi malam yang dingin mencekam. Gemrisik air hujan yang menerpa dedaunan pinus memenuhi hutan, awan kelabu merayap perlahan menjadi naungan hutan pinus yang lembab, dari sela-sela awan tebal yang menggantung, cahaya sang ratu malam menerobos remang.

Dari dalam kegelapan malam, sesosok tubuh berlari menelusuri jalan setapak yang penuh lumpur, sementara tubuhnya yang jangkung terguyur derasnya air hujan. Derap langkahnya yang tak beraturan diiringi percikan air lumpur, dengan nafas tersengal-sengal pemuda yang biasa dipanggil Kevin itu berhenti sesaat, dibawah sorot rembulan tampak seulas senyuman mengambang dibibirnya.

Matanya berbinar memandang sebuah rumah tua yang berdiri dengan kokoh dihadapannya. Dengan penuh semangat Kevin mempercepat larinya dan berhenti tepat didepan bangunan itu. ”Permisi!..ada orang didalam?” Kevin mengetuk pintu kayu yang tampak kokoh tersebut, hening, tak ada jawaban. Dengan penuh harap, Kevin mencoba untuk mengetuknya lagi namun sebelum dia melakukannya pintu jati itu telah menganga lebar. Seberkas sinar redup menerobos keluar menyilaukan mta. Kevin mengerjap-ngerjapkkan matanya untuk menyesuaikan diri terhadap cahaya itu.

Diambang pintu berdiri sesosok lelaki tua menghadangnya, setelah mengamati Kevin sesaat, pria itu menyapanya ”Siapa kau?” tanyanya ”Dan ada perlu apa?” suaranya yang parau terkesan tidak senang. ”M-maaf, bolehkan saya numpang berteduh Pak?” tanya Kevin ragu-ragu. Setelah melirik kearah curahan hujan yang demikian deras, lelaki tua itu kembali memandang Kevin, kali ini dengan pandangan iba.

Mari masuk..” ajak tuan umah, melunak. ”terima kasih Pak” jawab Kevin seraya bergegas masuk mengikuti lelaki itu dari belakang. Kevin memandang berkeliling, rumah itu memang sederhana tapi tampak terlihat rapi dan sedikit berkesan ….seram!. ruang tamu yang luas dan hanya diterangi oleh sebuah bola lampu, dengan perabotan yang sangat sedikit, yaitu hanya sebuah meja bambu yang dikelilingingi tiga pasang kursi rotan.

Siapa namamu nak? Dan apa yang kau lakukan malam-malam begini ditengah hutan?” tanya pria itu setelah mempersilahkan duduk. ”panggil saja saya Kevin, begini Pak, tadi sore saya berangkat untuk berkemah dengan kawan-kawan, tapi saya terpisah dari rombongan dan tersesat hingga kemari,” jelas Kevin. ”Oh, jadi begitu toh ceritanya, baiklah, kalau kau mau, malam ini kau boleh menginap disini,” lelaki tua itu menawarkan. ”Terima kasih Pak, tapi malam ini saya harus meneruskan perjalanan, saya rasa tak jauh dari sini sudah ada pemukiman penduduk,” pemilik rumah itu tersenyum ”Kalau itu menurutmu lebih baik, aku tidak memaksa. Setelah hujan reda kau berjalanlah ke arah utara, nanti kau akan menemukan sebuah desa,” kemudian dia melanjutkan ”Kau bisa minta tolong pada aparat setempat untuk mengantarmu pulang, kurasa mereka tidak akan keberatan”.

Anda benar Pak,” jawab Kevin dengan kikuk ”kalau boleh tahu siapa nama anda?” tanyanya kemudian, sekedar berbasa-basi. Lelaki tua itu tersenyum, kemudian menjawab ”Namaku Albert Hulton, tapi orang-orang memanggilku Pak Alt, dan aku suka panggilan itu.” Kevin tersenyum ramah.

Mau secangkir coklat panas?” tawar Pak Alt. ”Wah, saya tampaknya jadi merepotkan anda,” Kevin menjawab simpul. Seraya tersenyum bijak, Pak Alt beranjak meninggalkan ruang tamu ”tunggu sebentar, nak”.

Suasana kembali sunyi, pandangan Kevin menyapu seluruh ruang tamu, mencari kesibukan. Setumpuk koran tergeletak disalah satu kursi rotan yang paling ujung, diraihnya koran itu, tampak bagian tepinya telah menguning dimakan waktu. Edisi tahun 1994, sudah lama sekali, sudah lima tahun, pikir Kevin menyimpulkan. Dipicingkannya matanya, untuk mencoba membaca dalam sebuah cahaya remang.

Dihalaman pertama pada headline, terpampang sebuah foto seorang pria. ”Hei, bukankah itu Pak Alt,” Kevin berseru tertahan. Dengan rasa ingin tahu, dibacanya sebuah artikel kecil disamping foto itu. ”SEORANG PRIA TERBUNUH, New Jersey, sesosok mayat ditemukan dalam keadaan tragis dengan kepala yang terpisah dari tubuhnya. Dari kartu identitas yang ditemukan, lelaki tua itu diketahui bernama Albert Hulton. Motif pembinuhan tersebut belum diketahui secara pasti, dugaan sementara dari kepolisian bahwa kasus ini merupakan pembunuhan berencana. Hingga berita ini ditulis pihak yang berwajib belum menemukan titik terang,..”.

Kevin terperanjat seketika, keringat dingin membasahi sekujur tubuhnya, lututnya gemetar ketakutan. ”Ada apa Kevin?” sebuah suara terdengar begitu dekat dengan telinganya, pemuda itu menoleh, dan sekali lagi dia terperanjat. Dengan membawa secangkir coklat panas, tampak Pak Alt menghampiri Kevin diruang tamu. ”Nak, ini cepat kau minum nanti keburu dingin,” katanya tanpa memperdulikan ekspresi Kevin. Sementara pemuda itu ternganga ketakutan. Diliriknya sekali lagi foto yang terpampang dikoran usang itu, tak salah lagi bahwa itu memang Pak Alt, tak salah lagi bahwa Pak Alt sebenarnya sudah meninggal, pikir Kevin dengan wajah pucat pasi.

Ada apa denganmu nak?” setelah meletakkan cangkir coklat itu diatas meja Pak Alt mendekati Kevin yang masih tak bergerak karena ketakutan. Meski sorot bola lampu tampak redup, terlihat jelas sesuatu dibagian bawah leher Pak Alt, sebuah bekas luka, bekas jahitan.

Kevin surut kebelakang, lidahnya seakan-akan kelu untuk berteriak, kakinya terlalu berat untuk melangkah. Sebelum akhirnya pemuda itu terlompat kebelakang. ”Setaan!!” suaranya nyaring memecah deru hujan, detik itu juga Kevin melesat kearah pintu dan tanpa menoleh lagi, dia berlari keluar dari rumah Pak Alt, menerobos guyuran hujan lebat, berlari sejadi-jadinya. Yang ada dipikirannya hanya berlari, berlari, dan berlari untuk menyelamatkan diri.

Dari sela-sela gemerisik air hujan, terdengar suara tawa dari rumah Albert Hulton ditengah pohon pinus itu, tawa jahat.

TAMAT

FRIGHT PAGES

Sebelumnya aku tidak pernah semua percaya itu, akibatnya akupun sering bertengkar dengan Peter soal itu, aku tidak tahu kenapa dia sangat meyakini keberadaan mereka. Namun seharusnya aku tahu apa yang diyakini Peter itu benar. Kali ini mereka benar-benar datang.

Oleh

RENDRA FATRISNA K

Kami melangkah menelusuri gang-gang gelap di belakang Mal. “Film tadi benar-benar konyol,” aku tersenyum setuju dengan komentar Dick. “Terus terang aku menyukainya,” ucap Peter. “Kita sudah dua belas tahun Peter, film tadi lebih cocok untuk anak umur delapan tahun” sahutku. “Itukan film fiksi ilmiah, Dave” Peter membela pendapatnya. “Cerita makhluk angkasa luar kau sebut fiksi ilmiah?” tanyaku memojokkan Peter. “Kau lebih tepat menyebutnya kisah fantasi” tambahku.

Hei Dave, aku ingin tahu berapa nilai fisikamu?” Peter mencoba membalasku. “Jangan sok ilmiah!” hardikku dengan kesal. Dick menghentikan langkahnya lalu menatap kami. “Kalian bertengkar cuma soal sepele, jangan seperti anak kecil!”. Apa yang dikatakan Dick benar “sori,” kataku kemudian.

Kami bertiga kembali berjalan, kaleng-kaleng bekas coca-cola berserakan di sepanjang lorong. Mataku menyapu hamparan bintang di langit yang berkelap-kelip menghiasi malam. Tiba-tiba secercah sinar berkelebat melesat ke balik gedung di hadapan kami. “Hei! apa itu?” kedua temanku terpaku sama sepertiku, mereka tampaknya juga melihat benda itu.

Benda itu menuju ke belakang bangunan didepan kita!” Peter berseru. “Ayo kita kesana!” Dick memberi komando, kami segera berhambur ke arah turunnya benda aneh itu.

Kami mengendap-endap ketika sampai di tempat yang akan kami tuju, melewati bangunan baru yang belum selesai itu. Dan dari balik palang-palang besi kami melihatnya.

Sebuah benda dengan bentuk yang hampir menyerupai mangkuk sup, berkilauan seperti logam dengan beberapa pintu di sisinya. Kami ternganga tak percaya dengan apa yang kami lihat.

Tuan sok ilmiah, kau tahu apa itu?” aku berpaling pada Peter. “Tampaknya sebuah piring terbang”, jawabnya, tapi kali ini aku tak mendebatnya karena aku tahu apa yang dikatakannya itu tidak salah. Tiba-tiba pintu benda itu terbuka dan beberapa sosok tubuh yang tak kalah anehnya melangkah keluar. Tubuhnya seperti seekor gorila sedangkan kepalanya lebih menyerupai kadal dengan ekornya yang menjulur hampir satu meter. “Bagaimana OX, semua rencana telah siap?” salah satu makhluk itu berbicara dengan rekannya yang lain menggunakan bahasa kami.

Ssst, ayo sembunyi jangan sampai mereka melihat kita”, bisik Dick, kami segera merunduk ke balik tumpukan semen. “Semua telah siap OZ, begitu perintah datang maka penyerangan akan segera dilakukan. Kawan-kawan kita telah siap di 34 sektor penting di Bumi”, jawab makhluk yang dipanggil OX itu. “Benar sistim pertahanan Bumi sangat lemah”, makhluk yang ketiga ikut berbicara.

Mereka akan menyerang bumi”, bisik Peter. “Tak kusangka, mereka benar-benar ada”, gumanku. “Jangan lagi panggil aku tuan sok ilmiah, Dave”, Peter berbisik didekat telingaku, mungkin dia puas karena merasa menang dariku. “Kalian diamlah! kalau sampai mereka melihat kita, maka habislah kita”, kata Dick dengan berbisik pula. “Kita harus melaporkan ini kepada pihak polisi, para makhluk aneh itu benar-benar akan menyerang bumi”, ucap Peter. “Aku tahu, dan kita masih mencari kesempatan untuk itu” jawab Dick, masih berbisik. Kami kembali mengintai para makhluk asing itu, mencari kesempatan untuk meninggalkan tempat itu.

Ada satu hal yang aku kuatirkan”, kata makhluk keempat “Pangeran ZYN belum juga kembali hingga kini”, tambahnya. “Kau benar OD, kemana sebenarnya Pangeran ZYN?” tanya OX kepada makhluk keempat yang dipanggil OD itu.

Seratus dua puluh jam yang lalu, Pangeran ZYN menyusup ke Bumi menjelma menjadi salah satu makhluk Bumi. Beliau ingin menyelidiki pola kehidupan makhluk bumi”, jawab OD. “Pangeran ZYN sungguh cerdas. Dengan mengetahui pola kehidupan makhluk Bumi, akan lebih mudah usaha kita menguasai mereka”, OX berguman setuju.

Kami masih bersembunyi di balik tumpukan semen itu mendengarkan percakapan mereka. “Sungguh mengerikan, salah satu dari mereka menyamar menjadi makhluk Bumi”, komentar Dick. “Kakiku mulai terasa kram”, rintih Peter, dia bergerak ke samping dan tanpa sengaja kakinya menggulingkan sebuah kaleng cat. Kami terperanjat kaget, begitu pula para makhluk asing itu.

Suara apa itu?” seru makhluk yang sebelumnya disebut OZ. “Kita tidak sendiri, ada yang mengintai kita!”, OD berpaling ke arah kami, diikuti ketiga temannya. Dan mereka melihat kami. “Tangkap para makhluk bumi itu!” makhluk yang ketiga memberi komando.

Cepat lari! mereka mau menangkap kita!” sebelum kami sempat melarikan diri, makhluk-makhluk aneh itu melesat ke arah kami, detik berikutnya keempat makhluk asing itu telah mengepung kami. “Kalian pasti mata-mata! kalian harus kami tangkap!” salah satu dari mereka berseru.

Berikutnya OZ dan OX menyambar Peter dan Dick dengan ekor mereka, dan langsung mencengkeram kedua temanku yang telah mereka buat tak berdaya itu. Aku diam terpaku dengan ketakutan. Saat OD maju kehadapanku, aku tahu, aku tak akan sanggup melawan mereka.

Tiba-tiba OD membungkuk lalu berlutut memberi hormat kepadaku, diikuti ketiga makhluk asing lainnya. “Syukurlah, akhirnya anda kembali pangeran ZYN”, aku terkejut dengan semua itu dan aku benar-benar tak tahu apa maksud perkataan makhluk itu.

Apa maksudmu?, kenapa kalian memanggilku seperti itu?” aku tergagap-gagap tak mengerti. “Ada apa dengan diri anda Pangeran ZYN?, kenapa ingatan anda bisa hilang?” tanya OX. “Mungkin ini adalah efek samping dari alat yang anda gunakan untuk berubah wujud menjadi manusia itu, Pangeran”, kata OD kepadaku. Aku masih diam membisu, tak percaya dengan semua itu.

Dengan gerakan yang secepat kilat, OD melemparkan sesuatu ke arahku. Aku tak sempat lagi menghindar, aku tersentak ke belakang. Perlahan aku merasakan sesuatu pada tubuhku, yang membuatku bergetar hebat. Selanjutnya secara perlahan-lahan aku mulai merasakan perubahan pada diriku, dan ternyata aku benar-benar berubah menyerupai mereka. Secara perlahan pula ingatanku mulai pulih kembali. Dan aku mulai ingat segalanya, bahwa aku ternyata memang salah satu dari mereka.

Sementara kedua makhluk bumi yang sebelumnya kupanggil Peter dan Dick itu menatapku, seakan-akan tak percaya dengan apa yang mereka lihat. Aku berpaling kepada para anak buahku lalu aku berseru lantang. ”Persiapkan segalanya, kita akan segera menyerang Bumi !!!.”

TAMAT

FRIGHT PAGES

Aku tidak mengerti, kenapa Kakek selalu melarangku untuk melihat isi gudang tua itu. Namun larangan Kakek itu justru membuatku semakin ingin tahu apa isi didalamnya. Dan aku selalu berusaha pula mencari kesempatan untuk menyelinap ke gudang itu. Ketika saat itu tiba…, mungkin benar perkataan Kakek. Aku sebaiknya tak perlu tahu apa isi didalam gudang itu.

Oleh

RENDRA FATRISNA K

Angin panas berhembus menerpa tubuhku, sementara matahari memancarkan sinarnya yang terik. Dari bawah sebatang pohon yang mulai kering, aku menatap hamparan padi yang sudah menguning. Aku sedang duduk termenung menikmati suasana awal musim panas di salah satu kota kecil di negara bagian. Di sinilah tempat tinggal Kakekku dan yang akan menjadi tempat tinggalku juga. Sudah hampir sepekan aku berada di kota kecil ini, Jauh dari Mal, dari gedung bioskop dan dari teman-temanku.

Setelah Ibu meninggal aku tak punya kerabat lagi di New Jersey, itulah sebabnya Kakek mengajakku tinggal di kota ini. Lagi pula Kakekku adalah satu-­satunya keluargaku yang masih hidup. Sementara Ayahku, aku bahkan tak pernah mengenalnya, kata Ibuku ayah meninggal saat aku masih berada dalam kandungan, Beliau meninggal disebabkan oleh suatu kecelakaan pesawat. Bahkan aku juga tak memiliki foto ayahku, kata Ibu beliau tidak suka dipotret, kadang-kadang aku juga membayangkan seperti apa wajah Ayahku.

Nick! Saat makan siang kau harus segera pulang!” seru Kakek dari kejauhan, aku tersadar dari lamunanku. “Aku akan pulang lebih dulu!” tambahnya kemudian “Baiklah nanti aku akan segera menyusul!” teriakku. Setelah Kakek beranjak untuk pulang, aku kembali duduk merenung di bawah pohon.

Mataku menyapu bentangan ladang didepanku dan dikejauhan tampaklah sebuah bangunan kayu yang kokoh di antara serumpun ilalang yang tumbuh hampir setinggi dada. “Nick, kau boleh berkeliling diseluruh pekarangan tapi ingat, jangan sekali-kali kau mendekati gudang tua di tepi ladang itu” aku teringat akan pesan Kakek, dia melarangku untuk mendekati gudang tua itu, ada apa disana? aku sering bertanya-tanya dalam hati dan aku selalu ingin mengetahui isi gudang itu.

Mungkin inilah kesempatanku, aku berkata dalam hati. Kakek telah pulang, kini tinggal aku sendiri disini, tak ada salahnya bila aku melihat kesana, putusku. Berikutnya aku sudah mulai melangkah menuju gudang tua itu dan aku baru menghentikan langkahku tepat saat aku berada di hadapan gudang tua itu. Sebuah bangunan kayu yang kokoh, meski usianya tampak tua dan kurang terawat tapi bangunan itu sama sekali tak terlihat rapuh.

Perlahan aku mencoba membuka pintu depan tapi gagal, pintunya terkunci seperti sudah bertahun-tahun tak pernah dibuka. Aku melangkah mundur, pandanganku mengamati setiap lekuk dari bangunan tua itu. Akhirnya aku menemukan apa yang kucari, sebuah celah di bawah lubang udara di dinding samping. Celah itu memang tidak besar tapi, cukup untuk memasukkanku ke dalam gudang. Sebelum mencobanya kuamati sekelilingku, setelah yakin tidak ada yang melihatku, aku menerobos masuk. Perlu waktu beberapa saat bagi mataku untuk membiasakan diri di dalam ruangan itu, hanya sedikit sinar matahari yang berhasil menyelinap masuk membuat suasana tampak samara-samar.

Roaar!!” raungan itu terdengar tepat di belakangku, jantungku seakan terlompat keluar. Aku terperanjat kaget, butiran keringat dingin mengucur dari keningku, aku berpaling perlahan ke arah asal suara. Apa yang kulihat berikutnya tidak akan pernah kulupakan dalam hidupku.

Sesosok mahkluk yang mengerikan tengah berdiri disana, tubuhnya yang bongkok dipenuhi bulu-bulu kaku, dia menatapku. Lalu dia menyeringai, taringnya yang tajam berkilat dalam cahaya remang. Lidahku terasa kelu, tubuhku kaku saking takutnya. “Siapa kau?” suaranya yang parau disemburkan kepadaku. Tenggorokanku tercekat, suaraku sulit untuk keluar, aku perlu waktu beberapa menit untuk menguasai diriku lagi.

A-aku Nick Forest, kumohon jangan sakiti aku” jawabku dengan tergagap­ gagap. Mahkluk itu tampak terkejut mendengarnya, sesaat kemudian dia mengamati diriku, memandangku dengan teliti kemudian dia berkata “Tahukah kau, siapa aku Nick?” dia menatap wajahku tajam “Siapa kau?” aku sungguh tak menyangka akan mendapat pertanyaan itu. Aku Ayahmu” serunya. Aku terpaku tak bergerak “T-tidak mungkin!” suaraku gemetar tak karuan “Percayalah Nick, aku adalah ayahmu” kata makhluk itu dengan nada lebih lembut “Tidak!! tidak mungkin!!” aku berteriak ketakutan.

TAMAT

Fright Pages